
" Siapa kau gadis kecil? "Gumam ChenĀ sadar tersenyum tipis memandang wajah Shuwan.
......................
" Entah lah aku pun meragukan identitas mereka" Ungkap Kaisar dengan jujur saat Permaisuri mengutarakan pikiran nya.
"Benar! Mereka bahkan terlihat sangat elegan dan jika di perhatikan lebih jelas ternyata pakaian yang mereka kenakan itu tidak murah. " Tutur Permaisuri menatap kaisar dengan serius.
Tokk
Tokk
Tokk
Perhatian mereka teralihkan pada pintu yang di ketuk, Kaisar dan Permaisuri segera menegakkan punggung mereka.
"Masuk lah! " Ujar Kaisar lalu pintu terbuka menampilkan sosok kasim tua yang langsung membungkuk di hadapan Kaisar dan Permaisuri.
"Salam kepada Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri, semoga selalu di beri keberkahan! " Ucap Kasim itu membungkuk dan menangkup tangan nya.
"Bangun lah Kasim Qu! " Kaisar segera mempersilahkan Kasim itu bicara karena ia penasaran melihat raut wajah Kasim nya yang nampak pucat dengan semburat kemerahan di pipi nya.
"Di luar ada seorang pemuda bermata Hijau yang ingin bertemu anda! "
Mendengar penuturan Kasim Qu, wajah Kaisar dan Permaisuri begitu pias. Hanya satu orang di negri ini yang memiliki mata hijau.
Dan mereka semua tahu siapa itu! Hanya satu orang yaitu Putra Mahkota mereka, Zhao Li Chen.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun Permaisuri bangkit dari duduk nya dan segera berlari keluar.
Kaisar Yang sedang terkejut pun segera tersadar dan berlari menyusul Permaisuri nya meninggalkan Kasim Qu.
"..... " Kasim Qu pun tak dapat mengatakan apa pun lagi melihat reaksi ke dua nya.
Ia sudah mengabdi pada Kaisar sejak ia masih muda, dan ia hapal betul tabiat Kaisar Yang sangat penyayang.
"Chen'er!! " Pekik Permaisuri seraya menutup mulut nya dengan tangan sendiri, mata nya berkaca-kaca melihat pemuda di hadapan nya.
Pemuda itu tampak tersenyum teduh melihat wajah sang ibu, lalu di susul Kaisar Yang tak kalah terkejut.
"Chen'er!? " Kaisar begitu terkejut melihat wajah sang putra yang tak lagi terlihat pucat.
Li Chen hanya tersenyum melihat reaksi orang tua nya. Ia begitu ingin memeluk ke dua nya yang amat ia sayangi.
"Ayahanda.... Ibunda.... " Panggil Chen pelan tanpa sadar air mata nya menetes.
Greepp
Permaisuri segera memeluk anak nya yang amat ia sayangi lalu terisak di pelukan sang putra.
"Hiks hiks Bagaimana keadaan mu nak? Apa kau merasa kedinginan? " Permaisuri masih terisak tak menyangka kalau hari ini akan tiba.
Kaisar pun tak ingin kalah dan segera ikut memeluk mereka. Pada akhir nya mereka ber-tiga saling berpelukan dengan perasaan yang di ungkapkan dengan cara masing-masing.
Setelah beberapa saat mereka berpelukan akhir nya mereka melepaskan pelukan mereka.
"Baiklah sebaik nya kita masuk dulu" Ucap Kaisar mengusap air mata nya.
".... "
Chen dan Permaisuri hanya tersenyum dan mengikuti langkah Kaisar kembali masuk ke kediaman nya.
Permaisuri tak henti-henti nya mengucap syukur, bagi nya ini bagaikan mimpi. Dan ia berharap jika ini mimpi, ia tak pernah bangun lagi.
Lalu Kaisar duduk di kursi panjang nya di ikuti Permaisuri. Kemudian Permaisuri menarik Chen agar duduk di tengah-tengah mereka.
"Ibunda sangat bersyukur kau seperti dulu lagi" Ucap Permaisuri mengecup kepala anak nya.
Chen tersenyum lalu kembali memeluk ibu nya menyalurkan perasaan yang ingin ia ungkapkan.
Namun kali ini sedikit bingung apakah ia harus mengatakan tentang gadis yang membantu nya?
"Bagaimana kau bisa sembuh nak? Bukan kah kau membutuhkan Inti Api? " Tanya Kaisar bingung, meski ia senang namun tetap saja ini aneh.
"..... " Chen bimbang dan batin nya berperang karena ia takut gadis itu di hukum karena memasuki kediaman nya diam-diam.
"Sebenarnya ada seorang gadis yang masuk ke kediaman ku dan menyembuhkan ku.... Tapi dia sama sekali tak menggunakan inti api sehingga setelah berhasil menyembuhkan ku dia langsung tak sadarkan diri" Tutur Chen pada akhir nya memilih jujur.
Sebisa mungkin ia akan melindungi gadis itu agar tidak di tuduh bersalah oleh orang tua nya. Ia berhutang nyawa pada gadis cantik itu.
"Benarkah? Bagaimana mungkin dia bisa masuk ke kediaman mu tanpa ada yang tahu? " Pekik Kaisar bingung dan terkejut mendengar apa yang di dengar nya.
"Apa pun itu dia adalah pahlawan, dan kita harus berterimakasih pada nya" Tukas Permaisuri masih dengan wajah yang berseri-seri.
Mereka ber-tiga segera menoleh saat mendengar suara dari arah pintu. Terlihat lah Shen yang berdiri bersedekap dengan wajah berurai air mata.
"Shen'er! " Panggil Chen dengan senyuman di wajah tampan nya. Chen bangkit dan mendekati adik nya, begitu pun dengan Shen yang merentangkan tangan ke arah kakak nya.
"Kau semakin tampan kak! "
Shen segera memeluk sang kakak erat sambil sesekali mengusap air mata nya. Ia menangis haru karena hari yang ia tunggu-tunggu telah tiba.
"Jadi di mana gadis itu? " Tanya Shen seraya melepaskan pelukan nya.
"Dia ada di kamar ku" Jawab Chen tersenyum tipis.
"Kalian melupakan kami? " Permaisuri bangkit dan mendekati mereka di ikuti Kaisar.
Lalu sekali lagi mereka berpelukan menyalurkan rasa bahagia mereka. Tanpa ada yang menyadari kalau mereka ternyata sedang di awasi sepasang mata coklat.
"Ayo kita lihat keadaan gadis itu, Ibunda ingin berterimakasih pada nya" Tutur Permaisuri melepaskan pelukan nya dan meraih tangan Kaisar dengan mesra.
"Baiklah ayo! "
***
Kelopak mata nya bergetar sebelum akhir nya perlahan terbuka seraya mengerjap menyesuaikan cahaya yang memasuki retina.
Lalu ia mengedarkan pandangan nya dan melihat punggung pemuda yang ia bantu itu mulai menjauh dan hilang di balik pintu.
Ia segera beranjak duduk dan menyentuh kepala nya yang terasa pening. Lalu ia mengangkat sudut bibir nya.
"Aku tak pernah gagal! " Gumam Shuwan pelan merasa bangga terhadap diri nya sendiri.
Kembali ia melihat ke pintu tempat pemuda tadi pergi. Lalu ia segera berdiri dan mengikuti pemuda itu diam-diam.
Nampak setiap pelayan dan penjaga yang melihat nya pasti terkejut sampai tak mampu berkata-kata.
Pemuda itu berjalan dengan wajah dingin yang masih terlihat pucat. Namun berangsur-angsur menghilang dengan rona merah di wajah nya.
Pemuda itu berhenti di depan gerbang kediaman dan menatap dingin dua penjaga yang sedang berjaga namun membeku saat melihat nya karena terkejut.
"Kasim Qu! " Panggil pemuda itu kala atensi nya melihat seorang kasim tua yang juga tak kalah terkejut.
"Ya-yang mulia;? " Pekik Kasim Qu amat terkejut.
Chen mengulas senyum tipis melihat reaksi sekitar nya. Namun ia segera berkata....
"Ya ini aku! Tolong aku ingin bertemu Kaisar dan Permaisuri" Ucap nya memberi kode dengan telunjuk di letakkan di bibir seolah mengatakan untuk berpura-pura tidak tahu.
Plakk
Kasim Qu menampar wajah nya sendiri menciptakan bekas kemerahan di pipi nya. Terasa sakit dan membuat ia sadar kalau yang di hadapan nya bukan mimpi atau ilusi.
Shuwan terkekeh pelan melihat itu, bagi nya reaksi seperti itu sangat lah berlebihan. Terlebih saat melihat para pelayan yang tiba-tiba pingsan.
".... " Chen menatap datar Kasim Qu di hadapan nya seolah mengatakan itu tidak lah lucu.
...----------------...
Hai....!
Anggap lah Chapter ini hutang author yang beberapa waktu lalu tidak update.
Jadi karena author sudah membayar nya, kalian para Readers harus menekan tombol Like yaaa.....
Like itu gratis kok, ga bakal rugiin kalian sama sekali :')
Sekalian mau nanya, gimana menurut kalian reaksi Kasim Qu sama yang lain nya saat melihat Putra Mahkota mereka berdiri tanpa kesulitan?
Hehehe~~
Yuk yang mau kasih kritik dan saran...
Author Welcome kok, tapi maaf banget author jarang balesin komen karena kesibukan duniawi.
Nanti bila ada waktu senggang, lebih mending mena?
Kalau ada waktu senggang, mending buat Update atau balesin komen??
Jawab yahh!!?
Jangan lupa Like!!!
See You Next Time~~