
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
\====================================================================================
Akhirnya Aurel dan ibu Radit terlibat obrolan yang mengasyikan tentang kue, baik bentuk, rasa, pemasaran dan hal lainnya. Mereka mengacuhkan keberadaan Radit.
“Lain kali kita janjian bikin kue ya Rel?” pinta ibu Radit saat Aurel pamit pulang, dia membawakan Aurel sekotak kue yang dia pilih kan untuk di coba Aurel dan meminta pendapatnya tentang rasa, tekstur serta penampilan kue tersebut.
“Kenapa Kakak ngajak ke toko ibu sih Kak. ‘Kan aku malu Kakak bilang aku bisa bikin kue,” Aurel menyatakan pendapatnya saat di mobil menuju rumahnya.
Hari ini memang Radit tidak mengendarai motor karena pagi saat akan menjemput Aurel sudah gerimis “Sekarang liat ini, ibumu minta pendapatku tentang kue-kue nya, ‘kan aku jadi enggak enak.”
Radit menepikan mobil nya, dipegangnya jemari Aurel dan ditatap nya wajah lembut gadis yang sudah dua bulan ini dekat dengannya. “Rel, aku kenalin kamu ke ibu karena aku mau ibu tau kalau aku punya pacar, aku serius sayang ama kamu Rel, mau ya jadi pacar ku?” ucapnya.
‘Mengapa kak Radit menanyakan aku mau enggak jadi pacar nya? Apa selama ini sikapku belum dia mengerti kalau aku sayang ama dia?’ pikir Aurel.
Aurel membalas pandangan mata pria di depannya dengan lembut. Karena tangan kanannya berada digenggaman tangan Radit, maka dia mengusap wajah Radit dengan tangan kirinya
“Kakak minggu depan ujian skripsi kan? Kakak konsen sidang dulu aja ya, habis kakak ujian aku kan jawab pertanyaan kakak tadi,” janji Aurel kala itu.
FLASH BACK OFF
“Oh my God, Aurel, cantik bangeeeet sih karya mu,” puji Tarida. Dia kagum dengan hasil kreasi Aurel.
Radit yang baru masuk ke dapur juga kagum atas karya kekasihnya, karena selama ini dia tak pernah lihat bentuk kue yang dibuat Aurel, dia hanya melihat kotak kue saja.
***
Semester genap sudah memasuki bulan ke dua. Hari ini Radit akan ujian skripsi. Mundur dua minggu dari jadwal yang seharusnya karena dosen pembimbingnya sakit. Aurel dan Mirna serta Vino sejak pagi sudah menemani Radit, sebelum pemuda itu masuk ruang ujian.
Seminggu lalu Radit menyampaikan perasaan cintanya pada Aurel, namun Aurel sengaja tak langsung menjawabnya. Aurel pikir Radit tak perlu jawaban verbal karena semua tahu bagaimana attensi yang Aurel berikan pada Radit.
“Wish me luck,” pinta Radit saat akan masuk ruang ujian. Vino menjabat tangannya erat dan memeluk sebelah bahu sahabatnya sejak kecil itu. Di lanjut dengan pelukan erat dari Mirna.
Aurel ragu saat ingin menjabat tangan Radit untuk memberi semangat. Namun didahului Radit memeluknya dan membisikan kata lembut “Doain Abang ya Dek.”
Aurel yang kaget akan perlakuan Radit segera tersadar, lalu membalas pelukan Radit dan balas berbisik “Good luck Bang!”
Kalau udah pakai panggilan sayang dan special “abang” dan “adek” masa Radit masih perlu jawaban verbal sih? Sejak itu Aurel memanggil Radit dengan sebutan Abang, bukan kakak lagi.
***
Minggu berikutnya Aurel kembali main ke toko kue Mirasa.
“Rel, kita bikin kebaya kembaran yok buat acara wisuda Abang. Kita bikin kejutan buat dia,” bisik bu Tarida.
“Gimana bisa bikin kejutan Tante, lha dia bilang wajib antar kemana pun aku pergi,” bisik Aurel memberi tahu ke posesive an anaknya.
“Bang, besok bisa bawakan kue ini ke bangsal anak kan? Ibu pengen bikin kejutan ulang tahun Vero di sana,” pinta bu Tarida pada anaknya.
“Jam berapa?” tanya Radit, dia takut bila mengganggu jadwalnya menjemput Aurel.
“Kamu besok selesai kuliah jam berapa Rel?” tanya bu Tarida.
“Besok kan Sabtu, aku libur,” jawab Aurel tanpa beban
“Kamu temani aku antar kue ya Dek,” pinta Radit.
“Malas Bang, aku pengen di rumah aja,” balas Aurel.
“Sebentar aja,” bujuk Radit.
“Malas Bang, aku pengen puas-puasin tidur,” tolak Aurel.
Radit pun tak bisa memaksa bila Aurel sudah bilang tidak. Yang disukai Radit, Aurel tidak pernah bersikap pura-pura manis walau di depan ibunya sekali pun. Andai Radit tahu, Aurel sudah janjian dengan ibunya untuk ke butik langganan guna membuat baju kembaran.
***
“Kamu bener pasti datang kan besok? Kamu dijemput Mirna ya?” pinta Radit siaang ini.
“Aku datang sendiri aja Bang, enggak usah ngerepotin kak Mirna, dia kan ikut paduan suara,” tolak Aurel.
“Kalau begitu sama Vino aja, Vino enggak ada kegiatan selain bawa cameraku,” perintah Radit. Dia tak mau Aurel sampai tidak datang diacara wisuda nya.
“Ya sudah, Vino suruh sampai rumahku jam 7 pas, biar dia enggak kelamaan nungguin aku siap. Tapi kalau dia telat aku akan berangkat sendiri,” Aurel menyanggupi dijemput Vino, karena Vino belum ikut wisuda semester ini.
***
Radit melihat ibunya sangat cantik dibalut kebaya hijau lumut dan bahan batik yang di buat rok modern, “Ibu cantiiiiiiik bangeeet,” pujinya tulus.
“Istrinya siapa dulu,” ayahnya menimpali pujian anak tunggalnya.
“Ayok kita berangkat!” ajaknya. Mereka akan satu mobil karena mobil Radit sudah dibawa Vino ke rumah Aurel sejak jam 5.30 tadi. Radit cerewet menyuruh Vino segera berangkat karena takut Vino terlambat tiba di rumah Aurel. Padahal Aurel jelas-jelas meminta di jemput jam tujuh pagi.
***
Aurel turun dari mobil Radit dan berjalan pelan menuju pintu auditorium tempat berlangsungnya wisuda tahun ini. Semua yang melihatnya takjub tak percaya si ceweq tomboy bisa manis dan luwes dengan kebaya hijau lumut dan rok panjang dari bahan batik. Vino yang berjalan di sisinya tentu saja banyak mendapat sapaan beberapa teman laki-laki nya yang ingin mengenal Aurel lebih dekat.
Radit yang melihat kedatangan Aurel dari jauh sampai tak percaya, peri kecilnya, tinker bell nya benar-benar menjadi peri.
‘Kapan mereka janjian bikin baju kembaran ya? Kebaya Aurel dan ibu bisa samaan gitu,’ pikir Radit melihat Aurel datang menghampirinya dengan senyum manis.
“Selamat ya Abang sayang,” ucap Aurel sambil mencium pipi kekasihnya, yang di balas pelukan hangat oleh Radit.
“Abang enggak nyangka kamu datang pakai kebaya gini. Kamu pakai dress aja udah berkah buat Abang. Kamu enggak pernah ketahuan beli baju atau nyiapin sepatu koq bisa kembaran ama ibu sih?” cecar Radit.
“Udah enggak usah banyak tanya, sana Abang masuk dan ikuti acara wisuda dengan tenang, kan Abang udah tau aku dah datang,” perintah Aurel,. Aurel tahu Radit akan terus berdiri di depan pintu sampai lelaki itu melihat dirinya datang.