
Ibunya kandung dari vanessa sudah meninggal, dan setelah beberapa tahun kematian dari ibunya ayah dari vanessa meminta izin untuk menikah lagi dan orang itu adalah ibu dari Mila, Vanessa juga tidak langsung setuju dalam pernikahan tersebut karena ia tidak terlalu siap akan hal ini.
Tapi ia juga merasa kasihan kepada ayahnya karena memang ia sadar ada beberapa kebutuhan yang tidak ia bisa penuhi kepadanya ayahnya sehingga ia terpaksa untuk mengijinkan hal tersebut.
Apalagi ia bisa melihat kalau ibunya itu adalah orang yang sangat baik Sehingga tidak masalah kalau ia menikah dengan ayahnya.
Sehingga sampai beberapa bulan lalu ia terkadang masih terdengar canggung saat bersama dengan Mila dan ibu barunya, tapi entah bagaimana reyhan membuat semua itu menjadi jauh membuat mereka menjadi sangat dekat.
Itu semua berawal saat ia mendengar cerita dari Ayahnya saat menceritakan pengalaman dari Reyhanyang selama puluhan tahun hidup seorang diri dan terus berjuang dalam menjalani kehidupan, ini membuat vanesa berpikir kalau ia menjadi Reyhan ia sudah lama mati karena tidak kuat dalam hal hal seperti itu.
saat itu juga ia perlahan membuka mata, dan mulai mengajak Mila bermain dengan alasan bertemu dengan Reyhan, mungkin karena Vanesa yang terlihat menjaga jarak dengan mila membuat mila secara tidak langsung juga berusaha menjauh dari Vanessa sendiri.
Sehingga saat Vanesa berusaha mendekat kepada mila terlihat mila juga tidak langsung bisa baik dengannya, tapi setelah ia pergi untuk menjenguk reyhan di rumah sakit, mila terlihat lebih berani kepadanya bahkan terkadang mulai bercanda bersama.
Melihat itu kedua orang tuanya juga senang melihat perkembangan mereka, yang seperti ini sehingga melihat Reyhan yang cukup baik sehingga terus melakukan hubungan dengan reyhan sampai saat ini.
. . . . . . . . . . . . . . . .
Aether bertanya kepada Aldo, dimana ia mendapatkan skil seperti itu, yang teryata ia mendapatknya dari sebuah rentunhan yang sepertinya masih berhubungan dengan kerjaan mari tenagae di masa lampau.
“Itu tidak mengherankan karena dari beberapa yang aku dengar saat awal di maritengae kerjaan ini pernah mencapai masa jaya hingga membentuk sebuah kekaisaran,” ucap Aether.
Dulu saat ia menjadi pesuruh dari Bam, seorang alkemis yang merupakan teman dari gurunya Baron, ia sering mendengar cerita tentang kerjaan ini yang terus mengalami penurunan, setelah mendengar cerita dari Aldo, Aether akhirnya percaya dengan erita orang tua itu.
Setelah kematian dari sang kepala desa para sisa dari para dark elf semuanya kabur untuk menyelamatkan diri, aldo dan aether memang mengincar ini dari awal sebenarnya ia berharap kalau Kepala desa itu bisa dikalahkan dengan cepat.
Sehingga para dark elf yang tersisa akan pergi untuk menyelamatkan diri, tapi karena sang kepala desa yang tidak keburu kepancing mereka harus berusaha lebih ekstra untuk bertahan mereka cukup beruntung tidak ada korban di pihak mereka.
Aether juga tidak lupa untuk mengejek stats windows yang memang jarang ia buka, levelnya saat ini sudah dua ratus.
Aether
Job: Asura
Gelar: Pahlawan kerajaan marintagae
Level: 200
Hp:7360
Mp: 6432
Strength: 446(+114)
Agility: 396 (+38)
Vitality: 130(+38)
Intellinenci: 157(+48)
Fighting spirit: 342
Rift: 102
Faith: 375
Offense: 1097
Defense: 156
Melihat statusnya yang seperti ini ia sudah cukup puas, walaupun statusnya saat ini tidak bisa dibandingkan dengan Aldo yang merupakan seorang bos monster.
Tapi jika di bandingkan dengan pemain lain dengan level yang sama tentu status yang dimiliki tentu jauh lebih baik.
Namun yang membuatnya bingung adalah ia yang ternyata mendapatkan skill shield mastery. Ia memang sudah lama merasakan ada baiknya ia juga belajar shield mastery karena selama ini perkembangan dari karakternya mengalami stak dan tidak berkembang untuk menemukan gaya pertarungan yang baru.
Apalagi Job yang merupakan seorang Asura seharusnya tidak sesimpel ia adalah seorang ahli dalam menggunakan tombak.
Sehingga Aether berpikir sudah selanyak memang ia bertarung lebih berat lagi seperti apa yang dilakukan para gladiator.
“Jangan terlalu terburu-buru dalam mengembangkan cara berterungmu, jika memang kau merasa itu lakukan tapi untuk sekarang menurutku ada baiknya kau membiasakn diri dalam cara menggunakan perisai dalam sebuah pertarungan.”
Karena ragu Aether menanyakan pendapat dari Aldo sehingga inilah yang terjadi Aldo menyarankan untuk mencari kombinasi yang pas dengan cara bertarung nya yang sekarang dengan menggunakan perisai.
Masalah ia ingin bertarung layaknya berserker atau bukan itu bisa menyusul saat Aether sudah menyempurnakan kedua hal itu.
Karena Aldo sudah menyerang kanaya seperti itu Aether menurutinya karena memang perjalan mereka dalam game ini masih sangat panjang Sehingga mereka tidak perlu terlalu terburu buru dalam bertindak.
Sebelum mereka keluar dari hutan mereka dikejutkan teriakan piko yang terdengar sangat keras Sehingga membuat mereka panik segera mengecek apa yang terjadi di depan sana, dan mengetahui kalau Piko saat ini sedang dikejar oleh sesosok makhluk aneh bertubuh hijau namun memiliki bentuk menyerupai manusia dengan telinga seperti elf dengan tubuh sedikit lebih besar dari pada umumnya bentuk rata rata manusia.
Aether dan Aldo segera berniat untuk membunuh mahluk tersebut karena mengira kalau itu adalh mosnter yang berasal dari hutan.
Namun saat mereka ingin menyerang mereka segera dihentikan oleh Enzy dan Cleo, “Apa yang kalian lakukan? Itu adalah pahlawan yang sangat diinginkan oleh Piko,” ucap Cleo yang menahan serangan tombak dari Aether.
“Hahh,” ucap Aldo dan Aether bersamaan.
Mereka tertawa terkejut mendengar hal tersebut tidak akan ada yang menangkan anak dari kepala desa yang sangat tampan dan rupawan akan memiliki anak yang berbentuk seperti Hulk dalam film marvel seperti ini.
Melihat Aether datang piko segera berlari ke arahnya untuk mencari sebuah perlindungan, “tolonglah, ia ingin memelukmu,” ucap piko meminta tolong kepada Aether.
“Bukankah kau ingin mencium pangeranmu saat pangeranmu datang kenapa kau malah kabur?” kali ini giliran Aether yang mengoda Piko.
“tidak mau, pokoknya aku tidak mau,” ucapnya meringis kepada Aether.
tangisannya itu semakin menjadi saat melihat sang pangeran mereka semakin mendekat kearah Aether.
“Maaf tapi bisakah kita langsung pulang?” ucap Aether kepada sang Fiwi.
Nama yang terdengar sangat lucu dari seorang anak yang yang memiliki tubuh layaknya seorang monster, yang membuat Aether hampir tertawa saat ia mendengar suara dari orang itu yang terdengar sangat cempreng sehingga membuatnya terdengar semakin aneh.
Terlihat kalau fiwi kecewa akan penolakan dari piko, padahal ia merasa piko adalah jodoh yang tuhan datangkan kepadanya. Karena dalam kuranggan para dark elf ia sudah sangat ketakutan.
Belakangan mereka baru mengetahui kalau alasan kenapa mereka menculik Fiwi tidak lain fwi akan di jadikan sebagai pengatin dari sang kepala desa yang teryata merupakan seorang perempuan.