VOF (The Legend of Spear Master)

VOF (The Legend of Spear Master)
musuh lama



Aether juga membeli beberapa perbekalan untuk mereka gunakan kedepannya, yang cukup dia sayangkan Adalah Armor yang di janjikan para Dwarf belum sempat ia ambil seandainya ia tahu hal ini akan terjadi maka IA akan menunggu armor tersebut selesai sebelum ia bergerak.


“Rangga berubah,”


Rangga yang saat itu terus menempel di kepalanya langsung melompat dan langsung berubah menjadi singa terbang yang siap mengantar mereka menuju rumah para elf ini, saat dalam perjalanan Aether tiba tba mendapatkan pesan dari Renata yang menanyakan keberadaannya.


Saat renata login ia bertemu dengan enzy, dan mendapatkan kabar kalau Aether saat ini berada di kota, Sehingga ia segera mengirimkan pesan kepada Aether, yang saat itu telah pergi lebih dulu menuju tempat para elf.


“Jika kamu memiliki waktu Tolong susul aku dan bantu aku menyelesaikan beberapa masalah.”


Karena takut masalah ini tidak hanya Sekedar para bandit yang menyerang para elf, IA menyuruh Renata untuk menyusulnya Setidak jika mereka tidak bisa menyelesaikan masalah yang ada disana IA bisa meminta renata untuk mengajak para Elf ini untuk pindah menuju desa Takkalasi.


Aether bukanlah seorang yang akan bergerak dengan hanya berdasarkan hati nurani semata, ia memang sedikit kasihan kepada mereka tapi IA juga menemukan sebuah Lahan untuk mencari keuntungan dalam keadaan ini.


Apalagi saat ini memang sedang tidak melakukan apa apa Sehingga ia berusaha untuk mencari keuntungan dari berbagai situasi yang ada di sekitarnya, dan ia tahu salah satu lahan paling terlihat menggiurkan adalah para WOOd elf ini.


Dari apa yang ether dengar  dari Yuno Sepertinya para elf ini terlihat memiliki harga diri yang sangat besar jadi sangat sulit untuk merekrut mereka, hal itu dapat terlihat dimana mereka menolak untuk membantu walaupun raja marintagae yang sebelumnya sudah berusaha melindungi mereka dengan baik.


Walaupun tadi ia berkata sangat bijak kepada Aiko, tapi Aether berpikir sebenarnya Aiko sudah cukup berbaik hati kepada para elf ini, jika itu Aether yang menjadi seorang raja dari maritengae dan mendapatkan pengalaman yang sama dengan Aiko mungkin setelah mendapatkan kembali tahta aether  sudah mengerahkan pasukan untuk membunuh mereka atau sekedar membuat para elf itu semua jadi budak.


Semua itu Ia pikirkan setelah mendapatkan cerita dari para Elf muda ini, yang ternyata merupakan anak dari kepala desa yang saat ini menjabat di desa mereka.


Bagi mereka marintagae adalah miliknya, sehingga apapun yang terjadi kepada kerajaan bukan urusan mereka yang mereka tahu kalau kerajaan Marintagae apapun yang terjadi harus melidungi mereka.


“Setelah mendengar kalian, aku ragu ini akan menjadi pekerjaan yang mudah,” gumam Aether.


“Maaf,” balas mereka berdua.


Setelah melihat Aether  sedikit marah mereka semua takut kalau Aether akan merubah pikirannya, saat Aether memberikan mereka waktu mereka semua membeli beberapa peralatan yang dapat mereka gunakan bertarung.


Waktu mereka membeli berbagai barang akhirnya mereka tahu siapa Aether Sehingga Sekarang yang awalnya meragukan Aether Kini merasa mengagumi nya karena mereka tidak menyangkan ada seorang Elf yang dapat menjadi seorang pahlawan bagi sebuah negara seperti kerajaan maritengae.


Aether terus meminta mereka untuk menjelaskan lebih rinci terhadap para penyerang yang terus mengganggu desa mereka, dan Disana Aether mendapatkan sebuah kejanggalan  dari penjelasan tersebut..


“Kau bilang mereka terlihat hanya terus mengangu kalian tambah melibatkan sebuah serangan yang sangat besar, atau mereka sama sekali tidak membunuh satupun elf yang kalah  dalam pertarungan?” Tanya Aether.


“IA,” jawab mereka.


“Aku harus jujur kepada kalian, tapi Sepertinya kalian harus bersiap dengan kemungkinan terburuk akan ada sebuah pertarungan yang lebih besar, atau pilihan terakhir kalian Akan pindah dari tempat ini.”


Awalnya ia berpikir kalau masalah ini sama dengan masalah yang terjadi dengan beberapa perbatasan yang sedang dihadapi kerajaan maritengae saat ini, tapi setelah mendengar pola serangan mereka yang terlihat berbeda.


IA tahu kalau tujuan utama mereka bukan untuk mengganggu kerajaan Maritengae tapi mereka memang mengincar para Elf.


Yang kemungkinan mereka saat ini hanya terus memancing para elf lainnya untuk keluar hingga saat yang tepat mereka akan bertarung dengan secara penuh dan mereka akan mendapatkan para elf ini dengan satu kali serangan.


Ia mulai mengehubngi North, jika nantinya mereka akan bertarung mereka bisa mendapatkan bantuan, Dan satunya yang mungkin bisa membantunya hanya North semata.


Belum mereka sampai ia sudah melihat sebuah pasukan yang besar yang sepertinya akan mengarah kerah tempat para elf berada sehingga Aether harus melakukan sesuatu.


“Kalian pergilah lebih dulu, aku akan menghentikan mereka,” ucapnya memberikan perintah kepada dua bersaudara ini.


“Kau yakin?” tanya mereka yang melihat pasukan tersebut cukup banyak.


“jujur apa kalian saat ini memiliki pilihan?”


Aether sebenarnya saat jengkel dengan orang orang seperti ini  karena menurutnya itu adalah sebuah pertanyaan yang  sudah memiliki jawabannya.


“Lagian aku juga memiliki beberapa kenalan dalam grup tersebut,” ucap Aether


Setelah turun di dekat sana Aether dan mereka segera berpisah, Aether memberikan perintah kepada rangga.


Sedangkan ia berjalan sendiri untuk menghentikan pasukan tersebut, terlihat mereka segera waspada melihat ada seseorang yang berada di depan mereka, “Ka.....”


Aether terlihat tidak ingin memberikan semua kesan yang baik,  sehingga setelah pertemuan pertama, Aether langsung memberikan pukulan kepada prajurit yang berusaha mengusirnya.


Saat mereka semua berusaha menyerang Aether, akhirnya mereka dia sadar siapa orang tersebut, sebagai pahlawan dari maritengae Aether juga sangat terkenal di daerah daerah sekitar terutama di daerah Bua’e yang memang dulu menjadi tempat Aether mendaftar menjadi tentara bayaran saat pertama kali mereka melawan para goblin.


Dan terlihat salah satu pemimpin pasukan dari mereka adalah orang yang membuatnya harus menjadi koki dalam pasukan.


“Sepertinya kalian masih mengenalku,” ucap Aether yang melihat ekspresi mereka.


“Tunggu apa maksud dari tidakkanmu ini, apa pihak dari kerajaan maritengae berusaha membuat petisi perang dengan Bua’e,” ucap seseorang yang sepertinya merupakan petinggi dari pasukan ini.


“Apa otakmu itu sudah tidak ada lagi, Kau saat ini sedang memasuki area kerajaan marintage dengan membawa sebuah pasukan lengkap dan kau bilang kami yang mengibarkan tanda peperangan!” balas Aether dengan melihat daerah sekitar.


Tempat itu memang merupakan Area yang seharusnya masih di  tempat dari Kerajaan maritengae sehingga  apa yang Orang itu katakan memang sudah salah, dan Aether sudah menebak kalau mereka akan membawa pembicaraan ini kerah sana Sehingga Aether dapat mengcounter apapun jawaban yang akan diberikan.


“Dulu memang ini adalah area Marintagae, tapi setelah kerajaan kalian jatuh karena kami yang berhasil merebutnya makan otomatis daerah ini telah menjadi milik kami,” balasnya.


“Jika mendengar apa yang kau katakan, selama kami memiliki kekuatan untuk merebutnya kami tidak masalah melakukan itu, jika begitu logikamu, maka aku tidak ragu mengucapkan kalau maritengae sama sekali tidak takut untuk berperang.”


Aether saat ini sama sekali tidak takut untuk memulai perang dengan mereka, sehingga ia terus memojokkan mereka.


“kau!!” salah satu prajurit yang ada disana terlihat tidak terima dengan ucapan ucapan dari Aether.


“Jika kau memang seorang prajurit aku menantangmu untuk berduel,” ucapnya maju memegang senjata untuk melawan Aether dalam sebuah duel.


Aether tidak menjawab tapi terlihat ia maju untuk menyerang, beberapa orang terlihat berusaha menahannya tapi prajurit itu terlihat berusaha maju menyerang Aether.


Aether terlihat sama sekali tidak terlihat untuk melawan, ia mengeluarkan salah satu tombaknya setelah itu ia juga menyerang kecepatan itu sangat gila  hingga ia berhasil menipu mata dari prajurit tersebut.


Sebuah pergerakan yang sangat cantik di tutup dengan baik dengan sebuah ayunan tombak dari Aether yang langsung memenggal sang prajurit.