Time Travel The Secret Agent

Time Travel The Secret Agent
T3SA Eps. 205: Bisa Iya, Bisa Tidak...



Kedua nya meledak setelah di tembus oleh Cahaya yang Shuwan keluarkan dan melesat dalam satu garis lurus tadi.


Sontak hal ini membuat Ziran terkejut sekaligus mulai panik. Dia pun menutup mata nya untuk ber telepati.


'Yang Mulai tolong...! 'Teriak Ziran dalam hati dengan bulir-bulir keringat jatuh dari pelipis nya.


......................


Shuwan tentu nya tahu kalau Ziran sedang melakukan telepati. Jadi dia kembali melangkah maju tanpa di ketahui oleh Ziran.


"Selamat tinggal! " Ucapan Shuwan yang ini berhasil membuat mata Ziran terbuka, namun sudah terlambat.


Sratt


Dengan kecepatan kilat milik nya, Shuwan telah menggoreskan pedang pada leher Ziran tepat di bagian kiri.


Sehingga Ziran hanya mampu terbelalak tanpa dapat mengatakan apa pun. Lalu dia pun tertunduk dalam keadaan sudah tidak bernafas.


Sring


Shuwan menyarung kan kembali pedang nya dan berbalik masih dalam keadaan dahi mengernyit lantaran sakit di dada kiri nya belum hilang.


Lalu tatapan mata Shuwan terarah pada kalajengking milik Ziran tadi, dia pun mengarahkan tangan kanan nya dalam posisi miring.


".... " Shuwan tidak mengatakan apa pun namun tiba-tiba....


Swooshh


Jdeeerrrtthh


Petir besar berwarna ungu tua menyambar kalajengking itu yang sudah hampir membeku total. Seketika itu pula Kalajengking yang sudah menjadi Es itu hancur menjadi kepingan-kepingan kecil.


Shuwan kembali menekuk tangan nya tanpa menoleh, lalu dia berjalan mendekati Erlang yang terlihat membantu pasukan Kekaisaran dalam wujud burung nya.


Elemen dasar yang Erlang miliki adalah Angin dan Api. Meski tidak banyak membantu dengan semburan api nya, Erlang cukup menguras tenaga.


Syuutt


Shuwan menekan kaki nya ke tanah lalu melompat dengan tembakan energi ke bawah. Dia melompat dan akhir nya mendarat di atas punggung Erlang.


'Master? ' Tentu nya Erlang terkejut dengan Shuwan yang tiba-tiba sudah mendarat di atas punggung nya.


"Selesaikan segera" Ucap Shuwan singkat seraya mengalirkan Qi dingin nya pada Erlang.


Sebenar nya bukan tanpa alasan dia menyalurkan Qi dingin nya. Selain karena Iblis tercipta dari api, juga karena Shuwan butuh pelepasan Energi dingin yang menumpuk.


Seketika bulu Erlang memutih dengan ujung sedikit biru. Meski ber elemen dasar Api, Erlang dapat mengikuti Elemen dasar tuan nya.


Koooaakkk....!


Erlang memekik ketika merasakan tabrakan energi, dan secara tiba-tiba Shuwan menekan bagian leher Erlang.


Hal ini membuat energi panas dan Dingin berhenti bertabrakan karena Shuwan menutup nya sehingga dua energi itu mengalir melalui jalur yang berbeda.


Perlahan Shuwan merasakan sensasi dingin di tubuh nya mulai berkurang. Dia pun duduk dengan sedikit lebih tenang di atas punggung Erlang.


"Sekarang! " Ucap Shuwan memberi intruksi.


Seketika Erlang pun membuka mulut nya, dan dari mulut nya keluar hembusan angin berwarna kebiruan yang terasa dingin.


Angin yang Erlang keluarkan langsung membuat para Ibl,membeku lantaran Shuwan memberikan begitu banyak Energi Yīn nya.


Sontak saja secara alami pasukan Kekaisaran di tarik mundur oleh Fei Lin. Kemudian setelah para Iblis membeku, pasukan Kekaisaran berkumpul di satu bagian.


"Hemm Kultivator Wanita dengan Elemen Air menjadi Pasukan Medis ya? "Gumam Shuwan pelan kemudian tatapan nya teralih pada jasad Ziran.


Dahi nya mengernyit saat tidak menemukan keberadaan Ziran di sana. Lalu dia pun mengingat kejadian lalu.


" Ck! Tianzi mengambil kembali mereka, aku yakin mereka akan kembali hidup nanti " Ucap Shuwan berdecih sinis.


'Salah satu kekuatan Kaisar Iblis adalah menarik arwah dari jurang kematian. Bukan hanya Iblis, Kaisar Iblis dapat membangkitkan kembali manusia yang telah mati' Ucap Erlang pada Shuwan melalui telepati nya, Shuwan diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Mendarat" Hanya kata itu yang keluar dari bibir Shuwan setelah hening beberapa saat, dan Erlang pun mendarat tanpa kata.


Kemudian Shuwan pun melompat turun, bersamaan dengan Erlang yang berubah ke wujud manusia nya.


Shuwan mendongak ketika merasakan telinga nya berdengung keras. Seperti asal sesuatu yang berusaha menghubungi nya melalui telepati namun tidak berhasil.


Dahi Shuwan mengernyit ketika dengungan itu semakin keras dan samar-samar terdengar suara seseorang yang Shuwan kenal.


"Hu Ren" Gumam Shuwan pelan lalu dia dengan cepat menggigit jari nya hingga mengeluarkan sedikit darah.


Dia meneteskan darah tersebut ke bawah dan berjongkok dengan merapalkan mantra tanpa suara. Erlang yang bingung pun bertanya...


"Master? Apa yang kau lakukan? " Tanya Erlang yang di balas keheningan.


Erlang sudah biasa jadi dia pun memilih diam dan tidak mengatakan apa pun lagi. Memilih menunggu sang tuan memberi intruksi.


Sementara Shuwan masih memperhatikan tanah tempat dia meneteskan darah tadi. Lalu di tanah itu tiba-tiba muncul atau lebih tepat nya tumbuh sebuah Tunas kecil.


Lalu Shuwan pun menunjuk Tunas itu dengan jari di tangan kanan nya. Dia menyuntikkan energi dingin nya.


Seketika itu pula Tunas tadi tiba-tiba berada dalam sebuah bola Es. Shuwan mengambil bola Es kecil itu dan memasukkan nya dalam ruang dimensi.


"Putri Qin! " Panggil Fei Lin seraya berlari menghampiri Shuwan.


"Kau baik-baik saja? " Tanya Fei Lin dengan penasaran karena melihat wajah putih Shuwan yang tidak di hiasi rona apa pun.


"Shuwan" Ucap Shuwan singkat namun berhasil membuat dahi Fei Lin berkerut dalam, sedangkan Erlang hanya diam dengan wajah sedih karena merasa terabaikan.


"Apa maksud mu? " Tanya Fei Lin semakin bingung dengan perkataan aneh Shuwan.


"Panggil aku seperti itu" Ucap Shuwan tanpa mau menjelaskan lebih jauh lagi.


"Jadi apakah kau berhasil mengalahkan dua orang tadi? " Fei Lin kembali menanyakan hal yang sejak awal ingin ia tanyakan.


"Apa kita langsung berangkat? " Alih-alih menjawab pertanyaan Fei Lin, Shuwan justru kembali melayangkan pertanyaan.


"Emm setelah memulihkan tenaga pasukan, kita akan langsung berangkat" Jelas Fei Lin seolah melupakan hal yang ingin dia tanyakan tadi. Namun ternyata tidak!


"Jadi kau menang? " Shuwan cukup terkejut saat tahu kalau Fei Lin bukan orang yang mudah melupakan sesuatu. Jadi dia pun hanya menjawab dengan singkat....


"Bisa iya, bisa tidak..."


...----------------...


Aiya! Author sebenarnya gk mau pertarungan mereka cepat-cepat selesai. Tapi yaaahhh lama-lama author bosen nulis nya :(


Author juga jadi sedih karena sekarang semakin sedikit yang komen 😢😢


Author jadi bimbang, Apakah cerita ini harus di lanjut? Atau di putus aja? Putus atas terus?


Jujur aja cerita ini sedikit lagi tamat, karena chapter terakhir nya adalah saat perang selesai.


Jadi... ayo komen dan like!