VOF (The Legend of Spear Master)

VOF (The Legend of Spear Master)
para elf dengan masalah kesombongan



Aether terlihat sangat puas dengan membunuh salah satu prajurit dari lawannya, “Aku sudah bilang bukan! Jika masalah berperang aku sama sekali tidak takut,” ucapnya setelah itu ia mengetukkan jarinya.


Jentikan jari tersebut, terlihat biasa namun akhirnya pihak dari kerajaan sadar  ada yang salah dengan pohon pohon yang ada di sekitar.


 Dan setelah mereka lihat lagi sudah ada ratusan Elf yang terlihat bersiap untuk menembakkan panah ke arah mereka.


“Tunggu, tunggu, tunggu, kami disini bukan untuk berperang kami ke sini hanya untuk melakukan pebicaraan dengan suku elf yang ada disini,” ucapnya secara tergesa gesa.


“Kalau kau ingin melakukan pembicaraan dengan mereka datanglah 3 hari dari sekarang, kami baru saja mendapatkan serangan jadi mundur, atau kami menyerang kalian,” ucap Aether terlihat tegas.


“Jika kau tidak mundur kami bisa beranggapan kalau serangan dari para elf baru baru ni di sebabkan oleh kerjaan kalian,” lanjut Aether yang membuat mereka tertekan.


Beberapa elf juga mulai menarik busurnya, mereka hanya tingal menunggu perintah dari Aether maka Semua panah itu akan segera di lepaskan.


“Baik, baik, baik, kami akan mundur dan setelah tiga hari kami akan datang secara baik baik untuk melakukan pembicaraan.”


Setelah mengucapkan hal tersebut para elf yang ada di sana terlihat menurunkan panah mereka dan mundur secara perlahan.


Pasukan itu juga segera mundur, sesuai dengan apa yang mereka sepakati, melihat itu Aether hanya tersenyum, karena  ia berhasil membodohi sebuah pasukan yang cukup besar hanya menggunakan clon dari rangga. Yang berubah menjadi  mirip dengan para elf.


Semua elf yang ada di atas pohon hanya sebuah koin yang tidak memiliki kemampuan untuk menyerang, sehingga Apa yang Aether lakukan tadi hanya Sebuah gertakan tapi sepertinya gertakan itu berhasil dengan cukup baik.


“Satu lagi video yang harus mendapatkan View cukup besar datang,:” gumamnya ya sambil berjalan jalan menuju tempat dimana para elf itu berada.


Setelah cukup lama rangga juga menyusul dalam bentuak slimennya, “Kerja bagus kawanm, untuk sekarang istirahatlah.” Ucap Aether yang menyuruh Aether istirahat karena ia tahu tadi itu cukup melelahkan untuk Rangga.


Setelah memberikan respon kepada  rangga segera memasuki sebuah cincin yang memang telah menjadi tempatnya dari dulu.


Ia tahu dari pesan kalau saat ini renata telah sampai di tempat para elf itu berada, tapi setelah Aether selesai mengusir para pendatang itu pasukan itu renata terlihat tidak lagi membalas pesannya.


Walaupun seperti itu Aether sama sekali tidak khawatir karena ia bisa melihat kalau saat ini masih aktif yang seharusnya  renata masih dalam keadaan yang baik baik saja.


Tapi setelah ia sampai di sana ia akhirnya mengerti alasan Renata tidak membalas pesannya pasalnya saat ini ia terlihat sedang kebingungan menghadapi para elf yang terlihat mengerumuninya.


“Hemm,” gumam aether.


“Sepertinya kalian benar benar menguji kesabarankunya,” ucapnya mengeluarkan salah satu tombak yang ia miliki dan segera menggantifkan Weapon Auranya, dengan  setelah itu ia mengeluarkan sebuah tebasan yang segera membelah kerumunan tersebut menjadi dua


Saat Aether ingin melanjutkan serangan selanjutnya, Ia segera dihentikan oleh salah satu elf yang membawanya, ia memohon kepada aether untuk berhenti, Sepertinya yang satunya lagi berusaha menenangkan kepala desa.


“Untuk sekarang aku berhasil mengusir orang yang ingin mengejar kalian, aku tidak tahu apa yang mereka inginkan dari kalian satu hal yang pasti itu bukanlah sebuah hal yang bagus untuk kalian,” ucap Aether segera meninggalkan tempat itu.


Ia tidak benar benar meninggalkan tempat itu, ia masih berada di sekitar sana, karena Ia merasa Renata sudah cukup untuk berada disana Sehingga jika mereka berubah pikiran maka Ia bisa menghubunginya yang berada di sekitar sana.


Sedangkan renata saat ini terlihat sangat senang dengan tindakan Aether barusana, baginya tindakan Aether tadi adalah sebuah perasaan yang sering orang lain Sebut sebagai cemburu.


Saat ia mendapatkan pesan dari Aether untuk tetap tinggal disana dan melihat apa yang mereka bicara kan ia hanya mengatakan “IA,” karena saat itu memang sangat senang bahkan ia mungkin akan berterima kasih dengan para elf yang tadi menggodanya.


Sesuai dengan pesan dari Aether renata menyampaikan semua itu kepada para elf yang ada disana  sehingga mereka segera bersiap diri Sehingga saat mereka nantinya ada serangan mereka segera meninggalkan tempat ini.


Tapi Sepertinya merubah pendapat mereka tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena bukannya mencari jalan keluar dari masalah ini mereka malah sibuk untuk menyalahkan dua anak elf yang mereka anggap gagal.


Semua yang terjadi disana Renata laporkan kepada Aether, membuat Aether berpikir untuk meninggalkan tempat ini  dan membiarkan para elf ini berurusan dengan Kerjaan bua’e, tapi saat ia berharap seperti itu, salah satu anak kepala desa yang ada disana ingin bertemu dengannya.


Sehingga Aether memberikan anak itu buka dan setuju bertemu, dan jika mereka membuat keputusan yang menurut Aether tidak masuk akal Aether tidak ragu untuk meninggalkan mereka mengurus masalah ini sendiri.


“Hilal, jadi apa yang menjadi keputusan kalian, jujur saja aku tidak bisa ikut campur jika memang tidak diterima disini,” ucap Aether memulai pembicaraan.


Nama dari anak kepala desa itu bernama hilal, karena sudah melakukan perjalan bersama tentu Aether tahu akan namanya.


“Maaf, tapi jujur aku tidak tahu harus melakukan apa,” ucapnya membuat Aether sedikit terkejut.


“setelah melakukan perjalanan dan melihat dunia luar aku sadar Kalau perilaku kami terlalu berbahaya, tapi,,,,,” hilal saat itu menceritakan bahwa ia sangat tidak tahu harus melakukan ia tahu mereka dalam bahaya tapi saat ini belum memiliki kekuatan untuk menyakinkan para sesepuh dari sukunya untuk mendengarkan apa yang dia mau.


“Seperti apa yang aku katakan kemarin akan ada beberapa orang yang akan datang kesini yang sepertinya akan datang untuk memanggil salah satu perwakilan kalian untuk melakukan diskusi, ikutlah denganku untuk menjadi perwakilan sukumu untuk datang kesana, disana kau bisa melihat kalau tawaran mereka memang menguntungkan dan menurutmu orang orang di sukumu akan terima maka aku tidak akan menentukan kalian untuk bekerja sama dengan mereka, tapi jika nantinya syarat yang mereka ajukan tidak masuk akal kau bisa menceritakan kepada para sesepuh yang ada disini untuk segera meninggalkan tempat.”


Mungkin karena tergerak akan ketulusan dari hilal untuk menceritakan apa yang ada dalam pikirannya membuat Aether menarangkan sebuah ide yang memang terlihat masuk akal.


Jadinya Hilal tidak memiliki pilihan karena mau bagaimanapun hal ini harus mereka hadapi Sehingga tawaran dari Aether harusnya Segera direalisasikan.