
...Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Bagi yang melaksanakan!! ...
......................
'Ini sudah dua hari, cepat lah bangun. Ada yang ingin ku tanya kan pada mu' Gumam Feiye dalam hati seraya terus memakan makanan nya.
'Aku tahu kamu baik-baik saja. Cepat lah pulih, ada yang ingin ku pastikan dan ku harap hasil nya memuaskan' Lirih Chen dalam hati dengan pandangan lurus ke depan.
......................
Langit tampak berwarna biru cerah tanpa ada awan. Matahari seolah tak bergerak dan tetap berada di atas.
Di sebuah tempat yang terlihat seperti padang rumput yang luas. Di sana terdapat sebuah Danau yang terlihat tidak terlalu dalam.
Setia sisi Danau di kelilingi Batu-batu dengan ukuran sedang. Tidak besar namun juga tidak bisa di bilang kecil karena besar nya seperti kepala manusia dewasa.
Tak jauh dari Danau itu terdapat sebuah Pohon Persik yang rimbun. Dedaunan hijau tampak lebat dengan batang pohon yang besar dan kokoh.
Tepat di bawah pohon itu seorang Gadis sedang duduk bersila seraya memejamkan mata nya. Di hadapan gadis itu terdapat segumpal asap yang membentuk manusia.
Perlahan gadis itu membuka kelopak mata nya, menampilkan sepasang manik mata keemasan yang khas di miliki oleh Keluarga Fu.
Gadis itu memakai hanfu putih bersih dengan luaran berwarna putih kecoklatan. Rambut nya yang hanya di ikat menjadi satu dengan ikatan asal.
"Kau cukup berkembang selama beberapa hari ini" Ucap gumpalan asap itu memuji sang gadis.
"Kalau begitu... Apa aku sudah bisa keluar dari tempat ini? " Tanya sang gadis dengan nada bicara yang datar.
"Tidak bisa keluar, tergantung perkembangan Racun dalam tubuh mu itu! "
Ucapan gumpalan asap itu membuat sudut bibir sang gadis bergetar. Dia menarik nafas dan membuang nya dengan kasar.
"Racun dalam tubuh mu menghambat perkembangan kekuatan yang sekarang seharus nya sudah cukup tinggi" ucap segumpal asap yang membentuk seorang pria, pria tua yang duduk melayang dengan posisi bersila.
"Tidak ada penawar, hanya bisa di tekan atau di keluarkan" Balas Shuwan, gadis tadi adalah Shuwan.
"Itu karena kau yang bertindak dengan impulsif" Komentar Jiancheng, segumpal asap itu adalah Jiancheng.
"Bukan impulsif! Hanya kurang berhati-hati saja" Mendengar komentar dari Jiancheng, secara alami Shuwan membantah.
"Yang terpenting saat ini adalah kau harus segera mengeluarkan nya! Atau kau hanya bisa hidup selama 3 Tahun dari sekarang" Ucap Jiancheng membuat Shuwan merenung, kemudian Shuwan memejamkan mata nya.
"Benar! Mungkin aku bisa menghentikan para Iblis dalam waktu 3 Tahun dan mati dengan tenang" Ucap Shuwan dengan suara rendah tanpa membuka mata nya.
"B*doh! " Umpat Jiancheng dengan sedikit marah memandang murid nya.
"Kau masih sangat muda, masa depan mu masih begitu panjang. Racun Es mu itu, bukan berarti tidak memiliki solusi. Memang nya kau tidak ingin menikah dan memiliki anak? " Tanya Jiancheng dengan suara sedikit meninggi membuat Shuwan membuka mata nya dan menatap datar sang guru.
"Lupa kan soal itu! Aku merasa semakin hari kau semakin memudar. Apa kah itu hanya perasaan ku saja, guru? "Tanya Shuwan mengalihkan pembicaraan membuat Jiancheng merasa kesal.
" Huft! Tugas ku hampir berakhir, keberadaan ku di dunia tidak seharus nya terjadi. Aku harus berada di tempat seharus nya"
"Tak perlu memikirkan hal itu! Setiap pertemuan pasti memiliki perpisahan, yang hidup akan mati. Dan semua orang memiliki batasan masing-masing, dan guru mu ini hampir berada dalam batasan nya. " Lanjut Jiancheng karena Shuwan masing diam. Kemudian Shuwan menarik sebelah sudut bibir nya...
"Yang hidup akan mati, pada akhir nya kematian tetap tidak bisa di hindari" Gumam Shuwan tersenyum sinis. Lalu kembali berkata...
"Entah sudah berapa lama aku berada di alam bawah sadar ini. Sebelum pergi keluar, ada baik nya kita kembali berlatih bukan? " Tanya Shuwan seraya bangkit dan berdiri, kemudian menepuk pakaian nya yang sedikit kotor.
"Benar! Guru mu ini akan mengajar kan mu satu Teknik di antara Dua, pilih lah salah satu" Jiancheng menengadah kan kedua tangan nya.
Kemudian di masing-masing tangan muncul satu gulungan bambu dengan tulisan berbeda. Jiancheng menyodorkan kedua nya pada Shuwan.
"Teknik Bayangan dan Teknik Bumi Abadi" Ucap Jiancheng seraya tersenyum tipis melihat murid nya yang terus memperhatikan salah satu gulungan.
"Teknik Bumi Abadi tahap tertinggi ya? " Tanya Shuwan kepada guru nya, namun mata Shuwan terus fokus menatap gulungan Teknik Bayangan.
"Ya! Teknik Bumi Abadi adalah teknik yang sudah mencapai Kesempurnaan. Berbeda dengan Teknik bayangan yang masih tingkat rendah" Jiancheng menjelaskan perbedaan kedua teknik itu.
'Dia meminta ku memilih antara Teknik Tingkat Rendah atau tingkat Sempurna. Jika itu orang lain, maka akan memilih Teknik Bumi Abadi. Kalau begitu aku akan memilih.... 'Batin Shuwan seraya mengambil salah satu gulungan dari tangan guru nya.
"Aku pilih Teknik Bayangan" Ucap Shuwan dengan mantap dan percaya dengan diri nya.
"Oh? Kenapa memilih Teknik Bayangan yang sudah jelas berada di tahap rendah? Bukan kah lebih menyenangkan melatih Teknik tinggi? " Tanya Jiancheng dengan sudut bibir tertarik.
"Orang-orang sangat mengincar Teknik yang sempurna. Padahal yang sempurna itu memiliki batasan nya, Sempurna itu berarti Teknik ini hanya memiliki batas hingga titik itu. Sedang kan Teknik Bayangan adalah teknik dasar yang bisa di kembangkan tanpa ada batasan" Jelas Shihab menjeda ucapan nya kemudian kembali Melanjutkan....
"Teknik tanpa batas seperti teknik bayangan adalah yang terbaik" Lanjut Shuwan membuat Jiancheng bertepuk tangan.
"Kau memang murid ku" Ujar Jiancheng bangga membuat Shuwan menatap nya malas.
"Kalau begitu kita akan mulai dari.... "
...----------------...
Hai....!
Apa kabar?
Harus baik dong ya!!!
Jangan lupa LIKE!!
WA: +6282123981798(Dua grup yang mengirim Film setiap minggu nya)
IG: @lrnrrhmnia1412
Email: rahmanialiranur@gmail.com
Selalu dukung author!!!