BETWEEN QATAR AND JOGJA

BETWEEN QATAR AND JOGJA
BILA DIA MENCARI PAPAPNYA, MOHON HUBUNGI AKU



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA


\~\~\~\~\~


 “Mengapa kamu ganggu obrolan kami Kak?” sesal Aurel. Dia merasa cocok dengan ibunya Rajev. Seakan dia mempunyai ibu baru selain bu Tarida.


“Kamu curang, ngobrol dengan Um’ma bisa lama, sedang kalau bicara denganku malas,” keluh Rajev.


“He he he,” Aurel hanya membalasnya dengan tertawa kecil. Hilang sudah keraguannya memulai hubungan dengan Rajev. Selama ini dia tidak berani membuka hati untuk Rajev karena dia malas bila harus tersandung ketidak setujuan pihak keluarga Rajev mengingat dia adalah janda anak dua. Sekarang batu sandungan sudah hilang. Dia akan membuka hati seutuhnya untuk Rajev.


“Kamu kapan pulang dari India? Langsung ke Jakarta atau kembali ke Qatar lebih dulu?” tanya Aurel.


“Lusa aku kembali ke Qatar, menyerahkan surat-suratku. Mungkin seminggu sesudahnya aku akan ke Indonesia. Kantor belum memberi lampu hijau aku berkantor di Jakarta. Kantor pusat memintaku stay di Bontang atau Cilacap,” jelas Rajev.


“Kak, apa enggak sebaiknya Kakak resign saja bila ditempatkan di Bontang atau di Cilacap?” tanya Aurel.


“Hey, jangan kuatir seperti itu love. Aku akan berupaya untuk bisa stay di Jakarta. Bagaimana pekerjaanmu hari ini. Apa pertemuanmu dengan kawan lamamu berhasil dengan baik?” Rajev mengalihkan persoalan agar Aurel tidak terlalu khawatir.


“Alhamdulillah pertemuan pertama tadi berhasil baik. Kalau tak ada perubahan lusa kami menandatangani MOU untuk kerja sama Kak,” jawab Aurel, sekarang dia sudah mau berbagi cerita.


“Apa Aira dan Darrel tidak rewel? Aku merindukan mereka,” Rajev menanyakan kedua buah hati Aurel.


“Mereka sehat dan baik. Aira tadi jatuh dan lututnya tergores membuatnya menangis. Dan yang membuat kami sedih dia menangis memanggil papapnya. Sudah hampir satu tahun Radit meninggal dan baru sore tadi dia terisak mencari Radit,” keluh Aurel.


Sesungguhnya dia tak ingin mengeluh. Tapi karena terpancing pertanyaan Rajev tentang anak-anak dia akhirnya bercerita tentang Aira.


“Bisa aku minta sesuatu padamu?” Rajev bertanya serius.


“Apa?” Aurel balik bertanya. Dia tak mau terjebak.


“Jawab dulu, aku boleh make request enggak?” Rajev malah berteka teki.


“Aku coba perbolehkan bila aku sanggup,” balas Aurel, dia takut Rajev meminta suatu hal yang dia tak sanggup memberikannya.


“Bila dia mencari papapnya, mohon hubungi aku. Aku akan membujuknya seperti yang biasa Radit lakukan untuknya,” balas Rajev membuat Aurel terisak.


“Honey … love, stop jangan menangis. Aku jauh darimu. Aku tak bisa memelukmu. Please sayang berhenti menangis ya cintaku,” bujuk Rajev lembut. Rajev putus asa mendengar isakan kekasihnya di seberang benua sana.


Lama Aurel terisak, sampai dia tersadar sejak tadi pulsa Rajev terpotong banyak hanya untuk menunggunya berhenti menangis, “Aku tidur ya Kak. Selamat malam,” Aurel memutus hubungan teleponnya.


Lalu didengarnya notifikasi chat BBM di HP nya, chat dari Rajev. ‘Selamat malam my sweet heart, mimpi indah ya. I love you so much.’


***


Malam ini, karena Aira sedang rewel, Aurel meminta mbak Nah menidurkan Aira di kamarnya. Aurel hafal, anaknya bila siang nangis tak henti biasanya malam akan terbawa mimpi dan kembali menangis tengah malam.


Rasanya Aurel belum lama terlelap ketika mendengar Aira terisak sambil memberontak. “Nda mau … nda mau,” isak Aira sambil meronta seakan sedang dibujuk untuk diam.


“Papaaaaaaaaaaaaap …,” Aira menjerit dan membuat Aurel terkejut lalu duduk sambil berupaya memeluk putrinya. Namun Aira menangis semakin keras.


“Bila dia mencari papapnya, mohon hubungi aku. Aku akan membujuknya seperti yang biasa Radit lakukan untuknya.”  Aurel teringat pesan Rajev tadi. Dia mengambil hand phonenya yang dia letakan di meja sebelah tempat tidurnya. Dia langsung menghubungi nomor Rajev.


“Yes love,” sapa Rajev yang kaget tengah malam waktu Indonesia,  Aurel menghubunginya, dia juga mendengar tangis Aira.


“Aira menangis, kembali mencari papapnya,” keluh Aurel, dia menelpon Rajev sambil memangku Aira. Aurel duduk di tempat tidur, karena takut bila menggendong Aira, lalu Aira berontak malah mereka bisa jatuh bersama.


“Berikan ponselmu ditelinganya, biar aku bicara dengannya,” pinta Rajev.


“Cantiknya Mama, ini om Rajev ingin bicara, kamu diam ya,” Aurel berkata pada Aira tapi gadis kecil itu tetap saja menangis. Namun Aurel tetap meletakkan ponsel ditelinga Aira.


Tak lama Aira meminta memegang sendiri ponselnya dan gadis kecil itu mendengarkan Rajev bicara sambil tiduran, turun dari pangkuan Aurel.


Aurel melihat Aira menggeleng dan kadang mengangguk tapi gadis kecil itu secara perlahan berhenti menangis. Lama-lama dia terpejam walau ponsel masih berada di telinganya. Aurel mendekatkan telinganya ke ponsel yang masih di pegang Aira, lamat-lamat dia mendengar Rajev sedang bershalawat


***


RAJEV POV


Siang tadi sehabis belanja Um’ma bilang dia ingin kenal dengan Aurel, dia ingin bisa bicara dengan gadisku. Aku tidak tau apa tanggapan Aurel nanti. Yang aku tahu kedua orang tuaku dan kakak serta kakak iparku sudah setuju aku mengikat hubungan dengan Aurel, janda beranak dua asal Indonesia itu. Malah kalau bisa aku langsung menikah begitu aku sampai di Indonesia, tapi aku katakan Aurel belum membuka hati karena masih teringat almarhum suaminya.Aku ceritakan Aurel tak pernah mau chat denganku setelah dia menikah, karena dia menghormati kesucian pernikahannya, bahkan seingatku, Radit pernah cerita, Aurel tak mau bertemu berdua dengan kliennya, harus ada teman agar tak timbul fitnah. Sangat jauh berbeda dengan mantan istriku yang malah senang bila tak ada suaminya. Ainayya senang bertemu lelaki lain dibelakangku.


“Aku usahakan saat malam di sana ya Ma, aku akan hubungi dia setelah di sampai di rumah dan sudah istirahat,” janjiku pada um’ma. Kemarin semua keluargaku sudah melihat photo sosok Aurel serta calon anak-anakku serta photo Radit bersamaku dan bersama keluarga lainnya saat ulang tahun Darrel sembilan bulan lalu.


***


Akhirnya tadi aku berhasil menghubungi Aurel dan mengatakan um’ma ingin berkenalan dengannya. Awalnya dia seperti takut dan ragu menerima permintaan ibuku. Namun saat ini sudah 42 menit mereka ngobrol tak ada tanda-tanda akan berhenti. Aku pun protes pada um’ma, barulah di menit ke 50 um’ma mengembalikan ponselku.


“Hello love” sapaku saat menerima ponsel dari um’ma.


“Mengapa kamu ganggu obrolan kami Kak?” ada nada protes dari  Aurel. Entah mengapa sejak kemarin dia menyebutku dengan Kak atau Kakak. Mungkin dia merasa tidak sopan langsung menyebut namaku. Ini langkah maju. Dan aku sangat menyukai perubahan ini.


Dulu sebelum dia menikah, bahkan saat dia sudah menikah dengan Radit, dia tak menyebutnya dengan awalan Kak. Bukankah itu tandanya sekarang dia menganggapku bukan sekedar teman seperti dulu? Aku tahu dia memanggil Radit dengan panggilan Abang.


\======================================================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta