VOF (The Legend of Spear Master)

VOF (The Legend of Spear Master)
aksi dari aether



di benua tengah lebih tepatnya di area kekaisaran Gowa baru saja terjadi pertempuran besar antara dua orang petinggi guild ternama itu adalah Leon dan Odin.


Mereka memperebutkan sebuah area yang awalnya merupakan area berburu  dari War lion yang entah bagaimana mendapatkan kabar kalau di sana terdapat sebuah dungeon yang kemungkinan di dalamnya terdapat sebuah artefak di dalamnya.


Leon tahu akan hal tersebut dan ia memang juga telah mencoba menaklukkannya, tapi tidak bisa dan ia yakin guild yudarisl juga tidak akan mampu menaklukkan.


Alasan ia berusaha bertarung tidak lain  hanya karena  sebuah harga diri karena mereka berusaha menduduki area secara paksa, tentu sebagai Guild besar  Leon harus memberikan perlawanan.


Yang pada akhirnya ia berhasil membuat mundur mereka, hal ini tidak membuat Leon bangga karena Ia tahu lawannya itu sama sekali tidak turun dengan kekuatan penuhnya dan Leon yakin kalau mereka turun dengan kekuatan penuh  mereka pasti akan dikalahkan.


Saat sedang beristirahat,  salah satu petingginya memberitahukannya kerajaan marintangae saat ini sedang mendapatkan serangan dari tiga kerajaan yang ada di sekitarnya dan menurut mereka ini bisa menjadi kekalahan kalau mereka tidak segera membantu.


“Apa pahlawan kerajaan mereka sudah ada disana?” tanya leon kepada jaringan informasinya.


“Info terakhir yang aku dengar sepertinya ia sudah datang sebelum medan perang utama di mulai,” jawabnya.


“Kalau begitu jangan khawatir, mereka pasti akan baik-baik saja mungkin bahkan mendapatkan kemenangan yang cepat,” balas Leon percaya diri.


“Bos bukankah itu terlalu berlebihan kita saja jika menghadapi serangan dari tiga kerajaan kecil secara bersamaan walaupun kita masih bisa memang itu tidak akan berlangsung mudah, bagaimana mungkin satu orang saja bisa membuat perbedaan yang segitu besarnya,”


Salah satu dari petingginya yang merupakan orang baru yang Leon rekrut, Leon dan ia memang tidak terlibat dalam perang melawan para goblin.


“Kau baru bisa bilang begitu, jika kau bisa memberikanku 1 buah artefak asli, dan dua bua artefak buatan secara bersamaan,” balas Leon.


Mendengar itu tidak ada yang bisa membalasnya, mereka semua tahu kalau orang yang memberikan itu adalah Aether Sehingga tidak mungkin Leon tidak percaya dengan orang itu, setelah bertemu dengan Aether Leon benar mendapatkan banyak perubahan terutama cara ia memandang seseorang.


Dan baginya Aether Adalah orang-orang yang patut untuk dihormati bahkan untuk di kagumi, “Sekarang ia hanya bisa berharap Aether tidak marah kepadanya karena terlambat datang, dan dari apa yang ia dengar dari Yuno Aether sudah mengatur semuanya dengan baik untuk mereka mendapatkan area yang lebih luas dengan cepat untuknya.


Tapi sekarang Aether malah menjadi orang yang harus turun gunung langsung untuk menyelesaikan apa yang dia ciptakan sebenarnya untuk Warlion.


“Selesaikan segala masalah ini, dan kita harus segera berpindah ke maritengae,  untuk masalah penawaran dari Garuda berapapun yang mereka tawarkan segera terima,” ucap Leon menutup perintahnya.


. . . . . . . . . . .. .


Aether terus melaksanakan aksi gilanya, dengan terus menerobos kerumunan yang ada disana,  hal ini membuat semua orang frustasi karena berbagai serangan yang mereka daratkan kepadanya seperti tidak berguna.


Terutama itu bagi para penyihir dan dan para archer, Aether sudah menjadi benteng yang tidak tergoyahkan.


 Ini tidak lain karena efek langsung dari set Armor dragon yang dimilikinya membuatnya mendapatkan semua ini, dan aether dapat menggunakannya dengan baik.


[saat digunakan dalam satu set yang sama akan menambah efek def sebesar 8%, dan setiap serangan sihir yang membuat HP ada berkurang sebesar 50% maka efek yang ditimbulkan dari serangan tersebut di netralkan sebanyak 80%, dan saat Hpmu kurang 10% maka tercipta Sebuah perisai energi yang akan memblokir setiap serangan yang ada selama 30 detik kedepannya.]


“Apa orang ini memiliki hp yang tidak terbatas,”


“kerusakan yang dihasilkan setangan ku yang biasanya bisa membunuh warior dalam satu serangan bahkan mungkin tidak mengurangi  30% Hpnya.”


Mereka mulai ketakutan terhadap Aether yang terlihat tidak mati mati walaupun ia terus mendapatkan gempuran serangan dari para penyihir dan para pemanah yang menyerang dari jarak jauh.


Dengan adanya Legea menjadi cara terbaik untuk mengatasi kelemahan dari Armornya memanfaatkan kesempatan saat adanya pelindung yang akan melindungi mereka dalam setiap serangan disana legea akan dibutuhkan untuk menyembuhkan Aether.


. . . . . . . . . . . .. .


Geliga adalah komandan pasukan baru dari Amparita, ia yang bertugas untuk menjadi komandan ketiga dalam pasukan besar yang akan menyerang marintaage.


Dari awal ia sudah menolak karena komandan utama dalam pasukan ini adalah para orang orang immortal yang terkadang ia tidak tahu jalan pikirannya.


 Itu benar terbukti saat Mereka memiliki kesempatan untuk menyerang kerajaan Maritengae mereka malah memberikan lawan kesempatan untuk bersiap siap bahkan memanggil pahlawan mereka untuk bergabung dalam perang ini.


Belakanga ini ia mendegar pegaruh dari pahlawan marintagae yang tidak main main sehingga ia menentang itu tapi karena ia hanya komandan kedua suaranya sama sekali tidak di dengar.


Dan benar saja apa yang ia takut terjadi mereka satu persatu dikalahkan dengan mudah dan sekarang komando pasukan ada di tangannya, tapi mereka tidak lagi bisa memberikan perlawan karena satu persatu dari komandan pasukan di habis, sehingga terlihat pasukan terlihat kebingungan mendengarkan perintah.


“Lapor komandan,  pahlawan kerajaan marintage saat ini sedang mendekat kemari,” ucap salah satu prajurit yang melaporkan kalau Aether sedang mendekat.


“Berapa pasukan yang dia bawah?” tanyanya masih terlihat berusaha tenang.


“Lapor! Ia membawa satu orang priest yang ada di belakangnya,”


“Jika hanya berdua kenapa kalian tidak membunuhnya,” bentak Geliga karena mendegar itu.


“Kami sudah berusaha,tapi ia sama sekali tidak terhentikan,” balas prajurit yang ada disana.


 “Aku tidak mau tahu pokoknya segera hentikan orang itu bagaimanapun caranya.”


Geliga dibuat tidak bisa berpikir karena masalah ini, Baginya aether adalah orang yang sangat berbahaya, sehingga harus dihentikan secepat mungkin kalau tidak  itu akan berbahaya untuk mereka kedepannya.


Belum sempat ia berpikir sebuah ledakan yang sangat besar terlihat para prajurit yang membentuk sebuah barisan pertahan berhasil jebol dan terlihat Aehter ada disana terus berusaha untuk mengejarnya.


Beberapa orang prajurit berusaha untuk menghentikannya Tapi Aether dengan mudah terus mengalahkan para prajurit tersebut hingga Aether berada di depannya.


“Aku berikan kalian satu kesempatan turunkan semua senjata  dan menyerah atau lanjut dan kita perang besar besaran sampai mati,”


[lion roar] yang dimiliki ia berteriak dengan sangat keras untuk memberitahukan semua orang yang ada disana kalau Aether memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyerah atau melanjutkan pertempuran.


Terjadi keheningan yang sangat besar setelah mendengar teriakan tersebut, Geliga adalah orang pertama yang beraksi akan hal ini terlihat ia segera menjatuhkan senjata yang ia miliki.


Tanda ia menyerah dan segera diikuti oleh para npc yang ada disana, semua orang yang ada disana merasakan ketakutan saat melihat Aether.