
"Aku hanya mengantar kalian sampai sini karena harus segera kembali, ada baik nya kalian menghilang kan aura kalian, sampai jumpa! " Tepat setelah kata itu terucap Mu Lin menghilang tepat dengan bayangan hitam nya yang menunjukkan bahwa dia melakukan teleportasi, sangat menakjubkan menurut Xuan dan Bailin karena hanya tingkatkan tertentu saja yang bisa melakukan nya. Xuan sendiri merasa tertarik dengan gadis itu, karena tak ada yang sedingin itu pada nya.
......................
Dalam satu kedipan Mu Lin sudah sampai di kamar nya. Ia segera membersihkan diri dan istirahat.
Kini yang ia lihat adalah kegelapan dan kekosongan. Ia merasakan pijakan kaki nya yang lembab, ia berjongkok dan menyentuh alas yang ia pijak. Basah! itulah yang ia rasakan, mengambil tangan nya dan mengarahkan ke hidung. Bau ini familiar, tentu ia tahu bau anyir ini, Darah!
Tess
Tess
Tess
Tapp
Tapp
Tapp
Suara tetesan air dan langkah kaki yang mendekat menghiasi keheningan yang melanda. Mu Lin berlari ke depan dan merasakan kepala nya pusing. Ia terus berlari kala suara langkah kaki itu kian mendekat. Lari dan lari hingga ia lelah lalu berhenti, ia menoleh ke belakang dan alangkah terkejut nya ia melihat sosok di belakang nya.
Bukankah sosok gadis berlumur darah itu dirinya?! Gadis bermata merah dan rambut putih yang menjuntai hingga lutut itu adalah Mu Lin. Mata gadis itu mengeluarkan air mata, tampak tatapan kosong yang dalam dari pandangan gadis itu. Kini tubuh Mu Lin kaku dan tak dapat bergerak, ia benar-benar bingung dengan keadaan saat ini.
Lalu tiba-tiba ia berada di tengah reruntuhan bangunan, ia menunduk dan mendapati rambut nya yang kini berwarna putih itu. Ia melangkah kan kaki nya ke sembarang arah, Terkejut? Ia kembali di kejutkan dengan ada nya mayat berserakan dan darah berceceran. Terlihat seorang pria bermata merah berdiri diantara mayat-mayat itu, Terlihat pria itu berurai air mata.
Ia mengedipkan mata dan seketika ia kembali berpindah tempat, terlihat sosok familiar yang berlumuran darah dan kepala nya yang berada di pangkuan seorang gadis berambut putih dan mata merah nya. Gadis itu menangis tersedu-sedu, Tapi.... Tunggu! Gadis itu..... Mu Lin?!
'Apa itu aku? Dan lelaki itu.... Kak Lee?! 'Batin Mu Lin terbelalak.
Lelaki muda bermata merah yang berdiri tadi juga ada di sana. Lelaki itu menatap Mu Lin Dan Lee dengan tatapan sulit, dan Mu Lin(Yang sedang memangku kepala Lee dengan berurai air mata) mendongakkan kepala nya dan menatap lelaki itu tajam dan dingin. Tenggorokan Mu Lin (Mu Lin yang sedang menonton)tercekat melihat itu, ia tak bisa menahan untuk tak bersuara.
"Kenapa Kau membunuh nya? " Ucap Mu Lin (Yang sedang berdiri menonton) dengan suara yang agak meninggi, tampak lelaki bermata merah itu menatap nya dan senyuman dingin ia lontarkan.
"Aku? Aku tidak membunuh nya! Bukan kah kau yang membunuh nya? Lihat lah tangan mu gadis" Tanya lelaki itu dengan seringaian. Mu Lin terkejut dan menunduk, dan melihat tangan kiri nya yang memegang pedang berlumuran darah juga tangan kanan nya yang memegang sabit neraka pemberian ibu nya.
"Ap-Apa? Aku tidak! " Kaki Mu Lin bergetar, lutut nya melemas tak terasa air mata nya jatuh menuruni wajah cantik nya.
"JANGAN MATI KUMOHON!!! " Teriak Mu Lin (Yang sedang memangku kepala Lee) Histeris dan Frustasi.
Lalu Tiba-tiba semua menjadi gelap dan saat ia membuka mata, hal yang ia lihat adalah langit-langit kamar nya. Segera ia duduk dan merasakan keringat membasahi tubuh nya.
'Syukur lah hanya mimpi' Batin Mu Lin bernafas lega, ternyata hari sudah pagi.Mu Lin langsung bangun dari peraduan nya dan membersihkan diri, tak lama kemudian seorang pelayan datang dan menyampaikan pesan dari Hua Zeying agar ia segera ke ruang kerja nya.
Mu Lin melangkahkan kaki nya dan berjalan gontai menuju ruang kerja ayah nya. Tatapan Mu Lin yang biasanya tegas kini tampak kosong. Udara dingin yang biasa ia hasil kan dari ekspresi nya kini hilang di gantikan dengan Kehampaan. Ia masih memikirkan mimpi tadi, ia bingung mencari makna dari mimpi tersebut. Apakah itu suatu pertanda? Atau hanya sekedar bunga tidurnya? Tak terasa kini ia berada di depan pintu ruang kerja ayah nya, ia segera masuk dan memberi salam lalu duduk. Terlihat dua kakak nya juga duduk bersama nya berhadapan dengan sang ayah.
"Ada apa ayah memanggil kami? "Tanya Junsi datar tanpa emosi namun penuh tanda tanya.
" Benar! Tumben sekali, biasanya kita bicara sehabis makan"Tukas Jinsu dengan tatapan bertanya, Mu Lin hanya diam dengan sebelah alis terangkat menatap Zeying.
"Apakah Lin Lin ikut? " Tanya Junsi pada Mu Lin yang sedari tadi hanya diam.
"Menarik" Ucap Mu Lin singkat.
"Emm... Aku ingin berlatih dulu"Mu Lin pun keluar saat Zeying sudah mengijinkan nya pergi. Di Sana kini hanya tersisa Zeying, Junsi dan Jinsu yang sedang mengobrol.
" Apakah ayah yakin akan membiarkan nya? "Tanya Junsi pada ayah nya, jujur ia sedikit tak yakin akan hal ini, ia tak ingin kehilangan adik perempuan nya meski tak ada hubungan darah dengan nya.
" Sudah saat nya dia tahu jati diri nya. Kita tak mungkin terus menyembunyikan nya, dia harus tahu siapa dia sebenar nya"Ucap Zeying dengan nada sendu, tampak gurat kesedihan di mata mereka ber tiga.
"Tapi apakah Mu Lin akan mengingat mereka?Bukankah dia kehilangan ingatan nya? " Tanya Jinsu kebingungan.
"Hah! Naluri seorang anak pasti akan mengenali ayah nya, Mungkin Mu Lin tak akan ingat dengan wajah saudara nya, tapi wajah Kaisar Qin tak akan berubah banyak" Zeying menghela nafas lelah di ikuti ke dua anak nya. Junsi dan Jinsu pun keluar untuk melanjutkan latihan bersama Rui dan Ar Ran.
***
Di sisi lain Luan yang sudah mendengar tentang pertandingan itu pun tengah bersiap untuk pulang ke istana Kekaisaran. Ia tak sabar untuk menunjukkan bakat nya kepada keluarga yang tak menganggap nya itu.
'Aku sudah jauh lebih kuat, aku akan menunjukkan siapa yang paling berbakat sebenar nya' Batin Luan bertekad, selama ini yang terus menanyakan kabar nya hanya lah kakak nya Xuan. Bahkan adik yang ia lindungi pun tak mengirim kan nya satu surat pun.
Ia bahkan tak habis fikir dengan ayah nya yang juga tak pernah mengirimi nya surat. Ia bertanya-tanya tentang kesibukan seorang kaisar. Apakah sebegitu sibuk nya hingga melupakan anak nya sendiri? Atau jangan jangan ia bukan anak nya? Kira-kira begitu lah pertanyaan yang selalu menghiasi kepala nya.
***
Sedangkan Xuan yang sudah kembali ke istana nya masih terbayang akan sosok Mu Lin, ia merasa nyaman berada di dekat nya. Ia tak tahu perasaan apa itu, tapi aura Mu Lin sangat familiar bagi Xuan. Ia yakin bahwa Mu Lin akan ikut serta dalam pertandingan 3(tiga) hari lagi itu.
Karena Mu Lin memiliki marga Hua, Xuan tahu dengan jelas bahwa keluarga itu adalah keluarga bangsawan yang sangat terkenal. Pasti Mu Lin akan hadir atau menjadi peserta. Di sisi lain ia seperti merasa sudah kenal dengan nya sangat lama. Ia pun tak tahu arti nya.
"Siapa kau sebenarnya Mu Lin? " Gumam Xuan yang merasa aneh dengan Mu Lin.
...----------------...
Hai Readers
Jangan lupa selalu dukung author dengan Like...
Vote...
Rate...
Komen...
Favorit...
Jangan lewat kan setiap update an author satu chapter per hari.