Time Travel The Secret Agent

Time Travel The Secret Agent
T3SA Eps. 1 : Kelahiran Kembali (Dalam Tahap Revisi)



...Selamat Membaca!!...


...----------------...


Di siang hari yang panas, terbaring Anak perempuan berusia 11(sebelas) tahun yang tubuhnya sudah kaku dan mulai dingin.


"Bagaimana keadaan putri bungsu?" tanya seorang laki-laki paruh baya yang menggunakan jubah bersulamkan emas.


"Yang mulia..... putri bungsu sudah-"


"Akhh!? " ucapan sang tabib terpotong karena sosok yang terbaring lemah itu mengeram. Seseorang yang terbaring lemah tersebut adalah Shuwan, atau sekarang bernama Qin Shuwan.


"I-ini dimana? kalian si-apa? " ucapnya sambil menahan sakit di kepalanya.


Brukk


"Putri! Putri akhirnya sadar, nubi sangat khawatir dengan putri. Hukumlah nubi putri! Karena nubi, putri jatuh dari tangga


" ucap wanita muda yang sepertinya berumur 15 tahun dengan pakaian lusuh.


"Siapa Kamu!? " ucap Shuwan menatap wanita itu dingin. Pria paruh baya yang menggunakan jubah mengernyit bingung. Rupanya pria itu adalah seorang Kaisar.


"Apa yang terjadi tabib? " tanya sang kaisar


"A-Ampun yang mulia... Hamba rasa ada yang salah, padahal hamba tadi memeriksa nadinya, dan sudah tidak berdetak. Ta-Tapi Ada sebuah keajaiban." ucap seorang pria paruh baya dengan pakaian sedikit lusuh, sepertinya dia tabib.


"Periksa kembali!! " Titah sang kaisar dengan nada tegas. Langsung sang tabib memegang tangan Shuwan lalu memeriksa kesana dan kesini.


"Ampun yang mulia. Putri bungsu sepertinya hilang ingatan dan kekurangan darah"


"oh! kalau begitu istirahat lah! " ucapnya sambil pergi di ikuti satu wanita di belakang dan beberapa anak kecil yang memberikan Shuwan tatapan datar dan jijik, namun bukan Shuwan namanya jika dia peduli. Tabib tadi juga segera mengundurkan diri.


"Putri tidak ingat nubi kah? Hiks hiks maafkan nubi yang gagal menjaga putri" ujar pelayan itu sambil terisak. Ahh, Sepertinya dia pelayan pribadi pemilik tubuh anak kecil berusia 12 tahun ini.


"Akh" Shuwan mengerang pelan seraya memegang kepalanya, perlahan memori-memori kelam anak ini muncul di kepalanya.


......................


"****** kecil... kau berani bermain-main denganku? "


......................


"Hentikan tangisanmu itu!! Terdengar memuakkan! "


......................


"Menjauh dariku! Kau sangat menjijikkan tahu tidak? "


......................


"Hahaha lihat sampah ini! Dia bahkan berlutut meminta makanan kepadaku yang hanya seorang pelayanan, padahal dia adalah seorang putri! "


......................


"Jangan menyentuh pakaianku! Kau membuatnya kotor dasar sampah!! Tidak berguna, seharusnya kau mati saja! "


......................


"Jangan memanggilku Kakak! Kau tidak layak, pembunuh!! "


......................


Shuwan terus memegang kepalanya yang berdenyut. Perkataan dan ingatan asing memasuki kepalanya begitu saja.


"Putri ada apa putri? Putri?! Apa perlu nubi panggil tabib? " tanya pelayan itu dengan panik sambil memegang tangan Shuwan yang dingin.


"Tidak perlu."


"Baiklah putri... apa putri lapar?


"Baiklah." ucap Shuwan sambil beranjak perlahan dari tempat tidur seraya dibantu pelayanannya.


'Apa nya yang baiklah? Bukankah aku bertanya apakah dia lapar? Kenapa jawabannya baiklah? Apa dia memintaku menyiapkan makanan? yasudah lah' Batin pelayan itu yang bernama Xiaomi sambil bebertanya-tanya.


...***...


Shuwan sudah selesai mandi dan menggunakan hanfu merah muda polos. Dia memang sudah terbiasa mandiri jadi tak perlu disiapkan di bisa sendiri.


"Putri ini makanannya sudah siap" ucap Xiaomi begitu melihat junjungannya keluar dari kamar mandi.


"Tunggu sebentar Kak" sambil menarik kursi dan duduk di meja rias.


Saat ia melihat pantulan dirinya di cermin ia tidak terkejut dengan pipi nya yang terlalu tirus untuk anak seumurannya. Wajahnya yang pucat dan sedikit berminyak.


"Eh!? " Xiaomi terkejut saat junjungannya itu memanggil dir


"Bu-bukan begitu Putri, hanya saja... hanya saja Nubi merasa tidak pantas." Xiaomi menundukkan kepalanya.


"Semua manusia memiliki derajat yang sama di mata Tuhan. Anggap saja aku adikmu, maka aku juga akan menganggapmu kakakku." ucap Shuwan seraya tersenyum tipis, sejujurnya dia agak kesal karena dunianya saat ini terlihat sangat menyebalkan dengan sistem kasta itu.


" Terima kasih banyak putri"


"Jangan panggil aku putri mulai sekarang, panggil saja nama-Ku atau Wan'er? "


'oh mulut ku kaku' Batin Shuwan tersenyum kaku.


"hamba tidak berani putri"


"aku tak suka di bantah"


"baiklah put-Wan'er" Xiaomi segera meralat ucapan nya. Mendengar itu Shuwan tersenyum dengan manis untuk diri nya sendiri sebab masih ada yang menganggap anak ini ada.


Setelah selesai mengikat rambut nya tinggi-tinggi Shuwan segera duduk dimeja makan, di lihat nya Xiaomi yang masih berdiri membuat nya mengernyit heran.


"Kenapa? " tanya nya singkat padat tapi tidak jelas dan membingungkan.


"Maksud Wan'er?? " Xiaomi bingung karena ucapan sang putri terlalu rumit.


"Kenapa masih berdiri? Ayo makan! " ucap Shuwan sambil mendengus sebal karena Xiaomi tak mengerti kata-kata nya.


"tapi -" Xiaomi tak melanjutkan ucapannya dan memilih ikut duduk lalu makan karena melihat wajah Shuwan yang semakin dingin.


Satu kata yang layak untuk menggambarkan keadaan saat itu adalah 'Canggung'. Keadaan yang hening pun melengkapi acara makan siang itu hingga.....


Braaaakk


Suara pintu didobrak secara paksa sukses membuat Shuwan mengernyit heran.


"Dasar j*l*ng si*l*n! kenapa kau tidak mati saja hah? " ucap seorang anak perempuan yang sepertinya berusia 14 tahun.


Takk


"Tidak tahu malu! " ucap Shuwan seraya menaruh sumpit dengan cukup keras ke tempat nya. Shuwan pun segera bangkit dari duduk nya dan menatap pengganggu itu dengan tatapan tajam.


"Apa kata mu barusan hah?? Siapa yang tidak tahu malu hah?? Besar sekali nyali mu J*l*ng" Ucap nya dengan menarik kerah pakaian Shuwan.


"Diam kau!! " Sentak Shuwan pada nya karena kesabaran Shuwan tidak cukup banyak.


"Kau berani kepada ku Hah!? J*lang si*lan!! Bosan hidup kau hah!? " Teriak anak itu keras kemudian mengangkat tangan nya.


Plakk


Bukan Shuwan yang tertampar, melainkan anak itu di tampar oleh Shuwan. Tenaga yang Shuwan gunakan tidak lah besar karena tubuh nya masih sangat lemah.


"Kamu! " Anak itu menatap Shuwan dengan tajam, lalu dia mencengkram leher Shuwan membuat Xiaomi panik.


"Pu-putri! Mohon ampuni Putri Shuwan! Dia masih anak-anak" Ucap Xiaomi seraya bersujud di kaki anak itu. Sementara Shuwan hanya mengernyitkan dahi nya samar.


"Yang mulia! Kaisar meminta anda untuk menghadap" Ucap seorang pelayan yang tiba-tiba muncul di ambang pintu.


Anak perempuan itu menoleh ke arah pintu, dia mendengus keras menatap Shuwan dengan tatapan nyalang.


Dia melepaskan cengkraman nya pada Shuwan dan langsung berlari keluar dari kediaman Shuwan yang cukup kecil itu.


ckckck


Shuwan hanya bisa berdecak malas, bagaimana pun juga saat ini Shuwan belum kuat untuk melawan nya.


'Aku harus mulai belatih dari awal lagi ckckck'


"Wan'er apakah kamu baik-baik saja? " Tanya Xiaomi dengan raut wajah cemas nya.


"Kau kembali lah dulu"


Setelah mengusir Xiaomi, Shuwan mulai duduk dan memijat pangkal hidung nya. Saat ini kepala nya masih berdenyut, dan ia pun memutuskan untuk membaca.


Dari Siang hingga malam Shuwan hanya membaca karena bagi Shuwan membaca itu menyenangkan.


Saat malam mulai tiba Xiaomi datang membawa makanan, mereka pun makan dalam diam.


Setelah selesai makan, Shuwan kembali membaca buku tanpa sadar ia tertidur di peraduan sambil memegang buku.


Menit-menit bergantian, Siang dan malam silih berganti. Waktu pun berlalu dengan cepat. Hingga hari yang ditunggu-tunggu pun tiba setelah beberapa bulan Shuwan berpindah dimensi.


Semua orang berlarian kesana dan kemari mempersiapkan hal besar jangan sampai ada kesalahan karena nyawa mereka dan keluarga yang menjadi taruhannya.


...TBC...