BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
TUKANG NGEGOMBAL



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


 Saat memasuki toko pandangan Rajev tertuju pada manekin yang menggunakan pakaian kembar ibu ayah dan anak. Dia sangat tertarik. Dipandangi wajah Aurel


“Kenapa? Mau beli?” tanya Aurel, seakan mengerti keinginan kekasihnya.


“Mbak Murti dan mas Yon, kita pisahan aja enggak apa-apa kalau kalian mau cari sesuatu, enggak usah nunggu kami. Nanti akan kami telepon bila sudah selesai,” Aurel mempersilakan Murti dan mas Yon berputar sendiri.


Aurel mencari batik yang diinginkan Rajev serta memperkirakan apakah pakaian anaknya cocok ukurannya dengan Aira dan Darrel. Rajev yang memilih model khususnya yang untuk Aurel. Aurel yang menentukan warna dan motif batiknya. Rajev tak ingin model yang membuat Aurel terlihat sexy dimata lelaki lain. Kalau soal posesive, Rajev lebih posesive dari Radit.


Selesai memilih beberapa baju sarimbit dengan anak-anak, Aurel juga membelikan baju batik untuk ibu mertuanya serta Bagas dan ayahnya.


***


Hari kedua, pagi-pagi sekali Aurel mengajak Murti dan Rajev makan soto batok yang bersebelahan dengan lesehan gudeg yang menyediakan jenang ( bubur ) sebagai teman makan gudeg, pengganti nasi.


Tempat jualan seperti banyak diseluruh Jogja. Bahkan digang-gang kecil. Semua terjamin kebersihannya sehingga siapa pun tak ragu makan ditempat.


“Kamu hafal Jogja,” Rajev mengomentari mengapa Aurel bisa memandu mereka.


“Kamu lupa kalau aku kuliah disini saat mengambil S2 ku? Saat itu aku sendirian, sehingga harus tahu tempat makan murah tapi enak,” jawab Aurel


“Mengapa tidak bersama Radit?” selidik Rajev.


“Saat itu kami break karena kasus penipuan yang dia alami. Aku sendirian. Bukankah kamu tahu aku kuliah disini?” tanya Aurel makin bingung. Karena seingatnya dulu mereka selalu berkomunikasi. Aurel ingat saat kuliah dulu Rajev lah yang menemaninya saat dia belajar malam, karena di Qatar sedang siang hari.


“Oh maaf, aku lupa” jawab Rajev.


“Apa semua hal tentangku tak penting sehingga kamu melupakan?” tanya Aurel mulai keqi.


“Ha ha ha, bukan itu. Saat ini didepanku ada bidadari, sehingga membuat otakku blank. Lupa segalanya,” jawab Rajev menggoda.


Tentu saja Rajev ingat Aurel kuliah S2 di Jogja. Bahkan dia beberapa kali mencari Aurel ketika dia ke Jogja tapi tak pernah ketemu. Rajev ingat semua hal tentang Aurel dengan rinci.


“Kamu bilang kamu enggak bisa memuji. Kamu enggak bisa merayu. Ternyata kamu pakarnya,” jawab Aurel.


“Kalau dalam bahasa Indonesia kamu tukang ngegombal,” jawab Aurel. Dia mengucapkan tukang ngegombal dengan bahasa Indonesia.


“What the meaning of tukang ngegombal?” tanya Rajev bingung.


“He he he,” kali ini gantian Aurel hanya menjawab dengan tertawa.


“Nambah enggak Mbak?” tanya Aurel pada mbak Murti mengalihkan pertanyaan Rajev.


“Sotonya cukup Bu, sekarang mau nyoba gudeg pakai bubur,” jawab mbak Murti. Dia sudah diberitahu mbak Wina tak perlu sungkan dengan bu Aurel.


“Hahaha, sama Mbak, saya sengaja tadi makan soto enggak pakai nasi dan kuah sedikit biar bisa makan gudeg. Dan pengen ngegerogotin kepala dan ceker ayam,” jawab Aurel tanpa malu.


“Ceker?” tanya Rajev bingung.


Murti dan Aurel hanya tertawa karena Rajev sering bingung dengan percakapan mereka, sebaliknya Murti juga lebih banyak tidak mengerti apa yang bossnya bicarakan dengan pak Rajev, karena mereka bicara dengan bahasa inggris.


“Give it a try, this is delicious.” Aurel menyodorkan ceker ke mulut Rajev agar dia mencobanya


“I often eat this, umma often cook too,” jawab Rajev, dan dia tetap menerima suapan Aurel.


“Really?” tanya Aurel tak percaya


Sehabis makan Aurel membalur tangan Rajev dengan potongan jeruk nipis agar tangannya tidak amis. Lalu dibilas dengan tissue basah dari tas nya. Rajev sangat terharu mendapat perlakuan Aurel.


***


Pagi ini jadwal Aurel kosong, dia menunggu hasil team lapangan, apa bisa memodifikasi sedikit untuk menyesuaikan bangunan dengan kondisi lapangan. Mau langsung ke pasar Beringharjo terlalu pagi, karena toko-toko bajunya buka jam sembilan atau jam sepuluh, yang  buka pagi hanya pasar sayurannya.


Oleh karena itu dia meminta mas Yon mengantar ke candi Prambanan. Sampai sana loket candi Prambanan pasti sudah dibuka.


Mbak Murti banyak membuat photo di candi ini, sementara Rajev lebih sering mencuri photo Aurel. Walau banyak juga photo mereka berdua menggunakan digicam Aurel.  Juga menggunakan ponsel  Rajev dan Aurel.


Cape mengitari candi Prambanan mereka ke pasar Beringharjo. Aurel membeli banyak oleh-oleh untuk semua orang di rumah ibu mertuanya, juga Wina, mbak Suzy dan Reza. Kembali banyak photo candid yang di buat Rajev.


Dari pasar Beringharjo mereka kembali ke hotel untuk menunggu team lapangan di lobby hotel nanti. Barang belanjaan sudah dibawa Rajev lebih dulu saat Aurel dan Murti menunggu jawaban panggilan telepon pada orang lapangan.


“Mbak, kalau team datang, kamu telepon saya ya. Kalau ditelpon dua kali saya enggak menjawab tolong kamu ketok kamar saya ya. Takutnya saya ketiduran,” pinta Aurel. Dia serius ngantuk karena semalam kurang tidur.


Jangan berpikir buruk dulu. Semalam Rajev dan Aurel menghabiskan malam dengan banyak bercerita tentang pribadi mereka, apa yang mereka tak suka. Apa yang mereka suka. Apa pantangan makanan dan banyak hal. Mereka bercerita dalam dekapan tapi tak berbuat hal yang melanggar agama.


Saat bercerita Aurel tiduran bersandar pada da-da bidang Rajev yang duduk bersandar di kepala kasur mereka. Akhirnya mereka tidur berpelukan sampai pagi dan melakukan salat subuh berjamaah pertama kalinya.


“Baik Bu” jawab Murti mengerti.


Aurel benar langsung tidur tanpa ganti baju apalagi mandi, dia hanya membuka sepatu lalu tidur telungkup sambil memeluk bantal yang dia gunakan sebagai guling.


***


Rajev baru kembali dari membeli sesuatu, satu lantai sebelum menuju kamarnya pintu lift terbuka dan Murti masuk sambil membawa berkas.


“Kamu hendak menemui Aurel?” tanya Rajev terbata dalam bahasa Indonesia karena dia tahu Murti tak terlalu pandai bahasa inggris seperti Suzy yang resepsionis atau Wina yang sekretaris.


“Iya Pak” jawab Murti.


“Sudah kamu telepon?” tanya Rajev lagi saat mereka keluar dari lift.


“Sudah, tapi Ibu tidak menjawab,” balas Murti. Padahal tadi Murti enggan menghampiri kamar Aurel karena menduga bosnya sedang bersama Rajev.


Rajev membuka pintu kamar dan melihat Aurel masih sama dengan posisinya saat dia tinggal. “Kamu masuk dulu lihat dia sebentar,” Rajev mempersilakan Murti masuk.


Murti melihat boss nya masih pakai baju tadi pagi, handphone dan dompet ada di dekat kepalanya dan sepatu dekat tempat tidur. Rupanya bossnya langsung tidur begitu masuk kamar.


“Saya minta waktu tiga puluh menit ya, nanti saya akan bangunkan dia. Sehabis salat dia akan turun,” pinta Rajev.


\===========================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL UNREQUITED LOVE  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta