
Aether dari tadi terus mengencangkan kewaspadaannya, perasaan ini, kembali ia rasakan dimana ia merasa apapun yang dia lakukan ia tidak bisa menang dalam pertarungan ini.
Ia tadi sangat percaya diri untuk menantang sang elf tersebut tapi kenyataannya ia dihempaskan hanya dengan satu ayunan Tombak semata.
“Sepertinya tadi kau cukup percaya diri, apa percaya diri itu sudah menghilang.” Balas Lawannya.
“Untuk ukuran seorang elf yang sudah tua Sepertinya kau elf yang terlalu banyak bicara,” balas Aether mengejek.
Sekarang daripada terus berada dalam situasi terpojok ia berusaha mengambil inisiatif serangan, walaupun perbedaan level mereka sudah berbeda Jauh tapi Aether masih memiliki stat (RIFT) yang dapat ia gunakan untuk mempersipit kesenjangan perbedaan kekuatan antara mereka.
Saat stat tersebut mulai aktif, Serangaan dari lawan yang awalnya sangat sulit ia ikuti mulai dapat terlihat sehingga Aether mulai bisa memberikan perlawan, walaupun itu ia masih belum bisa mendaratkan sebuah serangan.
Walaupun seperti itu Aether sama sekali tidak masalah karena selama ini berlasung cukup lama Maka Aether adalah orang yang diuntungkan dalam hal tersebut, di luar tujuan utamanya adalah untuk menahan elf ini.
Jika dilihat dari pertarungan yang sebenarnya Aether memiliki [Death tempo] yang dapat membuat setiap detik dalam pertarungan yang lebih lama akan menambah kecepatannya dalam bertarung.
Skil di aktifkan.
MOON SPLINTER
Skil aktif
Mengalirkan semua kekuatan yang dimiliki kepada ujung tombak, efek serangan yang dihasilkan tergantung dari seberapa banyak serangan tombak yang dapat didaratkan dalam waktu 30 detik
Efek dari setiap tebasan adalah 200%
Coldown: 60 menit.
Saat merasakan efek dari [Death tempo] yang dimiliki sudah mencapai batasnya meningkatkan kecepatan yang dia bisa, Aether segera mengaktifkan skil terkuat yang dia miliki, yang mungkin satu satunya skil yang dapat memberikan luka kepada lawannya yang sangat kuat.
Aether terus mengayunkan tombaknya untuk menyerang lawan, beberapa serangan awal dapat dihindari namun Aether terus mengayungkan tombaknya hingga IA bisa mendararatkan serangan.
“Serangan yang bagus, tapi itu masih belum cukup,” ucap lawan yang baru saja menangkis serangan pertama dari Aether setelah mengaktifkan skillnya.
“Arrrh,”
Aether sangat frustasi karena, tapi pertarungan seperti ini yang sebenarnya sangat di dambakannya Sehingga rasa frustasi itu membuatnya sangat bersemangat untuk lanjut bertarung.
Ayunan pertama di tahan, ayunan kedua juga ditahan, dalam ayunan ketiga ini Aether sedikit merubah ayunan tersebut dengan jika biasanya ia akan menggunakan ujung runcing untuk melakukan serangan, dalam ayunan ketiga ini ia melakukan sebuah gerakan tipu aether berusaha membuat gerakan seolah olah tombaknya itu terlepas dari genggamannya.
Tapi sepertinya gerakannya itu sudah terbaca, “Kau berusaha menipu seorang ahli dengan gerakan Seperti itu, aku harus mengatakan kau terlalu naif apa bodoh,” balas lawannya yang berhasil membaca serangan dari Aether.
Kuncinya ia hanya berfokus pada pergerakan dari Aether Sehingga mau seperti apapun gerakan itu akhirnya akan dapat dengan mudah di temukan, “Begitunya,” balas Aether yang sedang tersenyum.
Seketikah Rangga langsung keluar dari dalam cincin yang dimiliki aether dan melemparkan beberapa tombak, ke dalam area bertarungnya.
Saat rangga melemparkannya beberapa tombak lemparannya itu menargetkan lawan dari Aether, sehingga perhatian dari lawannya Sempat teralihkan, Aether memanfaatkan kesempatan dengan segera mendaratkan sebuah tendangan hingga Lawannya kehilangan keseimbangan.
Dengan efek dari [Moon splinter] yang masih aktif sehingga Aether segera mengunakannya untuk terus membuat luka kepada lawannya. Beberapa kualitas tombak yang Rangga lembarkan hanya kualitas paling rendah dan memiliki durability yang sangat rendah sehingga hanya dengan satu pukulan saja tombak dari Aether akan hancur.
Tapi semua itu sudah Aether Waspadai makanya ada puluhan tombak yang ada di sana Sehingga setiap Ada tombak yang hancur Aether dapat menggunakan yang lainnya , setelah itu Aether memang terus mendaratkan sebuah serangan kepada lawannya hingga waktu dari skillnya benar benar habis.
Namun disana ia menemukan sebuah kesempatan dimana Aether bisa melihat sebuah cela untuk Aether bisa menusuk jantung dari lawannya, hingga dengan segenap kemampuan yang dia miliki ia berusaha melakukan serangan terakhir.
Walaupun tidak menggunakan skil ia berusaha mengambilnya, tapi sepertinya lawan sudah menduga akan hal ini, terlihat dengan adanya jeda untuk Aether berpikir membuat lawan bisa mengambil alih kembali tubuhnya Sehingga ia bisa melakukan persiapan.
Sehingga saat Aether menyerang untuk serangan penghabisan tersebut, tusukan tombaknya segera di tangkis dan Aether juga mendapatkan sebuah balasan serangan berupha tendangan dari Lawannya.
Dengan dipukul mundurnya Aether, lawan terlihat memanfaatkan kesempatan untuk menuju ke arah belakang rekannya.
“Beri aku sedikit waktu, maaf tapi tadi aku sedikit ceroboh,” ucapnya meminta maaf kepada rekannya.
“cih,” terlihat rekannya sangat jengkel melihat elf itu terlalu ceroboh hingga ia bisa terkena serangan dari lawannya.
Ini benar menganggu moodnya yang sedang asik mempermainkan para lawannya, dengan berbagai makhluk panggilan yang ia miliki ia terus menyulitkan musuh musuh yang ada disana.
Mereka cukup beruntung karena di pihak mereka ada Enzy yang merupakan seorang anak tuhan dan Renata yang juga memiliki berkah dari dewi Gaia yang cukup banyak sehingga mereka bisa memberikan perlawan kepada pasukan kegelapan dari lawan.
Karena terlihat lawan dari Aether mundur, Aether juga harus membantu rekan rekannya yang dalam keadaan kesusahan.
Beberapa dari mereka memuji bagaimana Aether bertarung termasuk Aldo yang senang melihat perkembangan tuannya yang sudah seperti itu, “Untuk sekarang biarkan aku yang mengendalikan kalian,” ucap Aether.
Ia mulai mengaktifkan skill dalam berperang nya, tentu yang paling utama adalah [military command nya]. Ia mengatakan ini untuk membuat para pasukan yang dimiliki oleh North dapat seimbang dengan pasukan yang dimiliki lawannya.
Dengan bantuan dari enzy seharusnya para Skelton mereka yang berbeda kekuatan dapat mencapi imbang jika terus seperti ini.
Tapi sebuah perubahan situasi terjadi saat di depan mata mereka elf yang awalnya terluka oleh Aether sekarang malah memberikan sebuah serangan kejutan kepada rekannya.
“Kau,” ucap Oni itu yang berbalik melihat sang Elf.
“Dari awal aku memang tidak berniat untuk bergabung dengan kalian, aku hanya datang untuk melihat dan mencari informasi, tapi karena kalian malah berusaha untuk menyerang muridku tercinta terpaksa aku harus memperlihatkan jati diri yang sebenarnya,”ucap elf itu yang memperlihat muka aslinya kepada semua orang yang ada disana.
Yang tidak lain adalah Baron Seorang elf yang dulu mengajarkan Aether dalam menggunakan Tombak sebagai sebuah senjata.
Setelah mengucapkan hal tersebut, Baron terlihat menarik tombaknya dan langsung memengal kepada dari sang Oni, semua yang ada disana kebingungan dengan perubahan situasi yang seperti ini.