
"Hancurkan apa? Mereka hanya menghancurkan diri sendiri saja" Gumam nya pelan, mata nya yang merah tampak bercahaya.
Wajah tampan dengan penuh kharisma itu terlihat, jelas menampakkan wajah sosok seorang Xiu Min yang ketampanan nya di akui Negara.
"Satu langkah lagi, maka laut akan menjadi merah" Ucap nya dengan senyuman sinis kemudian tertawa terbahak-bahak.
......................
Langit sudah terlihat gelap, malam telah tiba dan Shuwan berada di taman Kekaisaran Zhao untuk menenangkan diri.
Gerimis kecil yang terjadi tidak membuat kaki nya bergerak barang sedikit pun. Pandangan nya masih kosong ke depan, berdiri dengan kokoh meski mulai basah karena rintik-rintik hujan.
"Kenapa? Apa kamu tidak bisa tidur? " Shuwan menoleh melihat Chen yang berada di sisi nya.
"Kamu sendiri? " Tanya Shuwan balik, dia menyadari perubahan sikap Chen yang sedikit menjauh.
"Hanya ingin menghirup udara segar" Balas Chen singkat, kemudian menengadah kan kepala nya...
"Angin Berhembus... Malam menjadi dingin. Sepasang kelopak mata cantik tidak tertutup.... " Chen menatap lekat manik mata Shuwan, kemudian melanjutkan....
"Tetap terbuka... Untuk merindukan siapa? " Lanjut nya dengan senyum tersungging di bibir, Namun Shuwan tahu itu adalah senyum kecut.
"Tanah di Barat terasa panas.... Tanah di Timur terasa Dingin. Di perbatasan, siapa yang dapat menyatukan? " Ucap Shuwan bersyair dengan mata sejernih kristal.
"Kamu pasti mengerti maksud ku, bukan? " Tanya Shuwan setelah menyelesaikan Syair nya.
"Panas dan Dingin itu berbeda, namun mereka berada di kawasan yang sama. Hal apa yang membuat kedua nya bersatu" Ucap Chen pelan menyederhanakan arti syair yang Shuwan lantunkan.
"Oh ya! Tuan muda Hua menitipkan ini kepada mu" Ucap Chen yang mengingat sesuatu seraya menyerahkan kertas kepada Shuwan.
Shuwan mengangkat sebelah alis nya lalu membuka lipatan itu. Membaca nya sekilas, bibir nya tidak bisa untuk tidak tersenyum. Menatap Chen, dia membaca isi surat itu dengan suara...
"Seperti air yang tenang dan menghanyutkan. Namun juga seperti air yang tidak berbentuk dan akan mengikuti bentuk wadah nya. Tidak tetap pendirian. Shuwan... Kata apa yang harus ku ungkap kan pa-"
Sreettt
Dengan jantung berdegup Chen segera menarik kertas yang masih Shuwan pegang sehingga Shuwan tidak sempat membaca seluruh nya.
"Ma-maaf aku. Aku salah memberi kertas" Ucap Chen gugup kemudian kembali mengambil kertas yang lain.
"Untuk apa mengatakan nya pada kertas? Kenapa tidak berbicara langsung dengan ku? Hihihi" Shuwan terkikik seraya mengambil kertas lain yang Chen sodorkan.
Masih dengan wajah tersenyum, Shuwan membaca isi surat itu dalam hati. Seketika senyum nya luntur, wajah dingin kembali seperti sebelum-sebelum nya.
Mata Shuwan berkilat marah, dia meremas surat itu kemudian tanpa sengaja membakar nya menjadi abu.
"Ada apa Wan Wan? Kenapa kamu terlihat marah? " Tanya Chen bingung namun berhasil membuat Shuwan meredakan amarah nya.
'Baik! Aku tidak boleh terburu-buru. Tenang... dan serah kan semua ini kepada mereka! Kamu harus menyelesaikan masalah di sini dulu Shuwan!! 'Ujar Shuwan dalam hati seraya memejamkan mata nya erat.
Kemudian dia membuka mata nya yang terpejam, menatap datar Chen yang sedang menatap nya cemas.
"Apa yang terjadi? " Tanya Chen seraya menggenggam jemari Shuwan, kemudian meremas nya pelan.
"Kamu pasti mengira kalau aku akan kembali pada kekasih ku bukan? " Alih-alih menjawab, Shuwan melemparkan pertanyaan yang membuat Chen membeku tidak berdaya.
"Iya... " Jawab Chen dengan suara rendah, Shuwan tersenyum lalu berkata...
"B*doh! Aku melihat kematian nya di depan mata ku sendiri. Mustahil bagi ku untuk percaya kalau dia masih hidup" Jelas Shuwan singkat, namun suasana hati yang sedang kacau membuat Chen sulit mengerti.
"Kekasih ku, Kak Lee sudah tiada sejak cukup lama. Dan yang saat itu mengaku adalah orang lain yang menggunakan teknik penyamaran, aku jelas mengingat aura yang menyelimuti Kak Lee" Lanjut Shuwan merendahkan suara nya.
"Jadi selama ini? " Chen tidak sanggup berkata-kata, dia begitu senang saat mengetahui kalau Shuwan sedang bermain peran.
"Kak.... Lee.... Mu? " Tanya Chen dengan suara rendah nya, hampir berbisik dan terdengar samar oleh Shuwan. Shuwan tersenyum samar mendengar nya.
"Yang saat ini aku lakukan adalah mengikuti permainan mereka. Dari mana seseorang dapat menemukan Hilir sungai? Mengikuti arus adalah jalan nya" Jelas Shuwan dan Chen mengangguk paham dengan penjelasan singkat yang Shuwan berikan.
"Jadi kamu akan terus berada di dekat nya beberapa hari ini? " Tanya Chen dengan raut wajah tidak rela.
"Bukan beberapa hari" Ucap Shuwan membuat Chen menahan nafas, namun perkataan Shuwan selanjut nya membuat dia bernafas lega.
"Hanya satu hari besok saja! Aku harus segera kembali ke dunia ku. Pasukan Iblis sudah mulai menyerang" Ketika Shuwan menyelesaikan ucapan nya, Shuwan berbalik ke samping dan menatap Chen dengan lekat.
"Kau akan pergi? " Chen dengan segera menarik tangan Shuwan dan menggenggam nya dengan erat.
"Di tempat yang bernama Padang Abadi, tepat saat Bulan berwarna merah mulai naik ke atas" Ucap Shuwan tersenyum tipis, dia membalas genggaman tangan Chen, bahkan meremas nya.
"Hidup atau Mati, ku harap bisa bertemu dengan mu lagi... Baik sebagai seorang Zhao Li Chen, mau pun Zhou Zhenli" Lanjut Shuwan mengulas senyum nya dengan tulus untuk pertama kali di tunjukkan kepada Chen.
"Apakah... Kamu menerima kehadiran ku? " Tanya Chen dengan hati-hati, dan dia sudah siap menerima jawaban apa pun.
"Kamu tahu aku sulit dekat dengan orang lain, jadi kamu pasti sudah tahu jawaban nya" Shuwan mengalihkan pandangan nya ke samping.
"Tatap aku Shuwan" Chen menangkup kedua pipi Shuwan, wajah nya serius dengan tatapan lurus.
"Apa kamu mencintai ku? " Tanya Chen lagi, kemudian dia bisa melihat mata Shuwan yang begitu jernih.
"Coba tebak? " Shuwan mengangkat sebelah sudut bibir nya dengan nakal, dia tidak berniat menjawab pertanyaan Chen.
"Wan Wan....!! " Dengan kesal Chen mencubit kedua pipi Shuwan. Dengan segera Shuwan memegang kedua tangan Chen.
"Kamu ini...! Menyebalkan" Ucap Shuwan seraya mengusap pipi nya dan memalingkan wajah ke samping.
"Hehehe apa Wan Wan ku merajuk? Baik. Baik Li Chen minta maaf. Janji tidak akan mengulangi nya" Chen tersenyum kemudian mengacungkan jari kelingking nya ke atas.
"Kekanakan! " Shuwan hanya mendengus tapi bibir nya tetap melengkung. Membentuk senyuman, dan kali ini Chen menyadari hal itu.
...----------------...
Gimana yang kelanjutan kisah mereka?
Apakah dipersatukan? Atau di pisahkan?
kalian ingat kekuatan Leluhur iblis itu bisa membangkitkan orang mati?
menurut kalian... Shuwan cocok nya sama siapa nih?
ayo komentar...!
...Tim A\= Shuwan - Chen...
...VS...
...Tim B\= Shuwan - Lee...
Yang dukung Tim A angkat tangannya!! 👍
Yang dukung Tim B angkat kaki nya, eh maksudnya angkat tangan nya!! 👍
Atau para reader ada kandidat lain? Seperti Huo Shuai mungkin?
Silahkan komen di bawah!!! Jangan lupa Like!!!