Time Travel The Secret Agent

Time Travel The Secret Agent
T3SA Eps. 91 : Sekedar Tebakan



Sedangkan mereka hanya saling memandang lalu mengangguk bersamaan, setelah itu mereka pun sama-sama menghilang dari sana.


......................


Shuwan berjalan dengan langkah santai mengelilingi desa. Sesekali ia berhenti di penjual kudapan untuk membeli sesuatu.


"Takdir mempermainkan mu dengan buruk dan kejam, kisah percintaan mu sangat rumit Nona! Kalian saling mencintai namun terpisahkan oleh takdir yang sangat licik! Jangan salah memilih keputusan Nona! " Tiba-tiba langkah Shuwan terhenti saat terdengar suara seorang nenek, seolah dia lah yang sedang di bicarakan oleh nenek itu.


Ia menolehkan kepala nya ke arah nenek tadi yang tampak tersenyum ke arah nya. Dahi Shuwan mengernyit kala atensi nya menangkap senyum sang nenek yang terlihat licik.


"Kau bicara pada ku? " Tanya Shuwan dengan wajah polos nya membuat sang nenek melebarkan senyum.


Lalu tiba-tiba wajah nenek itu menjadi serius. Senyum lebar yang baru saja di tampilkan mendadak hilang seraya berkata...


"Cinta memang tak bisa di paksakan karena hati yang tak dapat di arah kan, namun laki-laki tak hanya satu di dunia! Jodoh sudah ada yang menentukan, sebaiknya jangan salah pilih! Sekali kau salah melangkah maka bukan hanya kau yang di rugikan, seluruh orang di sekitar mu akan terkena imbas nya! " Shuwan tertegun mendengar nya.


Tentu ia mengerti ucapan nenek itu, ia bukan orang b*doh yang harus menelaah kembali ucapan atau lebih tepat nya peringatan tersebut.


"Jangan pernah melukai yang tulus hanya karena takut pada rasa yang pernah ada! Jangan lah lupa bahwa sedingin apa pun bongkahan Es akan tetap mencair jika di tempatkan pada panas nya Api membara" Lanjut sang nenek membuat Shuwan diam seribu bahasa.


"Kau tak akan bahagia jika terus mencoba menggapai sesuatu yang tak dapat kau gapai! Jangan mencoba menggapai bulan jika awan pun tak dapat kau sentuh! Masa lalu hanya lah sebuah pelajaran yang dapat kau gunakan untuk memperbaiki masa depan! "Lagi dan lagi perkataan nenek itu hanya di balas kebungkaman Shuwan. Namun setelah hening beberapa saat, Shuwan kembali mengangkat suara dengan pertanyaan aneh.


"Apa kau seorang Peramal? Kalau ia berarti kau baru saja meramal ku?" Tukas Shuwan dengan wajah datar nya. Tidak menyadari wajah sang nenek yang seperti ingin tertawa.


"Ini bukan ramalan, hanya sekedar tebakan dan anggap ini sebuah peringatan! " Jelas sang nenek kembali tersenyum lalu kembali melanjutkan.


"Aku akan memberikan sedikit gambaran untuk pilihan yang akan kau ambil, boleh ku pinjam tangan mu? "


".... " Tanpa menjawab Shuwan hanya langsung mengulurkan tangan nya seolah mengijinkan.


Sang nenek tersenyum misterius seraya menyentuh tangan Shuwan dan memejamkan mata nya. Shuwan hanya memperhatikan dalam diam.


***


Mata nya mengerjap pelan menyesuaikan diri dengan cahaya yang memasuki retina. Dahi nya mengernyit melihat diri sedang berada di sebuah kamar yang familiar.


"Siapa yang membawa ku pulang...? " Lirih nya pelan seraya mencoba bangkit dan duduk di sisi peraduan.


Sreettt


"Kau sudah sadar Shen'er? Kemarin Fai datang membawa mu yang dalam keadaan tak sadar membuat seisi istana khawatir! " Seorang wanita paruh baya datang membawa semangkuk bubur dengan raut wajah khawatir.


"Ibunda? " Tanya nya memastikan karena penglihatan yang masih buram.


"Iya ini ibunda nak! Apa yang membuat mu menjadi seperti ini? Apa kau kembali bertarung dengan mereka? " Sang ibunda langsung menuntut nya dengan berbagai pertanyaan yang tiba-tiba membuat nya teringat kejadian itu.


Tiba-tiba ia teringat dengan wajah dingin seorang gadis yang dengan santai nya membantai musuh. Hanya dengan tangan kosong namun tak membutuhkan waktu lama musuh sudah musnah.


"Shen'er? " Tanya wanita itu khawatir karena anak nya diam tak menjawab.


"Eh? " Pemuda itu langsung menoleh dan tersenyum tipis pada ibunda nya.


"Apa kau baik-baik saja nak? Apa perlu ibunda panggilkan tabib? " Sang ibunda dengan raut wajah cemas nya berniat beranjak memanggil tabib.


"Aku baik-baik saja ibunda" Pemuda itu tersenyum hangat membuat hati sang ibu kembali tenang. Lalu ibu nya berkata...


"Ah kalau begitu biar ibunda panggil ayah mu dulu"


"Bagaimana keadaan kakak? " Tanya pemuda itu tiba-tiba membuat sang ibu menghentikan langkah nya dan raut wajah nya berubah sendu.


"Tidak berubah.... " Jawab sang ibu dengan nada lirih membuat pemuda itu merasa bersalah, namun di sisi lain pun merasa sedih.


"Tenang lah ibunda, Shen berjanji akan mencari Inti Api untuk menyembuhkan kakak" Ujar Pemuda itu mencoba menenangkan ibu nya.


Sang ibu tak menjawab namun hanya tersenyum seraya melanjutkan langkah nya yang sempat tertunda.


Sreettt


Pintu di tutup meninggalkan pemuda itu sendirian di dalam kamar nya. Pikiran nya kembali melayang pada kejadian hari itu, sejenak melupakan masalah perihal kakak nya.


***


Gelap! Hanya itu yang terlihat. Tak ada cahaya yang memasuki retina. Hanya ada kegelapan yang membawa ketenangan dan kesunyian.


Hening! Tak ada nada yang menyapa rungu, hanya nada yang ia keluarkan, hembusan nafas yang ia hempaskan.


"Dimana...? " Gumam nya pelan seraya memutar pandangan, menelisik sekitar.


Tak lama setelah nya, Shuwan merasakan tubuh nya berputar dengan cepat. Membuat kepala nya terasa pening di sertai kabut yang mulai menutupi kegelapan.


"Eugh! " Erang nya merasa begitu pusing namun tak berbuat lebih karena tak begitu peduli.


Swooossshh


Tiba-tiba seluruh kabut yang menutupi kegelapan itu lenyap bersamaan dengan berhembus nya angin kencang.


Kini Shuwan di hadapkan dengan sebuah pemandangan yang sedikit membingungkan bagi nya, meski ia tak begitu peduli.


Ia berada di sebuah garis yang seperti nya di gunakan sebagai pemisah. Ia melihat sisi kanan nya, terdapat seorang pemuda yang pernah singgah di hati nya.


Pemuda yang membekukan hati nya, sedang meminum teh di gazebo sisi danau yang tampak membeku dengan semilir angin dingin menusuk ke tulang.


Sementara saat ia melihat sisi kiri nya, ia melihat seorang pemuda yang tak ia kenal. Pemuda dengan mata hijau yang tampak memainkan seruling dengan bunga-bunga bermekaran mengiringi permainan nya.


Pemuda itu menghentikan permainan seruling nya lalu tersenyum dingin pada Shuwan yang terlihat acuh. Bunga-bunga bermekaran menandakan musim semi.


Namun Shuwan memalingkan wajah nya lalu menatap sisi kanan kala rungu nya mendengar suara yang ia rindukan.


"Lin Lin, apa yang sedang kau lihat? Kemari lah, tidak kah kau merindukan ku? "


Tapp


"Wan Wan! "


Shuwan menghentikan langkah nya dengan jantung berdegup tak beraturan. Ia menoleh seolah panggilan itu di tujukan pada nya.


Mata Shuwan menyipit kala atensi nya melihat pemuda tadi tampak tersenyum manis ke arah nya. Terlihat pemuda itu mengulurkan tangan nya pada Shuwan.


"Ada apa Lin Lin? Kenapa kau berhenti? Apakah kau telah melupakan ku? Apa kau sudah tak mencintai ku lagi? " Suara Fu Lee kembali terdengar membuat Shuwan kembali berpaling.


Dengan senyum yang tak luntur, Shuwan kembali melangkahkan kaki menuju sang kekasih. Senyum yang di perlihatkan pemuda bermata hijau itu luntur melihat Shuwan yang menjauh.


Sringgg


Hanya tinggal lima langkah lagi ia berhenti dengan jantung yang semakin ingin melompat keluar. Keringat dingin mulai bercucuran seraya berbalik perlahan.


Mata nya membola melihat pemuda yang tadi tersenyum manis itu terbaring dengan tubuh kaku membeku. Lalu ia melihat sosok lain yaitu kakak nya, Yixuan yang juga terbaring tubuh penuh luka.


Mata nya bergerak melihat seseorang yang pernah mengaku menjadi ayah nya yang mati mengenaskan dengan rantai dengan ujung tajam menusuk jantung.


"Apa yang-"


Duaaarrr


Pertanyaan Shuwan berhenti saat terdengar suara ledakan yang membuat sebuah pagoda runtuh.


Dahi nya mengernyit melihat banyak mayat di sekitar pagoda itu, dan mayat itu adalah orang-orang yang dia kenal sebagai keluarga.


Lalu netra nya membola saat melihat sesosok gadis yang memegang pedang dan sabit secara bersamaan.


Sosok itu adalah diri nya yang terlihat sedikit lebih dewasa namun terlihat sangat dingin tak tersentuh. Hanya memandang dingin pemandangan di hadapan nya.


Mata Shuwan kembali membola saat melihat gadis yang tak lain adalah diri nya itu dengan sadis menusuk kakak angkat nya, Junsi.


"Hentikan Shuwan!! " Teriak salah satu kakak kandung nya, Luan.


"Hentikan? Hahaha~Sudah terlalu jauh untuk di hentikan! " Shuwan berambut putih itu tertawa datar lalu mencengkram leher Luan.


Krekkk


Tulang leher Luan patah bersamaan dengan mata Luan yang membola lalu, mati. Terlihat Xuan menangis dan menghampiri mayat Luan.


Shuwan asli berniat menghentikan semua itu, namun kaki nya tak bisa di gerakkan. Seolah memaksa nya menjadi penonton sebuah pertunjukan.


"Sadar lah! Orang mati tak akan kembali hidup!!!! " Teriak Xuan dengan amarah namun sadar diri nya tak mampu berbuat apa pun.


"Apa peduli ku? " Tanya Shuwan berambut putih dengan sorot mata datar.


Srekk


Ayunan pedang terlihat bersamaan dengan terpisah nya kepala dari tubuh Xuan. Terlihat sangat mengerikan dan tidak berperasaan.


"Hahahahaha!!!! "


Terlihat seorang pemuda bermata ungu yang tertawa keras melihat pembantaian yang Shuwan berambut putih lakukan.


Lalu tiba-tiba semua itu hilang dalam sekejap di gantikan dengan Shuwan berambut putih yang sedang menatap kosong ke depan dengan sesuatu di genggaman nya.


Terlihat sebuah jantung yang bercahaya emas dan di hadapan Shuwan berambut putih itu terlihat mayat seekor Phoenix.


Phoenix emas yang di kenal dengan nama Feng Xue itu mati di tangan Shuwan hanya untuk di ambil jantung nya.


"Sia-sia....?" Lirih Shuwan berambut putih lalu menarik pedang dan menusukkan nya pada jantung nya sendiri.


Shuwan yang sedang menonton itu merasakan Shock dan menatap nanar ke depan. Tiba-tiba terdengar sesuatu yang terasa aneh.


"Hahaha~Bagaimana rasa nya Nona? "Terdengar sebuah tawa yang suara nya seperti nenek tadi. Tertawa dengan nada bicara seperti mengejek dan mencemooh.


" Apa yang kau lakukan? "Tanya Shuwan dengan nada tinggi dan nafas tak beraturan karena ia marah. Marah pada diri nya sendiri, begitu murka akan keputusan yang di ambil nya.


" Lihat lah Nona! Kau hanya melakukan hal yang sia-sia! Jangan pernah mencoba menggapai bulan bila awan pun tak dapat kau sentuh! "Tawa memuakkan bagi Shuwan kembali terdengar.


" Aaaarrrggghhhh!!! "Teriak Shuwan keras dengan nada frustasi lalu gelap.


...----------...


Jangan lupa dukung author melalui...


Like


Vote


Rate


Favorit


Ada yang ingin berteman lebih jauh dengan author? Yuk hubungi author....


Author orangnya care kok, ga mudah tersinggung, bisa cepat akrab dan sedikit blak-blakan.


IG: @lrnrrhmnia1412 (Follow yak, Author follback kok)


WA: +6282123981798(Lira Nur) (Untuk para wibu pecinta anime, author punya group yang selalu share file video anime baik movie ataupun the movie, Seperti Naruto, One Pick Man, Black Clover, Battle Trough Heaven dll. Silahkan hubungi admin yang juga author sendiri untuk yang tertarik. Kalau mau berteman dengan author juga ga masalah sih~hihihi)


FB: Nurrahmania Art(Terima pesanan gambar sketsa wajah buatan author sendiri. Bagi yang berminat silakan hubungi. :')