VOF (The Legend of Spear Master)

VOF (The Legend of Spear Master)
melawan pahlawan Goblin



Dan mereka seperti tidak diberi kesempatan untuk tenang selama mungkin dengan rangga yang telah menyebarkan clonnya sejauh mungkin ia menemukan pergerakan dari sebuah kelompok goblin besar.


Dan setelah Mereka teliti bersama dengan Evan yang berusaha melihat siapa yang akan memimpin kelompok goblin itu, setelah tahu siapa yang memimpinnya mereka tidak tahu harus tersenyum atau menangis karena itu.


Pasalnya yang datang tidak main main merupakan pahlawan Goblin sendiri,  sehingga bagaimana kuatnya pasukan yang akan datang itu bisa dibayangkan bagaimana mengerikannya pasukan itu.


“Sial, sial, sial, kenapa harus sekarang setidaknya aku berharap mereka datang setelah ada north disini,” gumamnya.


Tapi karena Aether tidak bisa mengandalkan seseorang maka mereka hanya bisa bertahan  dengan kemampuan seadanya, dengan bantuan dari Evan mereka berusaha mengatur jebakan untuk membuat para Goblin tidak sampai di desa.


Aldo menerangkan untuk melangsungkan  pertarungan di luar desa untuk menimaliri adanya kerusakan yang bisa terjadi di desa, dan jika memang mereka tidak bisa mengalahkan pasukan tersebut orang orang yang ada di sana dapat mengunci.


Aether setuju Dan mengajak orang orang yang bisa bertarung untuk segera menghadapan dengan para Goblin, Awalnya ia tidak ingin Zegion dan kumara ikut dalam pertarungan tersebut tapi kedua anak itu bersikku ikut dalam pertarungan.


Aldo juga memberikan izin kepada Mereka sehingga Aether juga tidak bisa berbuat apa-apa,  mereka pun mula berusaha melancarkan serangan, “Kalian Berdua gunakan Skil membelah diri kalian sebanyak mungkin. “


Aether segera memberikan perintah kepada Aldo dan Rangga, Untuk Awal ia ingin memberikan serangan berupa efek kejutan kepada Wico yang merupakan seorang pahlawan Goblin.


Walaupun ia tahu kalau Clon clon itu akan mudah kalah, Tapi ia berharap Itu bisa membuat banyak efek kejutan kepada pasukan lawan sehingga pasukan dari Evan bisa membunuh banyak Goblin dalam Keadaan tersebut.


“Bisakah untuk Bosnya biar aku yang mengurusnya,” ucap Aether kepada Evan dan Aldo.


Aether yang melihat sepertinya Wico merupakan seorang pengguna Tombak dan sebuah perisai ini membuat minat Aether menjadi lebih mengebuh ngebuh untuk mengalahkan Goblin itu.


(Ada kemungkinan Aku menulis Wico di chapter awal sebagai pengguna pedang, tapi karena ada perubahan cerita Maka ia akan tercipta sebagai pengguna tombak yang di tangan satunya terdapat sebuah perisai)


“Untuk Anak buahnya serahkan itu kepada Kami.” Ucap Aldo yang mulai mengaktifkan skillnya bersama dengan Rangga yang sedang berada dalam mode slime.


Mereka saat ini sudah bisa memanggil sekitar seratus buah clon untuk menyerang,  seekor monyet dan sebuah slime yang sangat lucu bekerja sama untuk menyerang sekelompok elit goblin.


Pasukan ini tergolong kecil, untuk hitungan Goblin yang dari kemarin terlihat ini hanya pasukan yang berada dalam desa kecil yang biasa Aether bunuh bersama dengan Aldo, tapi pasukan yang ada di dalam sana sangat berbeda mereka terdiri dari para elit. Sehingga sangat sulit untuk mengalahkan mereka.


“Pengembang sialan seperti konsep dari Goblin ini meniru pasukan sparta yang telah melegenda itu?” setelah Aether perhatikan lagi para goblin ini meniru penampilan dari pasukan sparta yang terkenal kekuatannya.


“Setelah aku mengalami bentrokan pertama dengan pasukan mereka kau segera perintahkan pasukan untuk menyerang,”  Ucap Aether yang juga mulia  melompat.


Sepertinya biasa ia memulai serangan dengan fitting sprit miliknya, tapi untuk pertama Kalinya Status fighting spirit yang dimilikinya sama sekali tidak berefek kepada para goblin terutama para elit yang berada di samping wico.


Sedangkan beberapa anak buahnya terlihat masih mendapatkan beberapa pengaruh Sehingga Saat Evan menyerang dengan panahnya ia masih bisa membunuh beberapa Goblin,


Karena tidak bisa menerobos pasukan ini, Aether merubah rencananya dengan menggunakan skillnya galaksi spiral, ia mengarahkan tombaknya kepada wico terlihat kalau lemparan tersebut berhasil mengarah ke Wico namun terlihat berhasil di tangkis dengan baik olehnya.


Setelah melihat Serangannya Gagal Aether segera menarik tombaknya kembali, “Aku Aether seorang elf tangguh aku menantangmu wico sebagai pahlawan dari para goblin untuk bertarung satu lawan satu denganku.”


Sebuah keputusan  yang sangat baik dibuat oleh Aether semua orang yang ada disana tercengan dengan keputusan yang tiba tiba tersebut, pasalnya mereka tidak ada yang menyangka kalau Aether benar benar  berani melakukan tangannya.


“Hahaha, walaupun aku tidak suka para elf yang sangat sombong, sepertinya kau adalah yang berbeda jadi seharusnya tidak masalah untuk menerima tantanganmu,” ucap wico sambil menghentak hentakkan tombaknya.


“bagus sepertinya ia memakan  pancingan,” gumamnya dalam hati, setelah sang pahlawan sudah mengambil umpannya sekarang ia hanya perlu mengalahkan sang pahlawan ini.


Tapi segera ia sadar kalau ini akan menjadi pekerjaan yang sangat sulit, Aether sadar setelah melihat level dari Wico yang terlihat sudah mencapai Angka 200. Sedangkan levelnya sendiri baru 176 sehingga perbedaanya sudah terlalu sangat jauh.


Apalagi Wico adalah tipe Bos monster tentu level itu tidak sama dengan level monster level 200 pada umumnya.


(Ini lah jadinya kalau bukan Gamers, sok-sokan menulis cerita seperti ini perhitungan level menjadi kacau. Jadi  saya akan memperbaikinya beberapa chapter dari awal lagi supaya perhitungan levelnya menjadi lebih baik. Yang selalu ku ingat batas levelnya 100 sedangkan aku melupakan kalau sebenarnya aku menulis kalau perkembangan batas levelnya level 200.)


(Jadi untuk para pembaca yang sudah sampai disini mohon maklumi dan saya akan segera memperbaikinya jika ada yang masih mengingat level mana saja saya menjelaskan level dari tokoh utama maka tolong bantuannya dengan berikan komentar dibawah.)


Tapi ia masih berharap, bisa menutupi kekurangan itu dengan kemampuan pribadinya, pertarungan segera terjadi semua pasukan yang ada segera memberikan  ruang kepada Aether dan wico untuk bertarung.


Orang-orang dari desa mulai berdoa untuk Aether bisa memenangkan pertarungan, Aether adalah seorang asura sehingga  Aether harus  percaya diri dengan kemampuannya, statusnya adalah Job tertinggi, sehingga walaupun levelnya rendah tapi statistik statusnya tidak kalah dengan warrior berlevel tinggi.


Saat bertarung satu lawan satu terlihat Wico tidak menggunakan tombaknya, ini membuat Aether merasa sedikit di remehkan, tapi itu tidak mengganggunya karena ia tidak bisa kalah dalam pertarungan ini.


Benturan senjata segera terjadi, dan Aether sepertinya kalah dalam hal kekuatan, sehingga Aether berusaha mengaktifkan death temponya untuk membuat kecepatannya semakin baik, “Bagus sangat jarang ada manusia yang bisa mengimbangiku seperti ini,” Ucap Wico yang senang dengan Aether yang terlihat cukup tangguh.


“Tapi ini sama sekali belum cukup,” lanjutnya membuat sebuah ayunan tombak yang kuat dan langsung mendorong Aether mundur.


Setelah mundurnya Aether Wico tidak membiarkan momentumnya rusak sehingga sekarang ia yang balas menyerang aether  sehingga Aether dalam keadaan terdesak, dalam keadaan itu Aether mai tidak mau mengaktifkan Galaksi spiral, sebuah skil yang membuatnya dapat membuat serangan Tampak sebanyak 8 kali  ke arah lawan.


Itu terlihat sangat mengejutkan bagi wico namun mereka masih bisa bertarung dengan cukup baik sehingga serangan serangan tersebut masih bisa dihindari tapi ada beberapa serangan dari Aether Yang masuk termasuk serangan terakhir yang memiliki kerusakan yang cukup besar.


 Dalam serangan  itu Aether menunjukkan celah yang cukup besar yaitu setelah serangan terakhir di luncurkan, dan Wico memanfaatkan celah tersebut untuk memberikan serangan kepada Aether, walaupun ia mendapatkan luka yang cukup para dari serangan Aether.


Tapi Aether juga saat ini juga mengalami luka yang jauh lebih besar dari Wico sehingga terlihat kalau ini kekalahan telak untuk Aether.