
"Kau! Ah sudah lupakan saja! Anggap aku tidak pernah bicara apa pun! " Ucap Li Yue seraya mengerucut kan bibir nya karena lagi-lagi kalah berdebat dengan patung Es.
......................
Tess
Tess
Tess
"Aku mencintai mu! "Ucap Chen menatap lekat manik mata Shuwan.
" Aku.... "Belum sempat Shuwan melanjutkan perkataan nya, Chen segera memotong dengan berkata....
"Aku berjanji akan selalu berada di sisi mu hingga akhir hayat! "Ucap nya seraya mengikis jarak yang membentang.
Kini wajah mereka hampir tidak memiliki jarak dengan hidung yang saling bersentuhan. Tangan Chen merangkul pinggang Shuwan dengan lembut.
Sementara Shuwan meletakkan tangan nya pada dada Chen. Manatap lurus manik mata hijau milik Chen yang jernih.
"Kamu adalah hal yang paling berharga bagi ku. Jika itu demi kamu, aku rela untuk hancur! "Ucap Chen lagi seraya tersenyum manis, bahkan mengalahkan manis nya madu. Kemudian dia kembali melanjutkan....
"Jika semua itu demi diri mu, maka kehancuran langit dan bumi ini adalah harga yang murah! "Chen semakin mendekatkan wajah nya ke wajah Shuwan, hingga.....
Cupp
Kedua bibir saling bersentuhan, kemudian lidah bermain dan mulai bertautan. Namun tiba-tiba.....
Slaasshh
Sebuah pedang bergerak maju hendak menusuk, dan....
Sreettt
Jlebb
Shuwan terdiam kaku melihat Chen yang segera bertindak melindungi nya dengan merentangkan tangan.
Pedang berwarna Hitam legam itu menembus dada kiri Chen sehingga darah bercucuran kemana-mana.
"Pangeran! " Ucap Shuwan lirih dengan mata berkaca-kaca.
Sreettt
Brukkhh
"Uhuk!" Chen jatuh berlutut dan hampir tersungkur, beruntung Shuwan dengan segera menahan tubuh Chen dan meletakkan kepala Chen di pangkuan nya dengan lembut.
"Pangeran....! " Ucap Shuwan lalu lagi-lagi Chen terbatuk darah membuat Shuwan memejamkan mata nya dengan erat.
"Wan Wan...! Kau ketahuan lagi! " Ucap Chen pelan nyaris berbisik dengan mata yang setengah terpejam dan nafas tersendat-sendat, beruntung pendengaran Shuwan sangat tajam.
"Kau ketahuan mengkhawatirkan ku! Aku tahu, kau mencintai ku! " Ucap Chen lagi membuat Shuwan menitihkan air mata nya.
"Ya! Hiks ya ya kau benar! Aku- Aku Men-Cin-Tai Mu! "Tutur Shuwan tergagap karena merasa pilu.
'Ku mohon Tuhan...! Jangan lakukan ini pada ku! 'Batin Shuwan tak kuasa menahan air mata nya lagi.
"Wan Wan, ji-ka bo-leh aku ber-harap, setelah ini ku-mohon lu-pa kan lah a-ku uhuk! "Kata Chen dengan lirih namun memaksakan senyum nya.
".... " Shuwan menunduk kan kepala nya tidak menjawab ucapan Chen barusan.
"Bi-sa kah aku bertanya sesuatu? "Ucap Chen semakin pelan, nyaris tidak bersuara.
".... " Lagi-lagi Shuwan hanya menganggukkan kepala nya tanpa bersuara, menyembunyikan wajah nya yang sudah berderai air mata.
"A-pa kah ka....mu benar-benar men...cin....tai ku? "Tanya Chen membuat Shuwan menatap nya kemudian menangguk cepat.
" Aku.... Aku.... Aku sangat.... Men... Cin... Tai... mu... "Ucap Shuwan dengan air mata yang tetap mengalir di kedua pipi nya.
" .... Kapan? "Tanya Chen lagi dengan suara yang semakin melirih, hingga Shuwan hanya bisa mendengar perkataan terakhir saja.
" Seribu Tahun....! Tidak!! Sepuluh Ribu Tahun.... Hiks Sepuluh ribu hiks tahun...!"Tangis Shuwan benar-benar pecah tanpa bisa di tahan lagi.
Perlahan tangan lembut itu terangkat dan mengusap pelan air mata Shuwan. Dengan segera Shuwan menyentuh dan menggenggam erat tangan Chen yang berada di wajah nya.
"Sep-puluh Ri-bu tahun? I-tu terlalu la....ma! A-ku ingin ka-mu Men-Cin-Tai ku hari i-ni, de-tik ini ju-ga! "
"Bagus lah....! A-ku uhuk bisa te-nang! "
"Jangan.... Tinggal kan aku, ku mohon... " Lirih Shuwan masih dengan tangan nya yang menggenggam erat tangan Chen.
"Ma-af kan aku... Aku Men... cin... tai... mu Wan Wan ku.... "Kini mata Chen benar-benar tertutup rapat, helaan nafas tak lagi terdengar.
" Tidak!! "Ujar Shuwan menggelengkan kepala nya keras lalu menurunkan tangan nya dan mengguncang tubuh Chen.
" TIDAK!!!! JANGAN TINGGAL KAN AKU!!!! "
Keringat mengalir di pelipis nya, tubuh nya terasa sangat dingin dan kaku. Kemudian dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, dia berada dalam sebuah ruangan dengan cahaya remang-remang.
'Hanya mimpi? 'Batin nya merasa aneh, mimpi itu bagi nya terasa seperti sebuah Film yang baru saja dia tonton.
Krekkk
Saat Shuwan hendak menggerakkan tangan nya, baru lah dia menyadari kalau saat ini tangan nya di rantai.
"Apa ini? " Gimana Shuwan kemudian mencoba menghentakkan tangan nya agar rantai itu putus, namun sia-sia!
Saat ini mungkin diri nya sedang di lilit rantai pada sebuah tiang dalam keadaan berdiri. Tiang tersebut membentuk tanda Tambah (+) Sehingga kedua tangan Shuwan seperti di rentang kan.
"Apa yang sebenar nya terjadi? Kenapa? Bagaimana bisa? " Gumam Shuwan seraya memejamkan mata nya dan memusatkan energi.
Degg
'Kenapa aliran Energi ku terhenti? 'Batin Shuwan dengan mata membola.
Seperti nya ada yang sengaja menutup titik akupuntur milik Shuwan sehingga Shuwan tidak bisa menggunakan Qi nya sampai titik itu di buka.
Shuwan menarik nafas kemudian membuang nya perlahan, mencoba untuk tenang. Bahkan saat ini dia tidak bisa menghubungi Shan Lan mau pun Jiancheng.
Krieeetttt
Pandangan Shuwan teraliteralih pada pintu yang di geser perlahan. Membuat cahaya dari luar ruangan masuk dan menyorot Shuwan seperti lampu.
"Bagaimana kabar mu Gadis? " Seseorang masuk dengan seringai lebar yang menunjukkan bahwa hal tidak baik akan terjadi.
Kepala Shuwan yang pada awal nya sedikit menunduk pun perlahan terangkat dan menatap tajam sosok di hadapan nya.
"Kau!!! " Ucap Shuwan mendengus dingin.
***
"Bagaimana bisa kau kalah oleh lalat itu!? " Ujar Wei Tianzi menatap nyalang Xiao Guang yang sedang berlutut.
"Saya Salah Tuan! Hukum lah Saya yang terlalu meremehkan musuh! " Ucap Xiao Guang seraya membenturkan kepala nya ke lantai hingga terluka.
"Lupa kan!! Jangan terburu-buru.... Kita masih memiliki waktu. Yang terpenting saat ini adalah kau harus segera menemukan Gadis itu! " Wei Tianzi menarik nafas dan membuang nya perlahan.
"Pasti kan kau bekerja dengan rapih! " Lanjut Wei Tianzi seraya mengibaskan tangan nya menyuruh Xiao Guang pergi.
"Laksanakan Tuan! " Ucap Xiao Guang kemudian menghilang untuk segera melaksanakan tugas dengan lebih santai dan teliti.
Pergi meninggalkan Wei Tianzi yang masih duduk dengan tangan bertumpu di meja serta raut wajah dingin yang kaku.
"Sedikit lagi! Satu langkah lagi, dan semua nya akan selesai! " Ucap Wei Tianzi seraya memejamkan mata nya dan menghela nafas panjang kemudian menarik sebelah sudut bibir nya.
...----------------...
Hai....!
Apa kabar?
Harus baik dong ya!!!
Jangan lupa LIKE!!
WA: +6282123981798
IG: @lrnrrhmnia1412
Email: rahmanialiranur@gmail.com
Selalu dukung author!!!