
...Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Bagi yang melaksanakan!! ...
......................
"Teknik tanpa batas seperti teknik bayangan adalah yang terbaik" Lanjut Shuwan membuat Jiancheng bertepuk tangan.
"Kau memang murid ku" Ujar Jiancheng bangga membuat Shuwan menatap nya malas.
"Kalau begitu kita akan mulai dari.... "
......................
Hari-hari berlalu dengan begitu cepat, tak terasa sudah sepuluh hari lama nya Shuwan belum juga membuka mata.
Hal itu membuat kekhawatiran Chen semakin bertambah, terlebih beberapa kali wajah Shuwan lebih pucat dari biasa nya.
Dan hari ini seperti biasa, Chen sedang duduk di sisi peraduan Shuwan seraya menatap Shuwan dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Sementara Hua Feiye tentu akan berdiri di ambang pintu seraya bersedekap. Menatap ke arah Chen yang setia menunggu tanpa mengenal lelah.
"Jika aku tidak salah menebak, maka kau seharus nya menyukai gadis itu! Benar bukan? " Tiba-tiba suara Feiye memecah keheningan membuat Chen menoleh.
"Aku tidak yakin! " Jawab Chen singkat, kemudian menghela nafas dan melanjutkan....
"Sakit rasa nya ketika melihat dia seperti ini....! Entah mengapa aku selalu ingin melihat dia tersenyum, dan selalu ingin melindungi nya" Lanjut Chen membuat Feiye tersenyum tipis dalam diam.
"Ah seperti nya tebakan ku salah" Mendengar hal ini Chen mengernyitkan dahi nya, sementara Feiye terlihat menahan senyum.
"Ini bukan sekedar suka, maka kau saat ini sedang jatuh cinta"
"Jatuh cinta? " Tanya Chen mengulang ucapan Feiye dengan suara serendah mungkin, terlihat mata Chen yang sedikit membola.
"Bisakah aku memang sedang jatuh cinta? "Chen kembali bertanya, namun kali ini dengan ekspresi serius seolah sedang menghadapi sesuatu yang berbahaya.
" Ya...! Jatuh cinta! Kau akan merasakan perasaan berdebar ketika bersama nya, perasaan tidak senang saat dia dekat dengan pria lain dan perasaan ingin membuat nya bahagia bagaimana pun cara nya"Jelas Feiye dengan pandangan jauh ke depan seolah sedang menerawang masa depan.
Kemudian Feiye tersenyum kecil dan kembali menatap Chen dengan tatapan nanar.
"Kau harus memastikan perasaan mu sendiri, jangan sampai kau terlambat menyadari perasaan mu. Kau akan mengerti penyesalan ketika orang yang kau cintai di rebut oleh orang lain" Lanjut Feiye tersenyum tipis.
"Aku tidak akan membiarkan nya" Ucap Chen mengerutkan dahi nya merasa tidak senang dengan ucapan Feiye.
"Kalau begitu... Berusaha lah untuk meraih cinta mu kawan!! " Setelah mengucapkan hal itu, Feiye berjalan ke arah tempat Chen duduk kemudian duduk di sana.
Sreettt
Feiye mengangkat teko dan menuangkan teh ke dalam cangkir kosong. Kemudian dia menyeruput teh nya.
Mereka sama-sama menikmati teh yang berada di meja. Hingga kelopak mata Shuwan bergetar yang kemudian terbuka perlahan.
"Mmhh? " Shuwan mengerang membuat perhatian kedua nya teralih pada nya.
"Wan Wan? Kau sudah sadar? " Ucap Chen seraya bangkit dari duduk nya dan menghampiri Shuwan kemudian duduk di sisi peraduan.
"Menurut mu? " Tanya Shuwan dengan nada datar kemudian bangkit dan duduk dengan lancar.
Grepp
Tanpa di duga tepat setelah Shuwan menegakkan punggung nya, Chen segera memeluk tubuh Shuwan membuat gadis muda itu tersentak dan terdiam.
Melihat hal itu, Feiye tersenyum tipis kembali pergi keluar diam-diam untuk memberikan ruang kepada mereka berdua.
"Kau tahu betapa khawatir nya aku saat merasakan tubuh dingin mu? " Tanya Chen membuat Shuwan membeku seketika.
Kemudian Shuwan kembali tersadar dan menepuk pelan punggung Chen dengan tangan kanan nya. Kemudian berkata dengan nada datar...
"Kau khawatir pada ku? Lalu kenapa kau ingin membunuh ku sekarang? " Tanya Shuwan dengan suara lemah, jujur saja pelukan Chen memang cukup erat.
Sreettt
'Apa kah dia sungguh mengkhawatirkan ku? 'Batin Shuwan menatap lekat manik mata Chen, kemudian dia memalingkan wajah nya.
"Aku baik-baik saja" Balas Shuwan dengan suara rendah.
"Apa kau menginginkan sesuatu? " Tanya Chen dengan nada yang lembut, Shuwan menatap nya sesaat sebelum kembali memalingkan wajah.
"Emm bisa kah kau memberi ku air? " Mendengar hal ini Chen segera bangkit dan mencari air biasa yang kemudian dia bawa menggunakan mangkuk gelas.
"Minum lah perlahan" Ucap Chen seraya meminum air itu kepada Shuwan dengan lembut.
Shuwan tak menolak, dia hanya menerima dengan batin yang terus bergejolak. Ribuan pertanyaan masih tertahan di tenggorokan.
Setelah Shuwan minum, Chen meletakkan mangkuk gelas tadi di meja kemudian kembali duduk di sisi peraduan seraya menggenggam tangan Shuwan.
"Pangeran-"
"Chen! Kau bisa memanggil ku Chen! Jangan memanggil ku dengan sebutan Pangeran" Dengan segera Chen memotong ucapan Shuwan yang masih memanggil nya dengan sebutan Pangeran.
"Kenapa kau mengkhawatirkan ku? " Tanya Shuwan tanpa mengindahkan ucapan Chen barusan membuat Chen hanya menghela nafas.
"Aku tidak tahu! " Jawab Chen dengan cepat, kemudian dia melanjutkan...
"Aku tidak mengerti perasaan ku. Perasaan ini tak pernah ku rasa kan sebelum nya, perasaan ingin melindungi, perasaan ingin memiliki, dan perasaan berdebar ketika bersama mu" Jelas Chen seraya meletakkan telapak tangan Shuwan di dada kiri nya.
Degg
Degg
Degg
Shuwan dapat merasakan nya, dapat merasakan jantung Chen yang berdegup melebihi orang normal. Dan Shuwan juga bisa merasakan hal yang sama pada diri nya, meski tidak se-berdebar Chen.
"Kau tahu? Aku sudah memiliki kekasih dan aku sangat mencintai nya"
Degg
Mendengar hal ini secara alami Chen merasa kecewa sekaligus sedih. Ada rasa sakit yang teramat menusuk rongga dada nya.
"Tapi dia sudah tiada" Lanjut Shuwan seraya terkekeh miris, terlihat genangan air mata di sudut mata nya yang sedikit memerah.
Namun sesaat kemudian wajah nya kembali kaku seolah tidak pernah mengatakan apa pun. Genangan air mata pun lenyap begitu saja.
"Aku tidak tahu perasaan apa yang kau miliki untuk ku. Namun jika itu memang cinta, maka bantu aku untuk mengubur masa lalu" Ucap Shuwan lagi seraya membuang pandangan nya ke samping kiri sehingga tidak melihat Chen yang mengulas senyum nya.
"Maka ijinkan aku untuk memasuki hati mu perlahan-lahan" Ucap Chen menangkup wajah Shuwan sehingga Shuwan kembali menatap mata nya.
"Yah! Kita lihat seberapa lama kau mampu bertahan" Ejek Shuwan seraya memberi senyuman miring.
"Lihat saja! Aku Zhao Li Chen akan berhasil meluluhkan hati seorang Shuwan. Tidak peduli bahkan jika itu harus menghabiskan seumur hidup ku! " Ujar Chen dengan mantap membuat seulas senyum terlukis di wajah Shuwan.
...----------------...
Hai....!
Apa kabar?
Harus baik dong ya!!!
Jangan lupa LIKE!!
WA: +6282123981798(Dua grup yang mengirim Film setiap minggu nya)
IG: @lrnrrhmnia1412
Email: rahmanialiranur@gmail.com
Selalu dukung author!!!