VOF (The Legend of Spear Master)

VOF (The Legend of Spear Master)
rencana bunuh diri



Aether terlihat kebingungan saat melihat berbagai orang yang ada dalam Kamp terlihat panik, bahkan Aether dapat melihat beberapa dari mereka bersiap untuk meninggalkan tempat ini.


“Para goblin itu tidak berniat untuk melakukan penyerangan di tempat ini bukan?” 


Pikirannya sudah mulai melayang kemana-mana, jadi secepat mungkin ia sudah menjadi teman-temannya yang juga merupakan para petinggi di kamp.


Saat bertemu dengan mereka, tampah ia bertanya pun ia sudah tahu kalau saat ini kamp ini sudah dalam bahaya, terutama Yuno yang terlihat sangat frustasi, sedangkan yang lain hanya terdiam dan tidak mengucapkan satu katapun.


Itu termasuk Rose, yang merupakan  orang yang paling pertama sadar kalau Aether saat ini tengah memperhatikan mereka. 


“Sepertinya aku datang disaat yang tidak tepat.” 


“Tidak juga, bisa di bilang kau malah  datang di saat yang sangat tepat, setidaknya kita bisa mati bersama!” balas Rose dengan nada yang sedikit bercanda.


“setidaknya bisakah aku mengetahui keadaannya saat ini?”


Yuno mengajukan diri untuk menjelaskan, kejadian yang sebenarnya, setelah kepergian dari Aether setelah mereka memasuki hutan, yuno dan yang lainya mulia menargetkan untuk membunuh berbagai bahan makan, bahkan mereka berhasil menghancurkan persedian makanan yang mereka miliki.


Namun tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan, di mana para goblin itu malah akan berfokus untuk mencari makanan, para goblin itu terlihat malah mengumpulkan kekuatan penuh mereka dan persiapkan untuk menghancurkan mereka.


Hampir sama dengan para goblin, perbekalan mereka juga menipis Sehingga bantuan dari pihak mereka juga akan terlambat karena mengumpulkan bahan- bahan lainnya. 


“Jadi?” sebuah pertanyaan singkat dilontarkan Aether setelah mendengarkan cerita Yuno.


Ia tidak menyalahkan keputusan yang diambil Yuno, ia hanya mau melihat apa yang akan dia lakukan selanjutnya, ia juga tidak peduli dengan apa yang terjadi bagi ia hanya ingin membantu.


“Kami hanya berniat untuk bertahan sekuat mungkin,” ucapnya dengan sedikit lemah.


Mereka hanya ingin bertahan dengan Sebuah harapan bantuan yang mereka harapkan dapat sampai tepat waktu. Aether tidak langsung menjawab  karena situasi ini memang sedikit berbahaya,  kamp yang mereka dirikan berada tepat di depan Sebuah desa kecil.


Dan jika mereka kalah atau mundur bisa dibilan itu juga menjadi  akhir bagi para penduduk desa yang ada disana. 


“aku sebenarnya  ada ide! Tapi aku juga tidak memaksa kalian untuk setuju.”


Mereka semua yang awalnya lesu dan berbalik untuk mendengar kan rencana yang Aether ingin sampaikan. Walaupun Aether terkesan Seperti orang gila di depan mereka, tapi mereka juga sering mengakui kalau ide-ide dari orang itu juga sangat baik.


Karena mereka tidak memiliki banyak waktu Aether menjelaskannya dengan Singkat, walaupun mereka sudah menyiapkan pikirannya untuk mendengarkan ide-ide gila dari Aether, mereka ternyata masih belum siap karena ide tersebut memang asih terlalu gila.


“Kau yakin untuk melakukan ide gila Seperti itu?” yuno bertanya, pasalnya ia Sedikit ragu kalau Aether bisa melakukan hal tersebut. 


“Itu semua tergantung kalian, jika kalian tidak bisa mengaksesnya dengan baik maka semua rencana itu hanya menjadi sia-sia. Apalagi jika bantuan yang kalian harapkan tidak Sekuat itu.”


Aether sangat percaya diri dengan apa yang akan dia lakukan, terutama jika perhitungan masih akan baik baik, selama itu ia akan selalu percaya diri dengan rencana yang akan dijalankan, sehingga ia malah mempertanyakan Apakah mereka sendiri sebagai eksekutor terakhir akan Siap dengan rencana ini.


Dan walaupun Aether gagal dalam rencana itu, ia juga merasa kalau tidak ada yang mengalahkannya, pasalnya Misi tersebut memang terdengar sangat mustahil , bahkan untuk beberapa pemain profesional sekalipun akan berpikir beberapa kali melakukan hal itu.


Diskusi singkat dari mereka lakukan, dan keputusan Akhir tetap saja ide Aether terlaksana, ide mereka sebenarnya sederhana dimana Aether akan membentuk Sebuah tim bunuh diri. Seperti pada pertempuran pertama, dimana mereka di sergap di hutan oleh pasukan pemburu goblin.


Disini mereka berniat menjebak para goblin di desa itu. tentu hal yang pertama mereka lakukan adalah untuk memindahkan warga desa.


Persiapan dilakukan dengan cepat. Kelompok yang bersiap untuk dalam misi bunuh diri itu berjejer rapi di hadapan Aether saat ini.


“Kalian seharusnya mengerti apa yang akan kita lakukan! Jadi untuk yang terakhir kalinya aku berikan kalian kesempatan untuk pergi yang memang belum siap.” 


Mereka juga berpendapat kalau Misi ini tidak berhasil mereka masih akan mengalami pengalaman yang sama, di mana mereka masih harus melawan para Goblin bersama dengan Yuno dan yang lainnya Sehingga memang banyak dari mereka yang memilih untuk melakukan Misi bunuh diri dari pada menunggu bantuan yang juga tidak pasti datang.


“kita akan bertarung sampai mati, tapi aku berniat untuk membawa Sebanyak goblin bersama dengan kita, kalian Setuju denganku bukan!!!”


Aether memberikan beberapa kata-kata motivasi Sebelum mereka berperang, ribuan goblin sedang berada di hadapan mereka saat ini, Aether memang terlihat sangat bersemangat, tapi ada sedikit yang mengganggunya.


Pasalnya rose tanpa diduga memilih untuk ikut dengannya untuk bertarung di misi bunuh diri ini. Dengan Sebuah alasan ia akan lebih berguna jika ia membantu disini sehingga misi ini dapat lebih terasa sangat nyata.


Walaupun itu masuk akal tentu Aether merasa tidak nyaman, dengan Rose yang terus berada disampingnya.


“Kalau begitu jangan menjadi pengganggu nantinya.” 


Beberapa pengarahan kecil  Aether berikan kepada mereka, seperti para Assassin yang kembali mendapatkan tugas khusus. Namun semakin lama Aether memperhatikan pasukan yang ada disana, ia Semakin ragu pasalnya ia tidak menemukan beberapa goblin seperti goblin shaman.


Tapi saat ia melaporkan itu kepada Yuno, ia mendapatkan jawaban selama mereka melakukan pengintaian mereka sama sekali tidak pernah melihat ada satupun goblin shaman yang ada disana.


Walaupun sebenarnya Aether sangat ragu dengan info tersebut pasalnya dengan jumlah goblin yang seperti ini, sangat tidak mungkin dalam kamp tersebut hanya ada dua buah goblin shaman semata, menurutnya seharusnya ada lebih dari itu.


Tapi sekarang ia tidak bisa melakukan apa-apa pasalnya Sekarang ia juga harus berpikir bagaimana ia bisa bertahan selama mungkin dan membunuh sebanyak mungkin goblin yang ada disana.


“kalian masih mengingat tugas kalian bukan!” sebuah Seruan terakhir Aether teriakan Sebelum mereka bergerak maju untuk membunuh berbagai 


Dengan dipimpin oleh Aether, sebagai ujung tombak Aether terus memberikan teror dengan membunuh para goblin dengan mudah. Sehingga orang yang ada di belakang dapat mengikuti dengan mudah.


Satu persatu dari para goblin Ia bela menggunakan tombak yang dia miliki, semangat Aether sangat menular kepada orang-orang yang ada di belakangnya, bahkan terdengar beberapa canda tawa.


Yang mereka lontarkan Sekedar melupakan lelah, yang semakin lama semakin terasa, hari itu Sepertinya para orang orang yang sedang mengikuti Aether tertular akan kegilaan yang dimiliki oleh Aether.


Awalnya mereka memang membentuk Sebuah formasi yang baik, dan semakin lama formasi itu dihancurkan oleh jumlah goblin yang tidak ada habisnya. Namun dengan Aether yang ada disana, sebisa mungkin ia akan membantu Setiap orang yang sedang terpojok.


Karena sebisa mungkin Aether menginginkan mereka meningkatkan Satu atau dua level Sebelum mereka meninggal.  Untuk ukuran 30 pemain yang masih berlevel rendah di kepung oleh ribuan goblin sebagus apapun kemampuan individu mereka. Tetaplah mereka akan sangat kesusahan apalagi mereka tidak memiliki perbedaan level yang tidak terlalu jauh.


“Bentuk formasi lima-lima orang,” teriak Aether.


Satu persatu dari mereka mulai berguguran, jadi Aether memutuskan untuk memberikan Sedikit arahan untuk mereka terus saling membantu. Konsentrasi dari Aether saat itu, benar benar berada di tingkat teratasnya.


Bagaimanapun konsentrasi yang dimiliki oleh Aether  saat itu, beberapa kali konsentrasi itu akan terbela membuatnya Seringkali menjadi bumerang untuk mereka sendiri,  dan beberapa orang yang meninggal beberapa mati karena menyelamatkan  Aether.


Karena pergerakan yang terbatas, mereka sudah merencanakan untuk terus berpura pura menjaga Area pemukiman penduduk yang ada di belakang mereka. Sampai Sekarang Aether berusaha menolak kalau para goblin bisa lebih pintar dari para manusia. 


Itu terlihat walaupun banyak kesempatan untuk mereka menerobos, Selama ada satu orang yang berdiri di depan mereka, sama sekali tidak ada niatan untuk para goblin itu menerobos masuk ke dalam desa 


“kalian semua yang berjuang bersamaku, adalah saudaraku!”  teriak Aether yang sedang berusaha mendramatisir suara.


Bukannya terharu mendengar ucapan dari Aether mereka hanya tertawa  pasalnya mereka telah mendengar rumor buruk kalau Aether kalau sedang bertarung selalu bertingkah Seperti orang gila, setelah mereka melihatnya langsung mereka akhirnya percaya kalau sepertinya rumor itu memang ada benarnya karena semakin lama Aether bertarung, terlihat semakin tidak terkontrol jiwa yang ada dirinya.


Mungkin mereka harus bersyukur kalau Aether bertarung menggunakan topeng saat ini, entah apa yang akan mereka pikirkan jika tahu kalau di dalam topeng itu Aether saat ini tengah tersenyum walaupun keadaanya yang sudah bermandikan akan darah para Goblin