
"Ya... tapi aku yakin kau pasti memiliki alasan tersendiri untuk menjadi kuat" Mendengar itu Mu Lin tersenyum tipis, sangat tipis bahkan sulit dilihat oleh Lee. Mereka kembali diam, tapi diam diam mereka berharap bisa seperti ini sementara.
......................
Siang hari tiba, Mu Lin masuk ke tenda untuk mengambil buku Alchemist. Setelah mendapat kan buku yang dia inginkan, ia segera melompat dan duduk nyaman di dahan pohon yang cukup kokoh. Dari atas sini ia melihat bagaimana keakraban Erlang dan An Ri yang sekarang di tambah Hu Ren. Lee dan guru Hang tampak berbeicara santai, di samping mereka juga terdapat paman Ho.
Mu Lin terdiam sejenak saat melihat mereka, kedamaian, ketenangan, kasih sayang dan kebahagiaan. Itulah yang ia ingin kan, mereka lah yang ia ingin lindungi, jangan lupakan ayah dan kakak kakak nya di rumah. Akhhh ia jadi merindukan mereka, mungkin kakak kakak nya itu sudah tumbuh semakin tampan.
Ia ingin jadi kuat agar bisa melindungi orang yang penting dalam hidup nya. Ia ingin jadi kuat agar bisa menjaga apa yang ia miliki, tak peduli seberapa besar dan banyak cobaan juga rintangan ia akan tetap melindungi apa yang menjadi milik nya.
Ia mulai membaca buku yang di bawa nya, mulai dari berbagai macam tanaman obat, racun bahkan kualitas tungku obat. Ia juga belajar tentang pemurnian api, tingkat suhu juga tingkat ketenangan dan keteguhan hati. Ia memutuskan untuk mencari tungku obat untuk membuat beberapa pil dan elixir.
Tak terasa hari sudah sore, kini waktunya untuk makan. Mereka makan dalam diam entah kenapa situasi sangat canggung sekarang, hingga Mu Lin memutuskan untuk mengakhiri makan nya lebih dulu.
"Kenapa tidak di habiskan? " Tanya An Ri dengan kening mengernyit, karena biasanya Mu Lin itu banyak makan.
"Aku kenyang"
"Kau baru makan sedikit, habis kan lah makanan mu" Ucap Lee dengan nada yang tersirat kecemasan. An Ri diam, awalnya ia yang ingin berbicara seperti itu.
"Aku tak berselera" Jawab Mu Lin dengan tatapan jenuh. Lee hanya bisa menghela nafas, begitupun yang lain nya. Mereka tak akan bisa memecahkan keras nya kepala Mu Lin.
"Kita jadi ke festival? " Tanya Erlang.
"Ya, aku akan bersiap dulu" Ucap Mu Lin lalu berlalu meninggalkan mereka.
"Hah! Dia tak seceria dulu" An Ri menghela nafas panjang. Yang lain hanya mengangguki saja, lagi pula An Ri lah yang lebih dulu mengikuti Mu Lin.
"Sudah lah cepat bersiap, jangan sampai kalian terlambat dalam festival" Ucap guru Hang yang sejak tadi hanya diam. Mereka pun bangkit sambil membersihkan bekas makanan mereka.
"Semoga acara ini berjalan lancar, entah kenapa firasat ku tak enak" Gumam Lee dengan hati resah. Akhirnya setelah beberapa saat mereka sudah berkumpul di depan tenda arah selatan.
"Guru kami berangkat dulu" Ucap Mu Lin datar tanpa ekspresi.
"Hati hati di jalan, jangan kembali terlalu larut dan kau Erlang! Jangan buat kehebohan" Cemas guru Hang, Masalah nya adalah Erlang pernah ia bawa ke sebuah festival, alhasil festival tersebut kacau balau karena sifat Erlang yang tidak bisa diam. Mendengar penuturan guru Hang Erlang hanya cekikikan sambil memperlihatkan deret gigi putih nya yang bersih.
Mereka pun melesat menggunakan ilmu peringan tubuh, mereka bergerak cepat melewati hutan yang sudah mulai gelap. Tak lama Kemudian mereka sudah ada di gerbang ibu kota, mereka segera masuk dan di suguhkan pemandangan dengan banyaknya lentera yang di gantung kan di tiang. Anak anak berlarian membawa lentera berbagai bentuk, para gadis muda saling berkumpul membicarakan pria tampan, bahkan anggota keluarga kerajaan pun tak jarang mereka sebut sebagai topik pembicaraan.
Mu Lin menggunakan pakaian berwarna putih di atasnya dan biru gelap di bawahnya. Ia memakai pakaian yang lengan nya tidak melambai agar bisa bergerak bebas, bahkan rok nya pun terdapat sobek kan di pinggir kanan sampai paha, tapi ia memakai celana berwarna putih di dalam nya.
Sama halnya dengan Mu Lin, Lee pun memakai pakaian berwarna putih dengan terusan berwarna biru muda. Sedangkan Erlang menggunakan pakaian berwarna kuning dengan terusan hitam. Dan An Ri menggunakan pakaian berwarna biru juga dengan terusan hitam.
Mereka ber empat tampak menjadi pusat perhatian karena paras mereka yang seperti mengalahkan manusia. Bisik bisik pun terdengar....
"Astaga! mereka sangat sempurna, cantik dan tampan. Oh beruntung nya gadis itu bisa bersama pria tampan"
"Benar! Aku rela bila harus menjadi selir sekali pun"
"Lihat gadis itu! Dia sangat imut dan manis, tapi sayang wajahnya datar tanpa ekspresi"
"Kau benar! Walaupun begitu, gadis itu tetap cantik, apa lagi kalau ia tersenyum"
"Mereka bagaikan dewa dewi yang turun dari nirwana"
"Aku irii"
"Kau tak pantas iri! "
Dan masih banyak lagi. Namun sayang, tak satupun dari mereka yang menghiraukan ocehan tidur bermutu itu. Mu Lin yang melihat penjual lentera pun segera kesana diikuti ke tiga pria tadi.
"Kalian ingin yang bentuk apa? " Tanya Mu Lin bersemangat dengan mata berbinar begitu sampai di depan penjual itu. Tanpa sadar apa yang baru saja ia lakukan menjadi perhatian orang orang, menggemaskan menurut mereka.
"Lihat bentuk bebek ini lucu master! " Ucap Erlang menunjuk salah satu lentera dengan bersemangat.
"Jangan panggil aku master kalau di sini, panggil saja nama ku" Tegur Mu Lin sedikit berbisik ke Erlang.
"Ehehe aku lupa" Kekeh Erlang.
"Jangan bebek! dia sejenis burung, kau ingat? " Ucap An Ri sambil terkekeh membayangkan Erlang berubah menjadi bebek karena bebek sejenis burung.
"Yang kupu kupu saja, ini terlihat lebih indah" Ucap Lee sambil menunjuk lentera.
"Ahh yang itu saja" pekik Mu Lin saat melihat lentera berbentuk kucing. Lalu Erlang mengambil yang berbentuk bebek, An Ri mengambil bentuk kucing dan Lee mengambil yang berbentuk naga.
Setelah membayar, mereka segera menuju sungai untuk melepaskan lentera tadi.
"Erlang ayo ikut aku kesana sebentar" Ucap An Ri sambil menunjuk ke tempat penjual makanan, yang tentu saja di anggukki oleh Erlang.
"Lin Lin, kalau kalian sudah selesai, kita bertemu di gerbang kota ya? " Kata Erlang tanpa menunggu jawaban Mu Lin, ia dan An Ri segera melesat menuju tempat yang di tunjuk tadi.
"Haih! Lalu kita harus apa? " Tanya Mu Lin pada Lee, ia mulai kesal sendiri karena ia tahu Lee itu orang yang sulit di ajak bicara.
"Ayo kita kesana, sepertinya ada yang menarik" ucap Lee menunjuk ke arah di mana terdapat orang yang sedang berkumpul.
Kami pun berjalan beriringan tanpa sadar kami juga bergandengan tangan. Saat sudah sampai, Mu Lin yang merasa aneh segera melihat ke tangan nya, dan ia melihat tangan nya dengan tangan Lee yang sedang bertautan. Segera ia melepaskan nya, sontak Lee melihat ke tangan nya dan ke Mu Lin, melihat itu Lee segera membuang muka nya asal.
Degg
Degg
Degg
Degg
...--Bulan--...
...Kau terang dan bercahaya...
...Kau bersinar dalam gelapnya malam...
...Engkau bagai Cahaya terang...
...Yang menyinari hati ku...
...Cahaya yang bersinar dalam kegelapan...
...Aku merindukan bulan kala siang...
...Kau berbeda dengan bintang...
...Kau hanya ada satu...
...Bulan yang selalu ada dalam keterpurukan...
...Kau yang selalu menampakkan sinarmu...
...Bahkan ketika hujan...
...Ketika ku bersedih...
...Ketika ku marah...
...Bagai matahari merindukan bulan...
...Aku dan kamu tercipta namun tak dapat bersatu...
Para rakyat yang menonton langsung bertepuk tangan, memang ini puisi yang indah jika di hayati. Mu Lin pun ikut terenyuh dalam penghayatan puisi itu.
"Apa kau lapar? " Tanya Lee pada Mu Lin yang sedang diam.
"Aku ingin tanghulu" Ucap Mu Lin menunjuk pedagang tanghulu yang berada tak jauh dari mereka berdua.
"Baiklah kau tunggu di sini, aku akan belikan ke sana sebentar" Lee pun berlalu meninggalkan Mu Lin.
Mu Lin yang bosan berjalan kesana kemari di tempat yang sama, ia berjalan dengan pikiran yang melayang hingga....
Brukkkh
Mu Lin menabrak sesuatu yang keras dan ia pun terjatuh, sedangkan hal yang ia tabrak hanya mundur beberapa langkah ke belakang.
"Eh? Maaf nona aku tak melihat mu tadi, apa kau baik baik saja? " Tanya sosok yang ia tabrak tadi dan ternyata seorang pemuda. Pemuda tersebut mengulurkan tangannya, dan di sambut oleh Mu Lin yang masih diam, Mu Lin pun bangkit dan berkata....
"Aku pun minta maaf karena tak melihat mu, dan aku baik saja" Ucapnya tanpa ekspresi, sedangkan pemuda tadi masih tersenyum.
"Apa anda baik baik saja jendral? " Tanya seseorang yang tiba-tiba datang entah dari mana, dan hanya di angguki oleh pemuda yang di sebut jendral tadi. Sosok yang tadi tiba-tiba muncul pun hilang seketika.
'Datang tak di undang pulang tak di antar' Batin Mu Lin.
"Apa anda berjalan sendirian saja nona? " Tanya pemuda itu pada Mu Lin.
"Aku datang bersama teman ku"
"Oh begitukah? Boleh ku tahu nama mu? " Tanya nya lagi.
"Tuan maaf, tapi ada orang yang berkata padaku, jika anda ingin tahu nama seseorang maka kenalkan lah nama mu dulu"Ucap Mu Lin masih tanda ekspresi. Pemuda itu tersenyum dan...
" Ah maaf, namaku Li Hong Zhuang. Namamu? "ucapnya masih dengan senyuman yang tak luntur.
" Hua Mu Lin "ucap Mu Lin acuh.
" Anda anggota keluarga Hua? "
"hemm" jawab Mu Lin sambil mengangguk.
"Baiklah kalau begitu, ku rasa aku harus pergi, ku harap kita bisa bertemu lagi nona" Ucapnya yang di angguki oleh Mu Lin. Zhuang pun berlalu, meninggalkan Mu Lin yang termenung.
'Kenapa aku merasa adegan ini tidak asing? Aneh! Kenapa rasanya dejavu ya? Ah sudahlah' Mu Lin sudah pusing dengan jalan pikiran nya sendiri, tak lama kemudian Lee datang membawa beberapa tusuk tanghulu.
...----------------...
Readers jujur author pusing dengan jalan pikiran author sendiri.
Kadang author ga ngerti sama isi otak author.
Menurut readers, cerita author itu berbelit ga sih?
komen di bawah yaaa
LIKE
KOMEN
VOTE
DUKUNG AUTHOR DALAM MENULIS CERITA INI YAAA