
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Honey, kopinya cepat habiskan,” Aurel meminta Rajev segera meminum kopinya karena mereka bersiap berangkat menjemput Aira sekolah. Aurel telah memberi tahu mbak Nah.
Baju kotor kemarin telah Rajev keluarkan semua. Tadi pagi Aurel mengeluarkan semua barang bawaan mereka dan memilah yang mana yang mau dikirim ke Tirur, yang mana yang mau buat ayah, kakek juga buat orang dirumah ibu Tarida serta teman-teman kantor Aurel dan Rajev.
“Love, apa barang yang dari Doha sudah sampai?” tanya Rajev.
“Tadi mbak Nah bilang barang sudah sampai kemarin sore,” sahut Aurel sambil mencuci bekas makan mereka. Walau ada tenaga yang datang untuk bersih-bersih dan mencuci, tetap Aurel mengerjakan yang bisa dia kerjakan.
“Baik, terima kasih. Ini Tristan bertanya. Jadi aku bisa menjawab dengan akurat,” Rajev memberitahu alasan dia bertanya soal barang milik mereka yang Tristan kirimkan.
“Barang untuk Tirur dan juga untuk semua orang jadi bisa sekalian kita bagi karena barang dari Doha sudah sampai. Kan oleh-oleh ada yang dari Doha ada yang dari Mekah,” Aurel juga senang karena bisa sekalian membagi oleh-oleh.
***
“Um’maaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa … Uppaaaaaaaaaaaaaa …,” Aira berteriak bahagia melihat kedua orang tuanya menjemput dirinya hari ini. Dia berlari untuk menghampiri pasangan itu.
Rajev takut putrinya jatuh, dia berdiri dengan lututnya untuk menerima pelukan kekasih kecilnya. Dia peluk, lalu berdiri dan dia memutar tubuhnya sehingga otomatis Aira juga ikut terputar.
“Miss you so much my litte girl,” Rajev menciumi pipi, mata, kening dan hidung Aira tanpa jeda. Dia memang merindu gadis kecil yang biasanya tiap hari dia antar ke sekolah.
“Bharthave, apa kamu akan memonopoli gadis kecil kita hanya untukmu?” Aurel bersidekap, melipat kedua tangannya didada.
“Ha ha ha, sorry Bharrya, sorry. Uppa sangat merindunya,” jawab Rajev.
“Jadi yang merindukan dia hanya Uppa? Um’ma tidak?” balas Aurel lalu mengambil Aira dari gendongan Rajev dan dia pun menciumi wajah gadis kecil miliknya.
“Miss you Um’ma. Really miss you,” bisik Aira.
“Um’ma juga kangen kamu banget sayang,” peluk Aurel.
“Ayok, kita bukan pakai mobil sendiri. Enggak enak ama drivernya bila kita kelamaan disini,” Rajev mengingatkan kalau mereka menggunakan taksi online karena membawa banyak barang. Tak mungkin ganti taksi di sekolah Aira dan harus menurunkan barang terlebih dahulu. Kedua mobil mereka ada di rumah bu Tarida.
Darrel pun memberi reaksi yang sama ketika melihat orang tuanya datang. Lelaki gembil itu tak mau turun dari gendongan Rajev sehingga Aurel hanya bisa mencium tanpa bisa menggendongnya. Dia memeluk Darrel sekalian memeluk Rajev.
Makan siang hari ini sangat heboh. Aira dan Darrel tak mau berhenti berceloteh. Sehabis makan Aurel langsung masuk ke kamar tamu karena disana lah semua barang dari Doha dan yang tadi dia bawa dari Mekah diletakkan.
Bu Tarida hanya tertawa melihat kedua cucunya temu kangen dengan Aurel dan Rajev. Kesehatan bu Tarida semakin baik. Dia berharap bisa segera bekerja lagi untuk menghilangkan rasa sepi dan jenuh di rumah saja.
“Mbak Nah dan mbak Yuni ambil tas besar-besar juga spidol besar lalu bantu saya,” Aurel menepi. Dia biarkan Rajev bercengkerama dengan kedua anak mereka dan dia akan membereskan barang oleh-oleh.
“Eh, ambilkan buku notes kecil jadi nanti setiap nama di tulis di kertas biar tidak bingung,” Aurel meminta mbak Yuni mengambil buku notes. Lalu Aurel menulis semua nama dalam tiap lembar berbeda dengan huruf kapital.
“Mbak Yuni buka satu kardus itu”, pinta Aurel
“Mbak Nah ini setiap nama taruh dengan jeda, jangan nempel-nempel biar barang enggak ketukar,” sekarang Aurel memerintah mbak Nah.
“Mbak Yuni keluarkan satu persatu, kasih mbak Nah. Dan mbak Nah langsung taruh barang yang diterima sesuai nama yang saya sebut ya,” Aurel berbagi tugas.
“Mang Asep.”
“Ibu.”
“Bagas.”
“Herman ( sekretaris Rajev ).”
“Mbak Nah.”
“Mbak Nah.”
“Ibu.”
“Kakek.”
Begitu seterusnya Aurel menyebutkan nama penerima. Mbak Yuni mengeluarkan dari semua kardus dan mbak Nah yang menumpuk sesuai nama penerima.
“Rampung juga. Sekarang nama yang di kertas tempel di luar tas Mbak Yuni. Lalu tasnya diikat atau di rapatkan dengan lakban atau isolasi biar tidak terburai. Yang punya orang di rumah ini bagikan langsung saja kecuali punya ibu.” Aurel meminta kedua pegawainya merapatkan masing-masing tas agar tak ada yang tercecer lalu salah masukkan ke tas milik orang lain.
“Yang punya anak-anak dan yang punya keluarga pak Rajev di India taruh mobil pak Rajev saja ya. Biar saya packing di apartemen lalu saya kirim ke India.” Aurel minta barang anak-anak dimasukkan di mobil. Biar dia gunakan di apartemen nanti.
“Terima kasih Bu oleh-olehnya,” mbak Yuni terharu mendapat banyak oleh-oleh dari majikannya.
“Iya Bu. Terima kasih. Banyak banget yang Ibu berikan buat kami semua,” mbak Nah juga sangat terharu. Karena semua dapat oleh-oleh dan tiap orang tidak hanya dapat satu barang.
“Sama-sama. Saya bisa pergi lama dengan tenang, kan karena kalian menjaga anak-anak dengan baik. Kalau kalian enggak bekerja baik, mana bisa saya liburan dan ibadah dengan tenang?” Aurel memaparkan betapa mereka sangat berjasa menjaga anak-anaknya.
Mbak Nah dan mbak Yuni langsung membagikan oleh-oleh pada semua pekerja. Sisanya mereka taruh di mobil Rajev termasuk milik orang kantor Aurel dan orang toko kue.
“Ibu, sore ini anak-anak akan kami bawa menginap di apartemen ya. Nanti Aira langsung berangkat sekolah hari Senin pagi dan kami mengantar Darrel sehabis dari sekolah Aira,” Aurel memberitahu bu Tarida sehabis dia membarikan oleh-oleh untuk ibu mertuanya itu.
Tadi Aurel sudah meminta mbak Nah membawakan perlengkapan sekolah Aira untuk hari Senin. Seragam, sepatu dan tas.
“Umma dan Uppa akan pergi belanja. Kalian mau ikut?” tanya Aurel.
“Kakak ikut,” sahut Aira.
“Kakak boleh ikut setelah peluk dan kiss Um’ma,” sahut Aurel. Dia ingin memancing Darrel yang sekarang sulit memeluk dan menciumnya. Rajev yang mengerti maksud istrinya tak akan mau membela Darrel kali ini.
“Uppa akan memasukkan barang-barang ke mobil ya,” Rajev keluar dan bersiap mengambil barang-barang yang akan mereka bawa.
“Abang Darrel enggak boleh ikut Uppa dan Umma kalau tidak hug dan kiss Umma ya,” bisik Rajev pada sang putra saat mengambil barang.
Tentu saja Darrel cemberut mendengar bisikan Rajev. Aira dan Aurel sedang bersiap di kamar Aira.
“Jangan pakai rok Kak. Kamu mau main di timezonee kan?” tanya Aurel. Tentu tidak baik menggunakan rok bila Aira akan naik-naik atau melompat ketika nanti di timezonee.
\==========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK TEMAN YANKTIE YANG BERNAMA : NITA P, DENGAN JUDUL NOVEL DADDY IS MY HUSBAND YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta