
Setelah sampai disana Aether langsung mengambil alih pertarungan, ia memberikan arahan kepada rangga untuk mundur dan membantu nina mengamankan para tahanan, jika memukinan ia ingin Rangga segera ketempat Aldo untuk membantu pertarungan disana.
Tentu rangga menurut dengan baik, “Mau bertarung seperti masalalu,” ucap Aether, kepada Cleo.
Sudah sangat lama atas pertemuan pertama mereka dimana saat itu mereka langsung klop dengan apa berbagai serangan satu sama lainnya.
“Tentu, tapi seperti inya ini tidak sama dengan melawan sebuah beruang besar,” balas Cleo yang juga sedikit penasaran, ia juga menjelaskan efek dari elixir yang tinggal lima menit.
“Lima menit itu sudah terlalu banyak, selama kau tidak ceroboh,” balas Aether yang bersiap bertarung.
“sepertinya kau lupa berbicara dengan siapa,” cleo mengikuti dari belakang.
Death tempo dari Aether selama itu menjadi sebuah skil pasif itu sangat membantu perkembangan Aether , terlihat kecepatannya bahkan mengimbangi Cleo yang merupakan seorang assassin.
Jika dilihat dari cara mereka bertarung, Aether lebih seperti penyerang sedangkan Cleo berusaha untuk terus menutupi celah yang dapat dibuat oleh Aether Sehingga serangan serangan dari Aether bisa menjadi lebih merusak.
Dan tentu kadang kadang mereka juga akan bergatiang dimana Cleo yang akan menyerang dan Aether yang akan mendukung dari belakang, walaupun itu sulit dengan mendukung seseorang menggunakan tombak, sebagai seorang profesional Aether bisa melakukannya dengan sangat mudah
Terlihat si kepala desa mengeluarkan sebuah teriakan yang sangat keras ,[musuh sedang mengaktifkan skill war cry, selama beberapa menit anda akan terkena perasaan takut dan membuat kecepatan anda menjadi lambat,]
Sebuah pemberitahuan tentang sebuah skil dari kepala desa yang memberikan buff untuk memperlambat pergerakan mereka, tapi bagi Aether tidak tidak berarti apa-apa karena ia memiliki skil dan stat fighting spirit yang dapat membatalkan semua itu.
Terlihat lawan dari Aether sudah senang saat melihat pergerakan Aether dan cleo sempat melambat tapi saat ia ingin mengakhiri Cleo, Aether bergerak dengan cepat untuk menghentikannya, berbeda dengan Aether cleo seperti nya terkena dampak dari “War cry” musuh sehingga efek dari Elixir yang Aether berikan juga telah dibatalkan secara otomatis.
“Sepertinya aku Cuma bisa sampai disini,” ucap Cleo yang tahu ada lebih baiknya ia mundur dari pada malah merepotkan Aether yang masih bertarung.
“Putih! sepertinya kau tinggal sendiri,” ucap sang kepala desa yang melihat cleo yang mundur.
Aether sempat berpikir kenapa ia dipanggil putih, tapi setelah ia mengingat kalau ia juga merupakan seorang elf dan terlihat perbedaan warna kulit mereka, akhirnya ia mengerti alasan kenapa ia dipanggil putih.
“Mau ku panggil hitam, entar dibilang rasis,” gumam Aether.
Ia tidak menyangka ada hal seperti ini dalam sebuah permainan yang sudah katanya sangat realitas, dan tidak ada hal lagi yang bisa menimbulkan rasisme di dalamnya. Tapi bagi Aether itu adalah sebuah realitas yang sesungguhnya omong kosong banget , selama mereka unggul akan ada pandangan merendahkan kepada orang yang dibawahnya setidaknya itu yang aether perkirakaan.
Bahkan kesetaraan gender yang dari tahun kuda masih jadi kendaraan sehingga pesawat bisa terbang, masih terus diperjuangkan terkadang reyhan masih tertawakan, karena itu sepertinya sesuatu yang tidak mungkin terjadi terutama di daerah timur.
“kau baru bisa banyak bicara seperti itu jika bisa membuatku tunduk,” balas Aether santai.
Dari tadi ia belum minum elixir yang dibuatnya pertama ia meminum EPIC POWER ELIXIR
Dengan bertambahnya serangan dari Aether membuat mereka yang dari tadi terlihat sangat sulit untuk seimbang, tapi sekarang saat Aether beradu dengan kapak itu Ia tidak perlu terpental lagi, karena kekuatannya suda tidak jauh berbeda.
Apalagi dengan adanya stat RIFT yang membuat kesenjangan antara mereka semakin menipis Sehingga Aether sudah bisa bertarung secara seimbang melawan sang kepala desa.
“Kenapa bukankah tadi kau sangat percaya diri dengan kemampuanmu kan,” ejek Aether yang terus melakukan perlawan bahkan mulai memberikan luka kepada sang kepala desa.
“Awas kau putih sialan,” ucap Sang kepala desa yang terlihat masih jengkel dengan Aether.
Tapi bukanya kembali bertarung ia malah menyuruh anak buahnya untuk menahan aether untuk ia bisa ke area lain. Aether terlambat menyadari hal tersebut, sehingga ia gagal menghentikannya. ia hanya bisa mengirimkan pesan kepada piko yang ada disana kalau sang kepala desa menuju kearahnya .
Sebenarnya bisa saja jika aEther memaksa diri untuk menghentikan kepala desa itu, tapi karena disana ada Aldo ia merasa sangat mubazir jika ia harus menghentikan musuh dengan potensi ia terkena luka yang lebih parah.
Sehingga ia lebih memilih untuk membunuh para dark elf yang tersisa selama elixir yang ia minum masih berfungsi, ia akhirnya juga menghela nafas karena ia tidak perlu untuk menggunakan banyak elixir untuk pertarungan ini walaupun sepertina elixir yang dia bagikan kepada teman temannya telah habis.
“Misi telah berhasil, bunuh kepala desanya dan segera mundur,” teriak piko kepada enzy ataupun Aldo.
Ia tidak peduli siapa yang bergerak untuk membunuh sang kepala desa yang diaperluka adalah ia bisa menyampakain pesan dari Aether kepada mereka.
“Biar aku yang mengurusnya, untuk kalian pergi lah lebih dan biarkan aku menahan mereka,” ucap Aldo.
Dengan kemampuannya ia bisa melihat arah kedatangan dari kepala desa Sehingga ia berniat untuk menahan para elf dan membiarkan para gadis untuk pergi lebih dulu.
Enzy dan Piko mendengarkan perintah tanpa bertanya, piko hanya memberikan beberapa buff pendukung kepada Aldo Seperti peningkatan serangan dan hal lainnya.
“Terima kasih,” ucap Ado singkat.
Ia terus menahan para elf, dan setelah melihat Enzy dan piko sudah lumayan jauh, ia membiarkan para elf ini mengejar dan terus bergerak untuk memandang si kepala desa yang terlihat marah karena banyak dari warganya yang telah mereka bunuh.
“Sangat disayangkan padahal aku sudah mulai menyukai pedang ini,” ucapnya.
Terlihat ada sebuah aura yang mirip dengan weapon aura dari Aether, tapi berbeda dengan aether yang aura dari senjata berwarna Hitam, tapi aura yang dari pedang Aldo terlihat lebih seperti api yang sangat membawara.
Tidak hanya sampai disana, entah bagaimana tiba tiba pedang raksasa yang telah dialiri api itu tiba tiba menghilang . [mortal blow] ucapnya yang mengalihkan satu satu skillnya bersamaan dengan ucapannya sebuah pedang jatuh tepat diatas kepala dari kepala desa dan itu juga menjadi akhirnya.
Dalam pertarungan ini, tapi tapah di duga setelah membunuh sang kepala desa pedang yang tadi Aldo lepaskan juga hancur mengikuti tubuh dari kepala desa yang tidak tersisa karena menerima terlalu banyak kerusakan dari serangan dari Aldo.
Aether yang melihat itu hanya bisa tercengang karena ia tidak tahu dimana Aldo sebuah skill yang memiliki kerusakan sebesar itu