VOF (The Legend of Spear Master)

VOF (The Legend of Spear Master)
aksi reyhan



Reyhan benar melamun beberapa saat itu, ia entah kenapa tidak pernah kepikiran masalah ini, sudah ada beberapa senior di kampusnya yang , mengajak reyhan bergabung dalam organisasi kemahasiswaan.


Tapi hingga sekarang reyhan masih terus menolak mereka, karena merasa itu hanya akan mengganggunya.


"Berilian, besok aku akan mencari orang- orangnya, mumpung besok akan ada praktek dan pengetesan para mahasiswa baru tentang ketahananan mereka bermain virtual reality."


Reyhan disini menyakikan diri kalau ia bisa menemukan beberapa bakat tersembunyi, "bos, apa tidak masalah kalau dosen mu itu sering datang ketempat ini,"  ucap rachel yang melihat reyhan ingin ke ruangannya.


"Dia disini?" Tanya reyhan.


Di kampus tadi ia tidak menemukan isabela, jadi ia mengira kalau ia ada beberapa urusan, sehingga ia tidak tahu kalau isabela malah datang ketempat ini.


"Sedang melakukan sparingan dengan boni dan anak padepokan," balas nas yang masih fokus dengan komputer di depanya.


Reyhan terlihat sedikit berpikir dan setelah itu, "biarkan saja ia melakukan semaunya, hitung- hitung menambah satpam baru bukan," ucapnya.


"Kalau itu benarsih, buktinya tadi siang ia berhasil menangkap seseorang yang sepertinya berniat jahat ke tempat ini," gumam rachel.


"Sampai sekarAng aku bahkan tidak pernah berpikir kalau aku akan bekerja di tempat yang dimana penjaganya adalah para ahli beladiri."


"Itu juga akan menjadi juru pukul mu jika nantinya kau melakukan kesalahan," ucap nas sambil bercanda karena orang yang bicara tadi berada dalam naungannya.


"Jika mereka telah selesai, suruh boni menhadap kepadaku," ucap reyhan dengan serius.


Tidak berselang lama, mereka pun datang, boni dan isabella datang sepertinya mereka bertanya tanya alasan kenapa mereka di pangil oleh reyhan.


"Aku hanya ingin mengetahui identitas dari pelaku penyerangan yang ditangkap isabela."


Ucap reyhan langsung kepada intinya, "sepertinya kau sudah menebak siapa pelakunya, jadi aku langsung saja memberikanmu alamat mereka saat ini."


Melihat gestur dari reyhan, boni tidak berani main main, sehingga ia segera memperlihatkan data data yang telah ia kumpulkan.


"Perlu bantuan?" Tanya isabela.


"Bukankah, akan menjadi masalah kalau seorang dosen terlibat masalah?" Ujar  reyhan terhadap tawaran isabella.


"Tidak perlu basa- basi, kasih aku aja tugas peraturan itu hanya sebuah tulisan jika kita tidak ketahuan," ucap isabella tersenyum.


"Baik, aku harap tangan tangan itu tidak berkarat," yang mulai menjelaskan apa yang dia inginkan.


Dari apa yang dia lihat orang- orang yang mengacau ini adalah  orang suruhan dari anto, dan orang tadi hanya sebuah pancingan untuk melihat bagaimana kekuatan pertahanan dari tempat ini yang sudah terkenal memiliki beberapa ahli beladiri.


Dari apa yang boni katakan dan ia kumpulkan sudah ada beberapa tentara atau pembunuh bayaran dari pulau lain yang berdatangan ke tempat ini.


Dan mereka semua terhubung dengan dua orang dan dua orang itu adalah orang yang membenci reyhan saat ini.


"Jika kau tidak masalah aku ingin kau mengurus masalah pembunuh bayaran ini bersama dengan boni sedangkan aku akan ,mengurus orang yang mengendalikan mereka."


"Ok!" Balas mereka singkat.


Karena saat itu waktu memang sudah menunjukkan malam hari sehingga kantor saat itu sudah mulai kosong hanya ada beberapa orang yang masih lembur.


"Biarkan mereka," ucap nas melihat salah satu anggotanya berusaha menyapa reyhan untuk membuat laporan.


"Tapi ada beberapa laporan, yang ingin aku berikan," jawab orang itu.


"Tapi!" Orang itu adalah pekerja baru disini sehingga ia masih ingin melakukanya.


"Kau terlalu banyak bicara, orang -orang itu punya dunia yang berbeda dengan apa yang kau banyakan," ucap nas melihat reyhan, boni dan isabella sudah siap sebuah baju berwarna hitam.


Dengan pakaian itu setidaknya nas sudah memiliki gambaran apa yang akan mereka lakukan.


Tidak ada yang tahu apa yang reyhan lakukan saat itu, yang ada besoknya vanessa sudah datang dengan keadaan memgamuk kepada reyhan.


"Apa kau gila! Bagaimana jika anto sadar dan melaporkanmu ke polisi!" Ucapnya tegas.


"TENANGLAH! Ia tidak akan melapor karena jika itu terjadi itu sama saja kalau ia melaporkan dirinya sendiri, sudah dulu aku akan berangkat ke kampus."


Reyhan sangat santai pasal ini, ia sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi, walaupun saat ini beberapa wartawan sedang meliput kejadian yang menimpah anto.


Tadi malam ia terlibat dalam sebuah penyerangan dari orang tidak dikenal, dikabaRkan dalam penyerangan itu ada tiga orang, namun sampai sekarang identitas dari pelaku tidak diketahui.


"Jangan- jangan….."


"Diamlah, anggap saja kau tidak tahu apa-apa," ucap nas memotong ucapan dari orang tadi.


"baik!" ucapnya segera berpose menutup mulut.


"Sial aku benar-benar bisa gila," ucap vanesa.


Ia sudah melihat berbagai kegilaan dari reyhan, tapi ia benar benar tidak menyangka kalau reyhan akan melakukan sejauh ini, sampai sampai ia membuat anto masuk rumah sakit.


"Panggilkan aku boni, aku ingin mendengar penjelasannya," lanjutnya.


Tidak lama boni datang karena ia sudah menebak alasan ia di pangil seperti ini.


"Boleh aku menolak untuk menjelaskannya?" Ucap nya langsung to the point.


"Tentu, karena pada dasarnya kau itu bawahan langsung dari reyhan jadi aku tidak berhak memecatmu apapun yang terjadi." 


Sesuai dengan apa yang dikatakan vanessa, di tempat ini boni tidak ada yang berhak memecatnya kecuali reyhan.


Terlihat boni sedikit menarik nafas, setelah itu ia melemparkan setumpuk kertas. "Di dalamnya ada beberapa alasan kenapa reyhan melakukannya dan alasan kenapa anto tidak akan melaporkan apa- apa walaupun semua itu sudah terjadi."


Selama ini berbagai isident yang melipatkan lia tidak di beritahukan kepada vanesa, hanya untuk menjaga perasaannya, "apa yang di dalam ini kalau beberapa diantara kalian mengalami ganguan?"


Di tanya seperti membuat semua orang yang ada disana menganguk, "bos, kami semua memiliki kemampuan untuk membela diri, tapi sepertinya tindakan bos besar memang  sudah seharusnya," ucap rachel.


Dan beberapa orang lain memberikan informasi dan dukungan kepada vanesa yang emosi melihat tindakan dari reyhan.


Sebenarnya ia juga marah dengan aksi sepupunya, di lain sisi ia juga kasihan melihat sepupu perempuannya itu menangis  tersedu sedu  melihat kekasih yang dia cintai terbaring tidak sadarkan diri di rumah sakit.


Yang membuatnya juga takjup adalah walaupun reyhansudah bergerak seperti ini, om atau ayah dari lia sama sekali tidak bertindak.


Ini membuktikan kalau rencana reyhan sudah direncanakan dengan baik. Sebenarnya tidak hanya anto yang mendapatkan penyerangan, malam itu semua cafe ternama di kota makassar, juga terjadi sebuah penyerangan di sebuah cafe malam.


Menurut polisi sepertinya penyerangan itu dilakukan oleh orang yang sama dan satunya orang yang selamat dalam insident tersebut hanya gading itu punq ia terlihat ditemukan dalam keadaan ketakutan