
Semua penonton merasa terhibur, walaupun mereka sedikit bermasalah bagaimana membosankan pertarungan aldo, dan Aldo yang kembali merusak pertarungan pengguna tombak itu melawan enzy.
"Sepertinya pertarungan akhir akan dilakukan,"
"Karena fiwi telah berhasil mengalahkan lawannya, aldo tidak perlu lagi membantunya, sehingga sekarang ia tinggal berfokus membantu nomos melawan musuh utamanya.
Dan memang terlihat setelah kemunculan para pegawai takkalasi secara perlahan satu persatu death knight yang ada berhasil mereka kalahkan.
. . . . . . . . . .. . .
Kembali lagi saat aether masih bertarung melawan demon besi dalam sebuah pertarungan satu lawan satu.
Aether saat itu membutuhkan banyak waktu untuk membuat nya terbiasa dengan cara bertarung lawan.
Sehingga, walaupun ia terus mendapatkan tekanan lawan ia sama sekali tidak terpengaruh, apalagi ia juga sering seperti itu sehingga bacotan bacotan lawan tidak berpengaruh kepadanya.
Yang ia lakukan dalam barier yang ia ciptakan sendiri sebenarnya hanya terus menghindar, kadang- kadang ia akan menahan serangan yang tidak bisa ia hindari.
"Kau!"
Tapi yang perlu dipuji dalam hal ini terlihat lawan mengetahui apa yang Aether sedang lakukan sehingga ia sadar melihat sejauh apa aether bisa mengetahui cara bertarungnya.
Semakin lama ia bertarung ia merasakan ada yang aneh pasalnya barier yang awalnya cukup luas kini semakin menipis, sehingga ruang bertarung mereka menjadi semakin terbatas.
Ini menurutnya aneh karena walaupun ruangan yang ada disini semakin mengecil, tap elf yang dia lawan terlihat khawatir malah ia terkesan mengulur waktu.
"Ada apa bukannya kau tadi terlihat sangat percaya diri?" Aether terlihat tersenyum melihat lawannya yang terlihat panik.
"Kau, ini bukan barrier area untuk bertarung bukan?" Balasnya.
"Ya benar, ini barier untuk menyegel mu, sekaligus latihan untuk menyegel orang yang memanggilmu kedunia ini."
"Kau terlihat sangat percaya diri untuk orang yang telah ketahuan, aku hanya perlu membunuh sebelum segel ini selesai bukan."
Aether tidak membalasnya, ia hanya bergerak maju, untuk meneladani gaya bertarung lawannya, karena sudah ketahuan ia tidak lagi pura pura bodoh sehingga sekarang ia mulai menggunakan kemampuan terbaiknya untuk melawan.
"Kenapa, bukankah kau ingin membunuh ku,"
Sekarang aether berniat membalas dendam dengan terus mengejek lawannya, kalau masalah adu bacot ia sama sekali tidak kalah dengan siapapun.
Dalam pertarungan ini, aether telah menggunakan kemampuan tato menjadi lebih baik lagi, sehingga lawannya menjadi kebingungan.
"Sepertinya kau sedikit kebingungan, kenapa kemampuan tato ku masih berpengaruh bukan?" Ucapnya setelah mendaratkan sebuah serangan pedang kepada lawannya.
Serangannya bisa masuk karena lawannya itu terlihat bingung, akan kejadian yang menimpanya, padahal ia sudah menggunakan fithinting spiritnya untuk membuat kemampuan tato itu mati total.
Tapi sekarang ia masih kalah total bahkan masih terkena kemampuan tato yang dimiliki aether. Dan satu satunya yang membuat ini memunkinkan adalah jumlah fithing spirit yang di miliki aether jauh lebih tinggi dari apa yang dia miliki saat ini.
"Sebenarnya jika saja kita bertemu sebelum aku membantai pasukan immortal yang ada di perang kali ini, aku mungkin bukan lawan yang cocok untukmu. Tapi saat ini aku sudah berkembang pesat sehingga tidak mungkin aku kalah denganmu."
Balas aether yang melakukan penyelesaian akhir untuk penyegelan musuhnya itu, "aku membuang waktu terlalu lama untuk membuat demon sialan itu tersegel," gumamnya melihat kalau perang disini juga sudah selesai.
Masih ada beberapa pertarungan yang terjadi disana tapi ia melihat tidak ada lagi demon tingkat tinggi sehingga ia beranggapan kalau mereka bisa memenangkan pertempuran.
"Aku harap aku tidak kehabisan pertarungan ashura yang ada nantinya tapi untuk sekarang mari lihat bagaimana keadaan orang orang yang ada di desa."
Setelah bergumam seperti itu Aether segera login dan memeriksa karena ia yakin pertempuran juga telah terjadi di sana.
Karena melihat orang-orang di desa dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik, ia bahkan memberikan sedikit bocoran bagaimana cara kerja kekuatan para immortal.
Aether kembali masuk untuk segera menyelesaikan dungeon mimpi buruk ini, karena ia telah mengambil jalan yang berbeda, alur pertempuran sudah berbeda jauh.
Bahkan sampai saat ini belum ada satu pun dinding yang di terobos, ini merupakan sebuah pencapaian terbesar yang pernah dilakukan oleh elf yang mengikuti tes ini.
Aether saat ini sedang mencari jalan untuk memberikan bantuan sebanyak mungkin pada rajanya, setelah sampai di tempat pertarungan Aether tidak langsung membantu.
Ia di awal memperhatikan bagaimana sih sebenarnya kemampuan seorang Asura itu.
Ia berniat melihat untuk mempelajari kemampuan bertarung seperti itu.
Tapi saat melihat cara bertarungnya ia menemukan kalau cara bertarung seorang asura itu seperti apa yang dia harapkan, sehingga saat melihatnya ia tidak terkejut.
Ia sekarang bingung kenapa ia bisa mendapatkan [ shield mastery], sedangkan saat ini yang dia lihat gaya bertarung dari asura ini sama sekali tidak membutuhkan tameng.
Jika boleh bilang sesuatu yang manarik, maka aether malah lebih tertarik dengan kemampuan lawan sang asura, yang tidak lain adalah Barak.
Ia terlihat tanggu bahkan mengimbangi kemampuan bertarung jarak dekat seorang Ashura.
Ia ingat salah satu skil seperti itu hanya pernah ia lihat di miliki orang orang dari gereja, dimana pihak gereja bisa meminjam kekuatan malaikat untuk bertarung.
Tapi sepertinya lich ini mengunakan jiwa pasukan kematianya untuk di pinjam sehingga jika ia meminjam dari jiwa seorang ahli pedan maka ia akan menjadi seorang ahli pedang.
Hal ini yang merepotkan asura karena cara bertarung Barak yang berubah ubah, di kejauhan Aether terus memperhatikan sambil menunggu sebuah cela untuk masuk.
"Sepertinya video ini akan menjadi video terbaik bulan ini," gumamnya melihat pertarungan terus terjadi.
Aether sudah membayangkan bagaimana uang yang akan dia dapatkan jika sampai video ini beredar di pasaran.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya momen yang dia tunggu akhirnya tiba, terlihat barak sedang berusaha melakukan serangan penghabisan kepada sang Asura.
Ia terlihat sangat yakin kalau kali ini mereka bisa memenangkan pertempuran karena sang Asura terdesak, dan jika sang Asura mati, walaupun hingga saat ini ia belum bisa merusak dinding kekaisaran itu hanya masalah waktu jika asura sudah bisa ia kalahkan.
[Cover mode]
Hal pertama yang aether lakukan adalah memberikan efek terkejut kepada lawan. Dengan menahan serangan penghabisan dari barak tentu membuat lawannya itu terkejut.
"KAU!!"
Terlihat barak yang emosi melihat Aether yang muncul secara tiba tiba, dan kembali mengangu rencananya.
Namun Aether tidak peduli, selanjutnya menggunakan [blink] ia segera berpindah kebagian belakang musuh dan memasang segel yang dari tadi ia sudah persiapkan.
Dari tadi ia tidak hanya menonton dan menunggu, tapi juga melakukan persiapan untuk melakukan segel untuk menyegel pergerakan dari barak.
"Bagus, terus tahan pergerakannya," ucap asura yang melihat Aether berhasil memasang segel kepada barak.
Sepertinya ia berniat untuk menambah segel yang aether sudah pasang, mendapatkan perintah seperti itu aether segera menurut, dan menambah barier lain sehingga barak tidak bisa bergerak.
[soul prison]
Terlihat di belakang sang asura muncul sebuah malaikat kematian yang bersiap menarik jiwa dari barak, Aether terus melihat bagaimana proses semua itu terjadi.
Setelah selesai terlihat sang Asura terlihat kelelahan, sehingga Aether segera datang untuk memberikan bantuan kepada tuanya itu.
"Dengan seperti ini, walaupun ia bisa bebas dari barier dan segel yang kamu pasang kepadanya. Ia pasti tidak akan bisa mendapatkan setengah kekuatannya."
Ia menjelaskan kepada Aether maksud dari alasan ia melakukan segel kedua kepada barak.
Ia tahu kalau segel dari aether adalah sebuah kuat yang sangat sulit untuk lepas tapi ini semua untuk jaga jaga untuk generasi yang akan mendatang.