
" Kau yakin? "Tanya Shen mencondongkan tubuh nya ke Qiu dengan mata menyipit. Dan Qiu semakin gugup karena jarak wajah mereka kurang dari satu jengkal.
......................
Malam telah tiba, udara dingin menusuk hingga ke tulang. Hujan yang deras telah menyisakan rintik-rintik gerimis.
Shuwan menggantung kan Giok berwarna biru tua di pinggang nya. Saat ini dia memakai Hanfu berwarna hitam dengan pola sederhana.
Kemudian Shuwan tampak membungkuk kan tubuh nya dan memasang sebuah gelang yang terbuat dari Giok berwarna kuning di kaki nya.
Shuwan tersenyum tipis masih dengan tangan yang mengusap pelan gelang kaki yang sudah dia pakai saat ini. Kemudian ia menegakkan tubuh nya kembali.
'Kak Lee tidak meninggal kan ku, dia akan tetap abadi di sini! Jika kami memang tidak di takdir kan untuk bersama, maka mari ikuti permainan takdir ini! 'Gumam Shuwan dalam hati dengan senyum lebar yang menakutkan.
Pancaran mata nya memancarkan binar semangat dengan tekad yang sangat kuat. Setelah mendapat pencerahan dari guru nya, Shuwan akan berusaha mencoba menerima segala yang terjadi.
"Kekasih mu itu tidak akan senang melihat mu seperti ini! Coba lah untuk berjalan mengikuti arus takdir, kau harus menjadi kuat agar kejadian itu tidak kembali terulang! Apa guna nya kau berhasil membangkitkan kekasih mu jika kejadian itu akan terus terulang karena kau lemah!?"
Kata-kata itu seolah memberikan kekuatan untuk Shuwan agar semangat dan menerima semua nya. Lalu kata-kata Jiancheng yang lain nya pun kembali di ingat nya....
"Jika Tuhan tidak mengijinkan mu bersama kekasih mu itu.... Maka kau harus menerima nya dan mencari pengobat hati! "
Mengingat hal ini Shuwan menarik nafas dan membuang nya perlahan.
Kemudian mata Shuwan teralih pada suatu benda di atas meja, benda yang terbuat dari bambu dengan kain di sekitar nya.
Shuwan mengambil Topi Bambu itu kemudian mengenakan nya masih dengan senyum menghiasi wajah nya yang sangat cantik.
Kemudian tangan kiri Shuwan meraih satu benda lain nya di atas meja. Benda yang panjang dan tajam, dengan Bambu hitam yang membungkus nya.
Kemudian Shuwan melangkah kan kaki nya ke pintu kediaman. Mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dengan senyum teduh nga.
"Saat nya mencoba sesuatu yang baru!! " Ucap Shuwan penuh semangat.
Sudah lama sekali rasa nya Shuwan memiliki semangat yang tinggi seperti ini. Ketika di kehidupan pertama nya, Shuwan hanya semangat pada masa sekolah saat sosok itu selalu menjemput nya setia hari.
Namun sejak kelulusan, dan sosok itu pergi menempuh pendidikan lanjutan. Shuwan kembali menjadi sosok yang begitu dingin seolah hidup tak lagi berarti.
...Bahkan ketika Fu Lee masih hidup pun, Shuwan tidak memiliki rasa semangat yang sama. Entah apa kah Shuwan yang salah mengartikan rasa nyaman, atau yang lain nya?...
Krieeett
Kemudian dia membuka pintu dan melesat keluar, berfikir untuk berpamitan dengan beberapa orang secara diam-diam.
"Di mulai dari, diri nya...... "
***
Takk
Kaki jenjang nya mendarat dengan ringan di sebuah atap, gerimis yang membuat licin tak menjadi penghalang yang mampu menghalangi nya.
Sreettt
Dengan cepat ia melompat ke bawah, berdiri tepat di hadapan jendela belakang kediaman. Tempat yang pernah ia masukin beberapa waktu terakhir.
Tokk
Tokk
Tokk
Menghindari ketidak sopanan, dia mengetuk jendela itu pelan. Tidak seperti waktu itu, yang langsung memasuki ruangan tanpa izin.
Kraakk
Pintu jendela terbuka menampilkan seorang pemuda berambut hitam dengan manik mata hijau yang menatap dingin ke depan.
Nampak santai meski saat ini wajah Shuwan tidak terlihat dengan jelas karena mengenakan tudung.
"Siapa kau....? " Tanya Chen dengan nada datar yang jarang Shuwan dengar.
Sreettt
".... " Shuwan membuka tudung nya tanpa mengucapkan kata-kata, menampilkan raut wajah datar seperti biasa.
"Wan Wan? Ada apa? " Tanya Chen dengan bingung, tidak ada lagi raut wajah datar seperti tadi.
"Tidak ada! Hanya ingin mengucapkan.... Selamat Tinggal! " Ucap Shuwan santai seraya mengangkat bahu nya dengan acuh.
"Kau.... Sudah ingin pergi? " Jujur saja, Chen entah mengapa merasa berat.
"Hmm" Dan Shuwan menjawab nya hanya dengan deheman.
Hening...!
Keadaan saat ini hening, tidak ada yang membuka suara hanya bertatapan dalam diam. Menyampaikan sebuah rasa tanpa kata.
"Selanjut nya.... Kemana kau akan pergi? " Tanya Chen pada akhir nya, tanpa sadar nada yang keluar terdengar sendu membuat Shuwan mengerut kan dahi nya samar.
"Tidak tahu... " Jawab Shuwan cepat, seraya mengalihkan pandangan nya Shuwan melanjutkan....
"Aku.... " Shuwan menunduk kan pandangan nya.
"Mungkin akan kembali melanjutkan tujuan awal ku." Shuwan kembali terdiam sejenak, melirik Chen yang ikut menunduk kan kepala nya.
"Jika tidak.... Aku akan pulang ke Dunia Tengah.... Dan kembali fokus dengan pelatihan ku. " Lanjut nya dengan mengangkat kepala dan menatap lurus dan jauh ke depan. Lalu Shuwan kembali melanjut kan....
Sedang kan Chen fokus menatap manik mata Shuwan, tatapan nya sangat rumit untuk di jelaskan.
"Atau mungkin.... Mencari keberadaan sesuatu untuk balas dendam" Ucap Shuwan pelan tanpa sadar mengungkap kan keluhan nya.
"Lalu setelah itu mungkin... Seluruh dunia akan aman" Lanjut Shuwan seraya mengalihkan pandangan nya menatap dalam manik mata Chen dengan tatapan aneh.
Chen tersenyum tipis yang meneduhkan, kemudian bergerak semakin dekat ke jendela yang menjadi jarak antara diri nya dengan Shuwan.
Chen menarik tangan Shuwan dengan lembut kemudian menggenggam nya dengan erat. Senyum tipis tidak luntur.
"Kalau begitu.... Bisa kah kau mengijinkan ku ini ikut bersama mu? Aku tahu kita memang baru saja saling mengenal, tapi entah mengapa hati ini rasa nya tenang ketika bersama mu" Sebuah ucapan yang tidak Shuwan duga terlontar dari mulut Chen.
Tanpa sadar mata Shuwan sedikit berkaca-kaca. Hal itu karena kata-kata yang Chen ucap kan mengingatkan Shuwan akan sesuatu.
...[~Flashback~]...
"Bisa kah kau berhenti mengikuti ku!? " Ucap Shuwan dengan nada yang sedikit meninggi karena kesabaran nya telah habis.
"Tidak bisa! " Jawab Zhenli cepat, wajah Shuwan memerah menahan amarah.
"Kau!! " Jari telunjuk Shuwan terangkat menunjuk tepat ke wajah Zhenli yang tersenyum tipis dengan meneduhkan
"Aku tahu kita baru saja saling mengenal, tapi hati ini rasa nya tenang jika bersama mu! " Ucapan tidak terduga terlontar begitu saja dari mulut Zhenli, seraya menatap manik mata Shuwan dengan dalam.
"Terserah kau saja! " Jawab Shuwan cepat kemudian membalik kan tubuh nya dan pergi meninggalkan Zhenli yang tersenyum manis.
...[~Flashback Off~]...
'Kejadian ini.... Entah mengapa sangat sama? Apa kah aku harus mengijinkan agar bisa kembali mengingat ingatan yang hampir hilang itu? 'Batin Shuwan seraya memejamkan mata nya dan menarik nafas kemudian menghembuskan nya dengan perlahan.
"Terserah! " Jawab Shuwan singkat kemudian berbalik dan diam mematung.
Chen pun ikut mematung, tetapi segera mencengkram erat pedang nya. Tangan kanan nya sudah siap untuk menarik pedang di pinggang.
"Siapa kau...? " Tanya Shuwan dengan nada datar kepada sosok di hadapan nya yang tiba-tiba muncul ketika Shuwan berbalik.
Bahkan Chen tak menyadari keberadaan sosok itu, seperti nya kekuatan sosok itu tidak bisa di pandang rendah.
'Mata itu...! 'Batin Shuwan sedikit mengernyit kan dahi nya samar.
...----------------...
Ada yang punya ide buat bikin adegan keromantisan Shuwan dan Chen?
Apa ada yang bisa kasih saran supaya mereka jadi dekat??
Ayo dong komen!!!
Hai....!
Apa kabar?
Harus baik dong ya!!!
Jangan lupa LIKE!!
WA: +6282123981798
IG: @lrnrrhmnia1412
Email: rahmanialiranur@gmail.com
Selalu dukung author!!!