
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Bawa ke rumah sakit Sehat Bugar, kami menunggu disana,” jawab kakek pada polisi yang menghubunginya.
“Wa’alaykum salam Kak. Abang Darrel terluka, kami sedang kesana. Aku bersama kakek dan ayah,” Bagas memberitahu Vino yang memang sejak malam stanby disana.
“Baik aku tunggu di lobby,” sahut Vino yang sedang sarapan.
Bagas menghubungi Rajev. “Apa kak Aurel sudah bangun?”
“Belum,” jawab Rajev. Dia sedang memberitahu agar Aira tidak sekolah hari ini. Dia masih takut ada ancaman kagi.
“Kak. Abang Darrel terluka, dia dibawa ke rumah sakit Sehat Bugar tempat ibu dan mbak Nah. Binsar mati ditempat,” Bagas melaporkan kalau Darrel sudah ketemu.
“Bagaimana kondisi Darrel?” tanya Rajev.
“Kami belum bertemu, nanti setiba di rumah sakit kami beritahu. Polisi bilang Binsar ingin membunuh Darrel makanya dede terluka,” sahut Bagas.
“Kabari dulu kondisi Darrel. Akau tak berani memberi tahu Aurel bila belum pasti. Aku takut Aurel tambah terguncang,” balas Rajev cemas.
“Iya Kak, saya tutup dulu ya. Nanti saya khabari bila sudah melihat langsung kondisi Darrel.” Bagas menutup pembicaraan.
Baru saja telepon Bagas ditutup, masuk telepon dari Ahisma ke ponsel Rajev, ummanya Rajev. “Bagaimana kondisi disana? Aurel dan Darrel?” tanya perempuan itu cemas.
“Darrel ditemukan terluka. Dia memang ingin dibunuh oleh pelaku. Pelaku langsung ditembak mati ditempat,” cerita Rajev.
“Sedang Aurel semalam dokter menyuntiknya agar dia bisa tidur. Jiwanya tergoncang. Nanti kalau kejelasan khabar Darrel aku terima maka ketika Aurel bangun aku akan bawa dia ke rumah sakit Umma,” lanjut Rajev.
Chander Kumar yang mendengarkan percakapan putranya dengan istrinya tercinta langsung memesan tiket berangkat ke Indonesia siang ini. Dia akan memberi support pada putra serta menantunya. Bagaimana dia bisa diam di India mengetahui cucunya menjadi sasaran pembunuhan?
“Kamu bersiap sekarang. Aku sudah pesan tiket untuk berangkat ke Jakarta,” ucap Chander.
Chander menghubungi Vijay dan Amishaa untuk mengabari tentang khabar adik ipar serta keponakan mereka. Walau satu rumah, tapi Chader malas ke lantai tiga. Dia harus bersiap merubah jadwal kerjanya. Maka Amishaa dia hubungi lewat telepon saja.
Amishaa mendengar khabar duka itu cukup kaget. Andai dia mudah kabur, ingin rasanya ikut kedua orang tuanya. Pekerjaannya, juga pekerjaan suaminya tentu tak mudah untuk keduanya pergi. Terlebih kedua putra mereka masih kecil. Tak enak membawa keduanya saat sedang menghadapi masalah Aurel dan Darrel.
Amishaa segera turun. Dia ingin bicara langsung dengan uppa dan umma nya.
***
Wina dan Murti tiba hampir bersamaan di istana Aurel. Mereka baru mendengar kisah lengkap dari bik Eneng dan pak Engkus tentang kronologi kejadian semalam.
“Jadi mbak Nah terluka karena menjaga Darrel dibawa penculik?” tanya Wina memastikan.
“Iya, Nah mau rebut Darrel, tapi dia disabet celurit dan tangan kirinya luka cukup panjang,” sahut bik Eneng sambil mempersilakan Wina dan Murti minum teh.
“Tadi kakek pesan yang datang suruh sarapan Neng. Ayuk langsung ke dalam aja. Jam segini udah pada sampe sini, bo’ong aja kalau pada bilang udah sarapan,” bik Eneng menyuruh kedua tamunya sarapan.
“Pak Rajev dimana Bik?” tanya Murti tanpa mengindahkan tawaran makan.
“Di kamar nemani mbak Aurel. Mbak Aurel kan disuntik dokter biar tenang,” sahut bik Eneng.
\===============================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : LADY MERMAD, DENGAN JUDUL NOVEL ONE NIGHT STAND IN DUBAI YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta