
Setelah kedatangan Boni dan para Sedap para Archer Segera mendapatkan pergerakannya kembali sehingga semua orang yang ada disana langsung berusaha melakukan tugas -tugas Sesuai dengan apa yang diperintahkan.
Di tengah mereka yang saat ini sedang saling berhadap hadapan, dan diantara mulai muncul seorang Death knight yang terlihat paling menonjol.
“Melihat dari penampilanmu, dan senjata yang kau gunakan aku bisa tahu kalau kau Romario, ksatria yang terkenal cara membunuh secara diam -diam.”
Terlihat seorang ksatria dengan Sebuah pedang besar di punggungnya dan Sebuah pedang pendek yang berada di pinggangnya hal itu dapat membuat Aldo menebak identitas dari mereka.
Tentu aldo sangat mengenali orang itu karena cara bertarung yang Aldo gunakan saat ini sangat terinspirasi dari orang ini.
“Aku tidak menyangka kalau anak jaman sekarang masih ada yang mengetahui namaku, walaupun itu aku sedikit terganggu setelah melihat itu Monyet yang menggunakanku sebagai sebuah inspirasi.”
“Ini tidak adil kenapa kau di ingat, yang tidak memiliki prestasi apa- apa sedangkan aku yang berhasil menjadi pahlawan tidak ada yang mengingatku,” ucap seseorang yang menggunakan tombak.
“Jika kalian yang berasal dari zaman yang sama, seharusnya tombak petir dari Toraja,” ucap Aldo memperkenalkan orang yang baru saja protes karena tidak ada yang mengenalinya dari tadi.
“Dan satunya lagi kalau tidak salah pedang tanpa wujud dari kerajaan Wajo,” Aldo sudah memperhatikan orang kuat dalam medan perang ini.
Masih ada beberapa orang kuat lainnya tapi hanya itu yang ia kenali yang kebanyakan memang orang -orang ia kenali adalah orang orang yang mencapai puncak dalam pengguna senjata.
“Mungkin kalian tidak mengenalku karena aku berada di bawah generasi kalian tapi dulu aku terkenal Sebagai pedang darah dari timur, tapi sekarang aku lebih disebut sebagai monyet sakti dari Takkalasi,” Aldo terlebih dahulu memperkenalkan dirinya.
“Berhenti basa- basinya, mari mulai pertarungan ini,” ucap orang yang menggunakan pedang besar tadi.”
“Maaf, dan aku juga mengalami perasaan yang sama, dan aku juga berniat memulainya.”
Pihak Aldo ada Kumara, Fiwi, North, Lawalata, Enzy dan Vanessa yang memimpin pasukan mereka masing masing.
“Usahakan jangan melawan mereka dalam pertarungan satu lawan satu, kalian Sendiri sudah melihat bagaimana cara mereka bertarung dan untuk semantara ini kalian tidak ada dari kalian yang bisa mengalahkan mereka dalam pertarungan satu lawan satu Sehingga usahakan untuk bertarung dalam pertarungan satu lawan dua.”
Segera Setelah pertarungan itu segera terjadi Aldo akan menghentikan pergerakan dari pengguna pedang besar tadi.
Dalam benturan pertama mereka, Ia sudah disuguhi dengan sebuah bom asap yang sangat pekat untuk membatasi pandangan dari Aldo.
Tapi sepertinya musuh tidak tahu kalau cara seperti ini tidak akan berhasil kepada Aldo, sehingga saat menyerang ia terkejut bukan main karena Aldo dapat menangkis Setiap serangannya.
Sebenarnya Aldo sangat menyukai gaya berpedang dari orang ini tapi terlepas dari itu ia juga sangat tidak menyukai cara pertarungannya yang terlihat bukan seperti seorang ksatria.
Aldo tahu kalau backgroundnya memang bukanlah Sebuah ksatria melainkan seorang tentara bayaran Sehingga cara bertarungnya memegang terkesan brutal Seperti ini.
“Sepertinya nama mu itu hanya Sebuah nama yang di lebih- lebihkan,” ucap Aldo sambil tersenyum mengejek.
Lawan Aldo terlihat tidak terpancing dengan perkataan dari Aldo ia malah terlihat tersenyum “Sepertinya kau benar- benar berhasil untuk memodifikasi cara bertarungnya,”
Balasnya melihat Aldo bukan hanya berhasil memodifikasi cara bertarung yang selama ini dia bangkan.aldo juga berhasil mengatasi beberapa kekurangan yang ada dalamnya Sehingga orang itu tahu kalau Monyet ini bukalah monyet sembarangan.
Tidak hanya Aldo yang mendapatkan lawan, Kumara bersama dengan Enzy bekerjasama untuk melawan orang yang menggunakan tombak.
Terlihat mereka lumayan kesusahan untuk melawan orang ini, tapi karena mereka berasal dari gereja memiliki sedikit keunggulan untuk melawan seorang Death knight terutama Enzy yang merupakan Seorang anak tuhan tentu memberikan tekanan sendiri untuk lawannya
“Aku tidak menyangka Di jaman Seperti ini aku akan ditekan oleh Seorang anak -anak,” ucapnya setelah melihat Enzy dan Kumara yang berhasil menemukannya.
Walaupun tubuh dari kumara lumayan besar untuk seusianya kemampuannya lumayan bahkan sangat tinggi Sehingga ia Sedikit takjub akan hal itu.
“Tentu, jujur saja kemampuan bertombakmu tidak membuatku terkejut,” ucap Kumara sedikit mengejek lawannya.
“HAHaha, itu bagus nak, jika kau sudah terpikat dengan sebuah permainan tombak seperti ini, itu hanya akan merusak ekspektasiku terhadap mu,” balasnya sambil tertawa.
Sambil mengatakan itu terlihat ia Sudah meningkat gaya bertarung nya hingga awalnya ia yang terketekan kini ia berbalik untuk menekan lawannya.
“Untuk seorang pengguna Sabit, tempo langkahmu sangat kacau!” di sela pertarungannya ia masih sempat memberikan sebuah arahan kepada Enzy yang terlihat berusaha mengimbangi gaya bertarung dari kumara.
“Jangan mengajariku!” tegas Enzy yang sedikit tidak terimah di ajari oleh seorang death knight.
Ia akan berpikiran terbuka dengan siapapun yang memberikannya sarang kecuali orang itu adalah seorang death knight.
“Hahaha Seperti biasa seorang dari Gereja memang terlalu keras kepala,” balasnya.
Karena enzy terlihat keras kepala membuatnya hanya bisa bertarung dan melihat apa yang mereka bisa lakukan kepadanya.
Di posisi yang berbeda ada Fiwi dan Vanessa saling bekerja sama untuk melawan sang pengguna pedang tanpa wujud dari Wajo.
Sebenarnya saat dari awal kebangkitan mereka Revo dengan pedang tampa wujudnya sudah menghadang Fiwi yang terlihat ganas saat berhadapan dengan lawan lawannya.
IA bahkan berhasil melukai Fiwi dengan cukup parah tapi sekarang luka tersebut sudah beregenerasi apalagi luka tersebut juga sudah dipulihkan oleh orang orang dari gereja.
“Jadi sekarang kau meminta bantuan dari gereja untuk mengalahkanku?” balas Revo mengejek.
“Seperti yang kau lihat,” balas Fiwi Singkat dan langsung menerjang untuk menghadang revo.
Vanesa hanya melihat dari jauh karena itu memang tugas yang di berikan fiwi kepadanya, yang perlu ia lakukan adalah tidak membuarkan Fiwi mati dengan kata lain ia hanya perlu h untuk terus memberikan Heal kepada Fiwi saat ia berada dalam keadaan kritis.
“Sepertinya kalian mendapatkan pertarungan yang kalian inginkan bukan?” ucap Vanessa tersenyum kepada para viewer yang ada sekarang.
Di tempat pertama ada Aldo melawan Romario, itu adalah ertarungan sesama ahli sehingga tentu itu akan menjadi pertarungan yang paling di nantikan oleh semua orang.
Di tempat kedua ada enzy dan kumara melawan Reaksi sang tombak petir, kalau melihat sekilas ini adalah pertarungan kecepatan, dimana orang orang yang ada siana adalah seorang ahli dalam menggunakan kecepatan Sebagai senjatanya.
Ketiga akan ada banyak orang yang akan berpendapat kalau pertarungan ini akan menjadi pertarungan penuh darah, dimana ini akan menjadi duel Revo melawan tembok pertahan dari desa Takkalasi yaitu Fiwi.