
Aether berusaha sebaik mungkin mengeluarkan tanggapan yang baik kepada Aleta dengan harapan pembicaraan ini akan cepat selesai dan berakhir ia yang tidak mendapatkan misi lainnya.
Ia menceritakan detail demi detail sehingga Ia dapat membunuh beberapa goblin bahkan ia mendapatkan beberapa title yang berhubungan goblin. tentu itu dengan mudah di percaya bagi Npc setingkat bangsawan Baron, yang mungkin akan lebih berbahaya bagi Aether jika ia berbohong nantinya, karena kalau tidak salah dengar para Npc setingkat dengan aleta ini, memiliki kemampuan khusus yang dapat mengetahui kalau seseorang akan berbohong.
Apalagi keberhasilan dari Yuno memang telah tersebar oleh bebebrapa bangsawaan yang ada di keraajaan ini, sehingga Cerita dari Aether kembali dapat dipercaya. Hal itu semakin menambah kepercayaan Baron Aleta kepada Aether.
“Aku sama sekali tidak menduga kalau kau adalah orang yang dimaksudkan Oleh mereka sebagai Pahlawan yang berhasil memimpin beberapa orang untuk memberikan waktu kepada Pasukan sekutu untuk sampai tepat waktu.”
Aether sudah tahu kalau misi dari Yuno sudah berhasil, namun ia hanya tidak tahu kalau misi itu sangat berarti bagi kedua guild tempat yuno dan Cleo bernaung, karena memang mereka berusaha membuat daerah marintenggae sebagai area operasi miliknya.
Mereka yang berhasil untuk membuat sebuah pencapain besar dengan meratakan sebuah markas goblin besar yang berada di wilayah maritengae, membuat nama guild dari mereka semakin terpandang.
“sepertinya aku mulai mengerti kenapa Bam dan Baron sangat merekomendasikan dirimu,”
Lanjutnya, percakapan mereka terus berlanjut hingga mereka membahas alasan kenapa Baron dan Bam harus menhilang di waktu yang hampir bersamaan, Ada fakta baru lagi yang mereka dapatkan kalau pengaruh dari Bam dan Baron memiliki relasi yang kuat di kerajaan ini.
Setelah melakukan berbagai basa basi, Aether pada Akhirnya mendapatkan apa yang dia inginkan yaitu surat jalan untuk bergerak bebas di perbatasan antar benua. Walaupun Baron Ale masih menharapkan Aether dapat bertahan untuk semenatara waktu di kota ini
Dengan Kepergian Bam, Penjualan Potion di kota ini sangat berkurang, sehingga ia berharap Aether sebagai orang yang pernah belajar membuat Potion dari Bam bisa membantu dengan perdagangan di kota ini.
Tentu Aether setuju , pasalnya ia memang berencana untuk menjual beberapa potion dan belajar memasak, di kota ini. Dan tidak lupa ia yang berencana mencarikan beberapa bahan yang harus digunakan Rangga untuk membuatnya terus berkembang.
Tidak mudah untuk bertemu dan menjalin pembicaraan Seperti ini dengan penguasa kota Seperti Aleta ini, Sehingga Aether tentu kembali menggunakan kesempatan itu sebagai cara untuk mendapatkan beberapa informasi tentang beberapa mineral yang diperlukan untuk membuat Rangga menuju tahap selanjutnya.
Kalau apa yang Bam dulu katakan kepadanya benar, dan sesuai dengan apa yang ia lakukan saat masih dalam proses Beta maka, IA akan membuat Rangga dapat berevolusi, berbagai barang itu ia rencana mencarinya dalam perjalan menuju benua tengah.
Tapi tiba-tiba ia mendapatkan kabar kalau jalur yang akan ia lalui ada beberapa bahan yang tidak dapat ia jumpai termasuk kulit dari kadal rawa, ini tipe monster humanoid yang kebanyakan dari mereka adalah petarung yang menggunakan Senjata tombak.
Aether tentu sudah berencana untuk memburu monster ini karena memang sekarang ia adalah pengguna Tombak, tapi untuk sekarang ia merasa kalau memburunya itu masih terlalu cepat. Dan ia sedikit ragu kalau perbedaan kekuatan mereka nantinya masih terlalu ia sudah hampir dibuat gila Oleh sebuah goblin.
Tapi Sekarang ia harus diSibukkan untuk memburu monster yang notabene berada di tingkat lebih dari para goblin itu, dengan Sebuah tarikan nafas ia akhirnya mengambil keputusan untuk mendapatkan item itu sebelum pergi ke benua tengah.
Persiapan harus dilakukan dengan baik pasalanya Selain monster ini adalah monster tingkat humanoid yang biasanya memiliki kecerdasan, area yang di para Lisardman itu berada di area rawa, sehingga sangat sulit bergerak disana.
Salah satu alasan kenapa Monster itu sangat sulit di buru, area pergerakan dari pemain yang terbatas karena terhalang oleh rawayang berlumpur, Sedangkan para lisatdman yang ada sangat ahli dalam mengunakan tombak
Aether bahkan merasa kalau Bangswan Ale menyuruh kesana tidak lain hanya untuk mengantisipasi terjadinya pelonjakan para kadal itu seperti apa yang terjadi dengan para goblin saat ini, apalagi saat ini para pemain dan beberapa pasukan kerajaan sedang memfokuskan masalah kearah para Goblin.
Salah satu persiapan yang Aether perlukan, adalah untuk memperbaiki beberapa peralatan yang dia miliki terutama Topenngy yang sudah mulai sedikit hancur, sedangkan saat ini identitasnya Sebagai seorang pemain yang terus menyembuyikan identitasnya.
Dan Ale menyarangkan satu penempah besi, saat Aether sampai disana ia menemukan kalau tempat itu terlihat sangat sepi dan saat ada yang keluar malah ia melihat sesuatu yang menarik pasalnya ia malah melihat seseorang yang hampir terbunuh karena di bunuh oleh seseorang yang ada di dalam sana.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Aether kepada kedua pemain yang baru saja keluar dari tempat itu.
Ia tentunya tidak ingin asal masuk dan mendapati dirinya melakukan kesalahan yang sama dengan apa yang mereka lakukan, selama apa yang ia dengar dari Bangsawan Ale ia tidak menemukan kalau pandai besi yang ada disana adalah orang yang pearah Sehingga saat mendapati suasana yang suram di kedai ini membuatnya merasa aneh.
Saat ia bertanya dengan pemuda itu, tidak ada jawaban pasti dari pemain tersebut. Karena mereka juga bingun kenapa mereka di berlakukan tidak baik, dengan Sedikit ragu ia akhirnya memutuskan untuk masuk karena ia sudah tidak bisa lagi membuang muang waktu dengan mencari tempat lain apalagi ia mendengar kalau kota ini juga sangat kekurangan dalam pandai besi yang handal Seperti orang yang ada di dalam sana.
“sudah ku bilang, aku tidak akan membuat barang barang lain untuk Semantara waktu!” bentaknya tampah melihat Aether yang masuk disana.
Salah satu kemampuan Aether yang selalu ia banggakan adalah kemampuan berbicaranya, karena keadaan yang sepertinya tidak kondisif ia berusaha menalihkan pembicaraan dengan mengambil alasan sebagai pembawa pesan dari bangsawan Ale.
Dengan mengaku sebagai pembawa pesan dari Ale ia dapat mengalirkan pembicaraan kearah yang lebih baik, sampai si pandai besi itu menceritakan masalah kenapa ia tidak ingin membuat berbagai peralatan.
Dan Aether Sebenarnya masalah itu cukup simpel dimana Moli nama dari pandai besi itu, beberapa hari yang lalu telah di kalahkan dalam sebuah kompetensi menempah senjata oleh Seorang yang menurutnya masih sangat muda.
Sebagai orang yang telah menempah senjata- senjata untuk kerajaan, kekalahan tersebut sangat berarti banginya, dan beberapa kali ia mencoba namun ia sama sekali tidak menemukan adanya masalah yang dapat membuatnya dapat mencapai tingkatan Seperti itu dalam dunia menempah senjata.