
Setelah pertarungan aldo selesai otomatis kamera akan langsung diarahkan menuju tempat dimana enzy bertarung.
“Aku tidak meyangkan pertarungan disini lebih asik untuk di nikmati,”
“Sudah kubilang bukan, anak tuhan gaia memang harusnya memiliki kekuatan seperti ini,”
“sayang sekali kita tidak mengetahui apa yang terjadi sebelumnya, lihat kumara sudah terbaring tidak berdaya yang kemungkinan baru saja ada pertarungan sengit yang kita lewatkan.”
“Lupakan apa yang terjadi pada bocah itu, seperti apa yang pemilik channel ini sering katakan, santai dan nikmati apa yang disajikan,”
Enzy saat ini terus fokus dalam pertarungan, ia bahkan tidak peduli kalau pertarungan aldo yang sudah selesai, karena baginya saat ini memenangkan pertempuran adalah keharusan untuknya.
[Slash of light]
Sebuah skill dimana senjatanya dialiri sebuah cahaya yang yang berasal dari dewa, skil ini biasanya dimiliki para paladin dan para petarung yang dimiliki orang- orang dari gereja.
"Terus jaga kecepatan langkahmu," walaupun dalam pertempuran seperti ini lawan dari Enzy terus memberikannya saran.
"Aku bilang diam!"
Walaupun enzy menolak untuk mendengarkan apa yang dikatakan apa yang dikatakan lawannya, ia masih terus mengikuti setiap saran yang diberikan sehingga gerakannya terus membaik.
[angel of death slash]
Sebuah skil lainnya di keluarkan enzy, dimana terlihat sebuah malaikat kematian keluar dari tubuhnya lengkap dengan sebuah sabit raksasa keluar untuk menyerang lawannya.
"Spear Season 4 Attack"
Sepertinya lawannya ini tidak akan kalah dengan mudah, ia berniat menerimah skil enzy yang terlihat kuat dengan melawannya dengan skil lainnya.
"Serangan pertama (fall)" ucapnya mengeluarkan skil pertama dalam skil seriesnya.
Serangan ini mengambil filosofi sesuai namanya adalah 4 musim dari dunia, dan yang pertama adalah musim gugur.
Segera serangan tombak itu berbenturan di udara, di sana di lihat kalau kekuatan dari mereka itu terlihat berimbang.
Sehingga masing masing dari mereka mengeluarkan serangan keduanya, enzy masih dengan skil yang sama.
Dan pengguna tombak yang tidak diketahui namanya itu dengan skill keduanya.
[winter]
Terlihat masing- masing dari mereka mengeluarkan kemampuan terbaiknya.
Tapi belum sempat skil kedua 4 spear season attack dilancarkan, tubuh dari tombak petir sudah sudah berlubang.
Itu tidak lain serangan dari Aldo yang dari tadi mereka tidak perhatikan karena terlalu asyik dalam pertempuran, "berarti iblis itu kalah dengan cepatnya, sangat disayangkan padahal aku masih ingin menikmati pertarungan ini."
"Maaf aku harus mengganggu, tapi perang ini harus segera diakhiri," ucap Aldo santai.
"Tidak perlu minta maaf ini adalah perang dan beginilah seharusnya perang itu, karena aku sudah berada ditangan seorang lich mungkin ini bukan pertarungan terakhir kita, jadi di pertempuran selanjutnya aku berharap kau sudah memiliki seorang ahli tombak yang bisa memuaskan ku."
"Tenanglah, salah satu alasan kenapa aku ingin mengakhiri perang ini lebih cepat karena bos kami adalah seorang ahli tombak, jadi aku tidak ingin dia yang harus menyelesaikan pertarungan ini,"
"Jika kau memang memiliki seorang ahli tombak beritahu dia untuk mencari warisanku……"
Ucap memberikan sebuah lokasi kepada aldo, yang disana terdapat sebuah peninggalan yang dia tingalkkan.
Aldo tidak menjawabnya, ia hanya membiarkan emzy untuk melakukan serangan terakhir. Dan membunuh pengguna tombak itu.
"Woi kalian semua perang ini sudah terlalu lama, apa yang kalian tunggu, apa kalian ,menunggu Aether yang akan menyelesaikannya."
"Jika sampai bos kalian itu yang menyelesaikannya, aku bisa jamin kalian tidak bisa tersenyum satu bulan ke depan."
Teriak dari Aldo itu dapat didengar oleh semua orang, mendengar itu, semua makhluk yang berasal dari takkalasi merindin, dan setelah itu mereka tidak ada lagi yang berusaha bersantai, bahkan beberapa prajurit yang masih membutuhkan pengobatan langsung berdiri dengan bermodalkan potion mereka siap kembali bertarung.
"Apa yang terjadi, kenapa mereka kembali beringas saat ,mendengar nama aether."
"Ini menunjukkan kalau mereka benar -benar takut kepada aether,"
"Aku bahkan tidak membanyakan apa yang membuat mereka setakut itu kepada Aether."
Sekarang mereka semakin penasaran kepada aether sehingga mereka menanyakan pendapat itu kepada vanesa.
"Jika kalian bertanya kepadaku sebenarnya itu lumayan sulit untuk di jawab," ucapnya membuat semua orang yang menonton terlihat kecewa.
"Tapi aku bisa memberikan kalian gambaran bagaimana orang itu ditakuti bahkan di dunia nyata, pertama apa kalian pernah di tabrak tronton dengan kecepatan tinggi tapi masih hidup, atau melawan seorang master beladiri dengan menggunakan senjata sungguhan, orang itu bisa melakukan semua itu,"
Ia menceritakan apa yang pernah dia lihat saat bersama dengan reyhan, membuat semua orang yang mendengarnya merasa kalau aether memang layak untuk di takuti.
Kembali lagi ke medan perang, "pergilah bimbim para priest sehingga rekan aether bisa lebih fokus untuk membantu fiwi," ucap aldo memberikan perintah kepada enzy.
"Dan kau jangan jadi anak kecil, segera bersihkan medan perang, aku benar -benar tidak ingin aether sampai kesini dan pertarungan belum selesai," lanjutnya kepada Kumara, yang terlihat santai ,mendapatkan perawatan.
Dengan ditunjuknya seperti itu, kumara langsung berdiri dan bersiap kembali bertarung.
"Sepertinya kali ini kau kalah dari Fiwi," ucap aldo sambil tersenyum.
Melihat ekspresi dari Aldo, Kumara segera mengarahkan pandangannya ke sana juga, dan menemukan disana terlihat Fiwi sudah berhasil membunuh lawan yang dari tadi mereka lawan.
Semua orang terkejut melihat itu, tidak ada yang menyangka kalau fiwi berhasil melakukan sebuah pertarungan satu lawan satu dengan lawannya.
Beberapa saat lalu, saat orang lain sedang di pojokkan, fiwi berhasil membuat revo kebingungan. Dimana apapun yang dia lakukan tidak berhasil membuat fiwi tumbang.
Sehingga ia memutuskan untuk merubah targetnya, sekarang ia menargetkan vanessa untuk membuat bantuan dari fiwi hancur.
Dari tadi ia menyerang fiwi, dan lawannya itu sama sekali tidak membuat fiwi mendaratkan serangan kepadanya.
Tapi fiwi sama sekali tidak menyerah, ia percaya diri kalau pasti akan ada kesempatan.
Dan akhirnya kesempatan yang ditunggu akhirnya tiba, keputusan revo menyerang vanesa dianggap fiwi adalah kesalahan.
Bahkan sebenarnya ia sudah menunggu keputusan itu, [mode cover].
Di Awal ia sengaja terkena sebuah serangan yang cukup telak dari lawannya sehingga ada sebuah jeda waktu yang bisa digunakan lawan untuk menargetkan vanesa.
Dalam mode cover ini Fiwi bisa langsung bisa teleport ke rekan yang ingin ia lindungi. Dari awal ia tidak pernah menggunakan skil ini karena memang tidak diperlukan.
Hal ini membuat revo terkejut, dan membuatnya terlambat merespon, sebuah serangan dari yang fiwi berikan kepadanya.
Di Sisi yang berbeda, vanessa terkejut bukan main melihat serangan dadakan ini, karena revo saat itu juga mengunakan sebuah skil yang bertipe kecepatan Sehingga ia juga terlambat merespon kecepatan dari revo ini.
Tapi ia juga sudah siap jika harus dalam sebuah keadaan ia harus terlibat dalam sebuah pertarungan.
Untungnya fiwi tidak terlambat sehingga ia tidak harus turun tangan dan ia memilih untuk mundur.
Dan melihat di depan matanya fiwi berhasil memanfaatkan cela itu sebaik mungkin dan akhirnya ia bisa membela lawannya menjadi dua bagian.