
Setelah tumbangnya gereja Matahari terlihat berbagai perubahan besar terjadi vof termasuk benua timur juga terkena dampaknya, beberapa dari mereka segera membentuk aliansi untuk saling menguatkan.
Terutama saat ini mereka mewaspadai kebankitan dari kerajaan Marintage yang sangat mengancam untuk mereka.
Beberapa dari mereka berusaha untuk mengecam aksi dari kerajaan Marintage yang melakukan invasi militer kepada kerjaan tetangga tapi mereka tidak bisa melakukan apa apa karena memang Bukan maritengae yang mengambil gerakan pertama.
Walaupun seperti itu mereka masih menciptakan beberapa masalah untuk maritengae seperti mengirim beberapa pengacau ke perbatasan kerajaan Sehingga fokus dari marintangae sedikit terganggu.
Salah satu alasan kenapa Cleo dipanggil mendesak tidak lain karena masalah ini, mereka membutuhkan sebanyak mungkin bantuan untuk menyelesaikannya.
. . . . . . .. . . . . .
“Terimah kasih, kau benar! seharusnya aku harus lebih berani dalam mengambil keputusan, berikan aku waktu aku akan segera mengatur kepindahan ku menuju marintangae,” ucap Leon setelah sedikit berpikir.
“Tapi untuk masalah pembayaran bolehkan aku nyicilnya,” lanjut Leon dengan sedikit tersenyum.
“Hah?”
“Tolonglah aku saat ini sedang dalam keadaan kurang memiliki dana tapi aku janji akan segera melunasinya,” Leon berusaha sebaik mungkin untuk menjelaskan masalah yang menimpah nya kepada Aether.
Tentu keuangan guildnya yang saat ini sedang tidak baik baik saja, Sehingga untuk melakukan pembayaran ia harus sedikit nyicilnya.
Sambil ia membujuk Aether ia terus memegang relik nya ia benar takut Aether akan berubah pkiran dan membatalkan perjnjian ini, setelah cukup lama Akhirnya Aether memutusakna untuk memberikannya kepada Leon.
“Ingat harganya tidak sama dengan harga yang kemarin, akan ada beberapa peningkatan.,” balas Aether.
Leon segera berterimah kasih, dan mengatakan kalau secepat mungkin ia akan meyesaikan masalah ini, sehingga mereka tidak perlu repot menunggu, ia juga menanyakan apa yang Aether lakukan setelah ia kesini.
“Tidak terlalu penting, mungkin membantu kerajaan Marintagge, karena ku dengar mereka memiliki beberapa perang di perbatasan.”
Karena ia sudah mengetahui fungsi dari kalung itu Aether setidaknya memiliki beberapa hal yang akan dia lakukan, salah satu cara untuknya membunuh para manusia adalah melalui perang.
Setelah pembicaraan mereka selesai Aether segera meninggalkan tempat itu, dan kembali lagi menuju gereja, karena dari apa yang nomos katakan ia sekarang sudah bisa menggunakan gerbang teleportasi yang langsung mengarahkannya langsung menuju ibukota dari kerajaan maritengae.
Sebagai seorang pahlawan baik itu bagi kerajaan manrintagae atau kerjaang Gereja Gaia. Tentu Aether akan mendapatkan perlakukan khusus seperti ia dipersilahkan untuk menggunakan portal ini sepuasnya tanpa harus menggunakan membayarkan apa lagi.
Saat Aether tiba di gereja yang di bangun dengan pangkajenne, ia terlihat sangat disambut dengan baik, itu terlihat saat mereka melihat Aether semua orang orang langsung mengerumuni Aether dan memberikan blessing kepadanya.
Mereka baru sedikit menyingkir saat Enzy datang kesana dan mengajak Aether untuk berbicara, saat ini dan beberapa orang yang mengikutinya yang sepertinya seorang bishop yang di bertugas disini.
“Bagaimana keadaanmu kak,” tanya Enzy menanyakan Aether Terakhir kali bertemu Aether masih mengeluh akan keadaan, sehingga Enzy sedikit menanyakan keadaan dari Aether.
“Dengan mendapatkan sebanyak itu blessing tidak mungkin aku mendapatkan masalah penyakit bukan?” ucap Aether sambil tertawa.
Enzy juga tertawa melihat kelakuan dari Aether, ia menanyakan kondisi kerajaan ini kepadanya, ia ingin tahu perkembangan perang dari segi terdekat yang ada disini.
“Tidak ada yang khusus, mereka saat ini masih terus berusaha menstabilkan bagian yang harus sana mereka rebut, tapi mungkin ada beberapa kerajaan mulai melakukan pergerakan.”
Ia saat ini ingin menikmati suasana ibu kota setelah terjadi berbagai perbaikan, terlihat mereka telah hidup dengan tenang seolah olah hari dimana kerjaan ini pernah hancur tidak pernah terjadi.
Saat melihat Aether mereka juga menyempatkan diri untuk menyepuh beberapa anak kecil terlihat menyapa nya, perlakuan seperti ini mungkin hanya akan di dapatkan oleh para raja dalam sebuah daerah.
“Mungkin memang ada baiknya seperti ini,” gumam Aether sambil tersenyum.
Tidak lama Aether melihat Yuno dan Joker mendatanginya, mereka terlihat terburu buru, yang sepertinya mereka baru mendapatkan info tentang kedatangannya kesini.
“Kenapa kau tidak bilang jika mau datang, jika kami tahu kau datang aku bisa memberikan sambutan di istana,” ucap Yuno
“Jangan berlebihan, aku datang kesini hanya untuk jalan jalan jika kalian tidak mendatangiku aku mungkin tidak akan memperlihatkan diri,” ucap Aether sedikit berbohong.
“sudah sudah mari kita ke istana, jika kau memang se longgar itu ada beberapa hal yang ingin kubicarakan denganmu,” ucap Joker, menenangkan mereka.
Mereka saat ini ada di tengah kota dan akan sangat menarik perhatian jika mereka berbicara di tempat terbuka seperti ini.
Mereka pun menuju tempat dimana mereka bisa berbicara dengan baik, tapi belum sempat mereka meninggalkan tempat mereka sudah melihat Ratu Aiko sudah datang ke arah mereka menggunakan sebuah kereta. Yang sepertinya ia datang ketempat ini adalah untuk menyambut kedatangan Aether.
“Aku sudah bilang padamu untuk mengajaknya bukan!” ucap Joker melihat tingkah ratu mereka.
Saat sampai disana ia terlihat langsung menghampiri Aether dengan segala basa basinya ia juga terlihat mengomel kepada Yuno karena tidak memberitahukannya perihal kedatangan dari Aether ke kerajaan.
Yuno membela diri karena ia hanya ingin ratu terlihat lebih dewasa karena mau bagaimanapun ia datang kesini untuk membawa Aether menuju istana, sehingga seharusnya Ratu tidak perlu datang kesini secara langsung.
Hal itu malah membuatnya semakin di marahi karena menurut Aiko Aether adalah pahlawan dari negeri ini jadi ia harus disambut dengan berbagai keadaan.
Perdebatan itu baru terhenti saat Aether menenangkan Aiko dan menyuruh mereka untuk pergi menuju istana karena tempat mereka berdebat saat ini terlihat mulai ramai karena terlalu banyak orang yang melihat.
Saat sampai di istana Aether melihat sepertinya ada seorang tamu lagi yang sedang mereka hadapi, yang sepertinya juga merupakan seorang elf.
Saat Aether menanyakan siapa mereka, terlihat Aiko sedikit emosi, saat Aiko terlihat ingin menjelaskannya Yuno mengambil alih.
“Kau tahu bukan kalau marintangae sangat terkenal dengan bangsa elfnya bukan, dan mereka lah adalah bangsa elf yang sebenarnya penghuni dari kerajaan ini Sebelum mereka membentuk sebuah ikatan kerja sama dengan para manusia dan elf yang tidak memiliki suku...”
“Gini gini aku masih seorang elf jadi langsung saja ke intinya,” balas Aether yang memotong penjelasan dari Yuno.
Sebagai seorang elf yang bahkan pernah menerimah pelatihan dari seorang elf yang berlevel tinggi tentu ia mengetahui dasar dasarnya. Sehingga Yuno tidak perlu menjelaskan sepanjang itu kepada Aether.
“Intinya pada saat serangan para goblin, dimana saat saat itu raja atau ayah dari aiko meminta tolong kepada mereka, tidak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk mengulurkan bantuan dan malah menyuruh mereka untuk mengatasi masalah itu sendiri.” Lanjut Yuno menutup penjelasannya.
“Setelah apa yang mereka lakukan kepada keluargaku saat ini mereka sedang mendapatkan gangguan dari para banditnya yang akhirnya mengetahui lokasi persembuyiannya mereka malah berusaha menyuruh kami untuk menyelesaikan masalah mereka.” Ucap Aiko yang terlihat marah.
Aether terlihat meninmbang nimbang masalah ini, Aether sebenarnya memiliki sebuah ide dasar bagaimana mereka harus menyelesaikan masalahnya.