BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
KUNJUNGAN TIBA-TIBA



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


Sudah satu minggu penanda tanganan MOU dengan Dennis Surya Pranata terjadi. Saat ini Wina melaporkan email yang baru dia terima dari kantor Dennis.


“Bu, lokasi pembangunan proyek dengan pak Dennis sudah siap ditinjau ulang. Barusan team pak Dennis mengirimkan email,” lapor Wina memecah keheningan ruang kerja mereka.


“Team kerja kita sudah fix belum Mbak? Saya koq belum lihat siapa aja yang akan di tugaskan ke Jogja kali ini?” tanya Aurel masih sambil membaca berkas yang sedang dia periksa.


“Team inti sudah terbentuk sejak sebelum MOU Bu, bendahara, kepala proyek, kepala pengadaan barang dan kepala pekerja di atas mandor sudah tersusun dari team pak Abdullah Bu. Malah kepala pekerja sudah berangkat sejak tiga hari lalu karena kan dia harus cari tenaga kerja harian lokal untuk mengerjakan bangunan tersebut,” Wina merinci jawaban yang ingin diketahui Aurel.


“Apa saya kurang konsen ya sampai tidak tahu detil pekerja team pak Abdullah?” tanya Aurel bingung “Kalau begitu siapa yang akan berangkat cek lokasi nantinya?”


“Kalau biasanya team proyek langsung dengan pak Radit Bu, karena kan biasanya akan ada sedikit perubahan tergantung kontur tanah. Nah nanti arahan pak Radit di lapangan yang akan menentukannya,” jelas Wina.


Memang Aurel belum pernah menangani satu proyek dari awal sejak kematian Radit satu tahun lalu. Proyek yang saat ini berjalan semua terjadi saat masih ada Radit. Atau terusan proyek yang lama sehingga dia belum pernah cek lapangan diawal pengerjaan.


“Kalau begitu minta mas Reza berangkat aja, dia pasti mampu memutuskan,” jawab Aurel yakin.


“Pak Reza mulai minggu depan cuti tahunan Bu, istrinya hendak melahirkan anak pertama, sehingga pak Reza akan standby di rumah,” jawab Wina pelan. Dia takut bos nya marah.


“Gitu ya. Oke, itu kira-kira akan berangkat kapan?” tanya Aurel. Aurel yakin dia harus turun sendiri karena keadaan memaksanya begitu.


“10 sampai 14 hari sejak saat ini Bu,” jawab Wina.


“Ok, saya yang berangkat dengan mbak Murti aja. Kamu standby di kantor karena mas Reza enggak ada,” maka Aurel pun terpaksa pasang badan untuk berangkat meninjau lokasi di Jogja.


Aurel lebih suka ditemani mbak Murti yang satpam dari pada staff kantor. Karena mbak Murni tidak suka ngerumpi atau jaim, se type dengannya. Dan bila terjadi sesuatu dia  tidak perlu melindungi mbak Murti. Kalau dia membawa staff perempuan lainnya bisa-bisa dia harus jadi baby sitter di lapangan nan keras nantinya.


***


‘Kamu pulang jam berapa love?’ tanya Rajev dalam chatnya siang ini.


‘Seperti biasa, jam tiga sore dari kantor,’ jawab Aurel, dia memang berupaya sore bisa bercengkerama dengan kedua buah hatinya


Tok tok tok


“Masuk,” jawab Aurel, dia masih sibuk memeriksa berkas team yang akan berangkat ke Jogja.


“Mbak Wina panggilkan mbak Murti dong. Saya enggak enak mau panggil via intercom,” perintah Aurel saat bersamaan pintu ruangannya terbuka.


“Mamaaaaaaaaaaaaaaaa,” pekik Aira.


“Chantiknya Mamaaaaaaa,” Aurel kaget Aira datang ke kantornya “Sayang kamu kesini sama siapa?” Aurel penasaran.


“Sama dede Darrel,” jawab Aira santai, pintu masih terbuka dan Darrel berjalan menggemaskan kedalam ruang kerja Aurel.


“Ya ampuuuuuuuun sayangnya Mama,” Aurel menghampiri Darrel dan menggendongnya lalu menciumi pipi gembul anak lelakinya.


“Siapa yang antar kalian?” tanya Aurel penasaran. Wina sedang merapikan filenya karena dia akan ke bawah mencari mbak Murti.


“Uppa!” jawab Aira tanpa ragu. Gadis kecil itu sangat kenes menjawab pertanyaan mamanya.


“Assalamu’alaykum Love,” sapa Rajev penuh senyum saat memperlihatkan dirinya yang sejak tadi sembunyi dibalik pintu.


“Wa’alaykum salam,” jawab Aurel dan Wina bersamaan.


Sedang Wina kaget karena lelaki tampan yang masuk ruangan ini datang bersama dua anak pak Radit, dan anak-anaknya menyebut uppa. Dan pria itu menyebut Aurel dengan panggilan sayang ‘love’.


Wina sudah beberapa kali melihat pria ini. Saat ulang tahun Darrel, lalu saat meninggalnya Radit hingga diacara ulang tahun Aira. Namun tidak menyangka ternyata lelaki tersebut akan menggantikan posisi pak Radit dihati bu Aurel.


Rajev menghampiri Aurel yang sudah menggendong Darrel, didekapnya perempuan yang sangat dia rindukan dan dikecup keningnya. “Miss you so much Love,” bisiknya.


Aurel segera sadar diri diruangan itu ada mbak Wina. “Mbak Wina, kenalkan ini pak Rajev,” Aurel sedikit malu. Seperti gadis yang baru ketahuan punya seorang teman dekat.


“Hi, nice to meet you,” sapa Rajev sambil mengambil alih Darrel.


“Selamat datang Tuan,” sapa Wina “Kak Aira mau minum apa?”


“Enggak usah mbak Wina. Biar saya pulang agak cepatlah, saya enggak tau mereka datang. Saya nunggu mbak Murti ya, kamu cari dia dulu karena ada banyak yang akan saya bicarakan dengan dia sebelum dia berangkat. Dan besok kamu juga harus lapor ke HRD untuk surat tugas mbak Murti menemani saya,” perintah Aurel.


“Kakak sudah maem siang kan? Lalu Uppa janjikan Kakak mau kemana?” tanya Aurel. Dia tahu, tak mungkin Rajev membawa kedua anakknya bila tak ingin membawa mereka main.


“Uppa ajak Kakak makan ice cream dengan Mama,” jawab Aira senang.


“Ok, Mama selesaikan kerjaan Mama dulu lalu kita beli ice cream ya sayang. Ini kertas dan kamu bisa menggambar dulu ambil menunggu Mama kerja,” Aurel memberikan kertas dan spidol kecil pada putri sulungnya.


“Kapan datang Kak? Kenapa enggak kasih tau aku?” protes Aurel sambil kembali ke meja kerjanya.


Rajev mendatangi Aurel, dia berdiri disisi kursi Aurel dan mendudukan Darrel dimeja kerja Aurel, serta memberikan mobilan yang dia bawa dari rumah.


“Kalau aku kasih tau kamu namanya bukan surprise kan?” jawab Rajev, dan dia lalu mencuri ciuman di pipi Aurel, membuat Aurel berpaling memandangnya. Rajev bergerak cepat dia kembali mencuri, kali ini kecupan selintas di bibir Aurel.


“Kak, ada anak-anak,” Aurel memperingatkan Rajev.


“Kalau enggak ada anak-anak boleh ya,” pinta Rajev, yang di jawab Aurel dengan cubitan di perut Rajev.


“Sakit Love, kamu koq malah nyakitin aku sih,” bisik Rajev, sambil kembali mencium pipi Aurel.


“Sekarang kamu duduk di sofa dengan Aira agar aku segera menyelesaikan kerjaanku,” pinta Aurel. Kedatangan Rajev membuat dirinya tak bisa konsentrasi lagi.


Belum sempat Rajev mengangkat Darrel pintu sudah di ketuk. “Masuk,” perintah Aurel.


“Ibu memanggil saya?” tanya mbak Murti.


“Iya Mbak, silakan duduk. Dede Darrel pindah dulu, Mama mau bicara dengan mbak Murti ya,” secara tidak langsung Aurel meminta Rajev mengangkat Darrel yang sibuk menjalankan mobilannya diatas meja kerja mamanya.


\==================================================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN BERJUDUL TELL LAURA I LOVE HER  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta