
...Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Bagi yang melaksanakan!!...
"Hamba Pamit Yang Mulia! " Setelah nya Xiu Min pun bangkit dari duduk nya kemudian menghilang begitu saja dengan teleportasi.
Meninggalkan Wei Tianzi yang duduk sendirian di singgasana nya dengan memijit pelipis nya sendiri. Terlihat sedang memiliki masalah yang besar untuk di tanggung.
................................
Air sungai mengalir dengan deras nya, menghantam Bebatuan berukuran sedang yang berada di sekitar sungai.
Shuwan mencuci dua kelinci sekaligus karena tadi sempat membunuh satu lagi saat hendak pergi ke sungai.
Senyum di bibir nya tidak luntur meski yang terjadi hari ini hanya lah hal kecil. Aneh memang!
Namun ketika teringat kekasih nya dulu. Senyum nya luntur di gantikan wajah sendu. Dia berhenti mencuci kelinci itu sejenak. Kemudian bergumam lirih....
"Kak Lee... Seperti nya kau sudah tidak lagi merindukan ku hingga tak pernah mengunjungi ku meski dalam mimpi. Sebegitu ingin kah aku melupakan mu? Huft! " Lirih Shuwan seraya menghela nafas lemah.
"Kalau begitu... jangan salah kan aku jika aku menerima kehadiran nya karena dia selalu ada saat aku membutuhkan nya. Dan dia selalu dapat membuat ku nyaman meski aku tidak menunjukkan nya" Lanjut Shuwan kemudian kembali melanjutkan kegiatan nya yang sempat tertunda.
Swooossshh
"Bagus lah jika kau mau menerima kenyataan dan mencoba membuka lembaran baru" Ucap Jiancheng yang tiba-tiba muncul di sisi Shuwan.
"Huft! Aku tidak ingin melanggar hukum alam. Namun untuk kali ini biar kan aku menjadi Egois untuk mempertahankan apa yang aku miliki saat ini" Ucap Shuwan tanpa menatap guru nya, masih fokus mengeluarkan dalaman kelinci itu.
"Kau harus menjadi kuat jika ingin mempertahankan semua yang kau miliki termasuk pemuda Giok itu"
Mendengar hal ini Shuwan mengangkat sebelah alis nya. Namun dia mengerti kenapa guru nya memanggil Chen dengan sebutan pemuda Giok.
Karena warna mata Chen yaitu Hijau sedikit pudar, seperti Giok!
"Guru mu ini dapat melihat ketulusan yang terpancar dari mata nya. Orang seperti ini sudah jarang berada di Dunia. Jika kau ingin menjadi egois untuk mempertahankan nya, maka guru mu ini akan mendukung mu" Lanjut Jiancheng yang hanya di angguki oleh Shuwan.
***
Shuwan dan Chen sedang membakar kelinci bersama di pinggir sungai. Kedua nya menikmati waktu bersama, sesekali melempar candaan ringan.
Meski hanya Chen yang melempar candaan, namun Shuwan menanggapi nya dengan senang hati.
"Emmm ini enak sekali Wan Wan" Ucap Chen seraya memakan daging kelinci panggang nya.
"Ya" Jawab Shuwan sedikit kaku, jujur saja dia tidak terbiasa berbasa-basi.
"Kamu ini sangat aneh. Di saat perempuan lain menyukai kelinci karena keimutan nya, kamu justru menyukai kelinci karena rasa nya" Ucap Chen seraya menggelengkan kepala nya pelan.
"Aku tidak akan kenyang jika hanya memandangi keimutan kelinci. Tapi dengan di bakar, perut ku juga bisa menikmati nya" Jawab Shuwan membuat Chen tersenyum.
"Aku memiliki sebuah cerita! " Tiba-tiba Chen berseru membuat Shuwan yang sedang terdiam segera menatap nya.
"Cerita apa? " Tanya Shuwan menanggapi, akan kasihan jika Shuwan acuh.
"Tentang Wanita Madu" Ucap Chen membuat sebelah alis Shuwan terangkat.
"Dengar ya" Lanjut Chen yang di balas anggukan oleh Shuwan.
"Ada seorang wanita yang di kejar segerombolan lebah... Wanita itu memasuki sumur dengan tali untuk menghindari lebah karena lebah tidak bisa memasuki air" Ucap Chen menjeda ucapan nya, menatap Shuwan dengan penuh kelembutan.
"Namun ketika sampai di pertengahan, dia mendapati seekor ular di dasar sumur yang siap menyemburkan racun nya..... Sontak saja Wanita itu kembali memanjat ke atas, namun lebah yang mengejar nya tadi mulai memasuki sumur"
"Wanita itu bingung, dan mendapati bahwa tali yang di gunakan untuk menuruni sumur mulai putus sedikit demi sedikit.... Putus asa di rasa kan oleh wanita itu ketika tali nya putus dan wanita itu mulai jatuh" Lanjut Chen serius bercerita, ekspresi nya terlihat sedih entah karena apa.
"Namun saat sedang jatuh, wanita itu melihat sarang lebah yang terdapat madu di sana. Wanita itu mengulurkan tangan nya dan mengambil madu itu kemudian memakan nya.... Tetapi... pada akhir nya wanita itu tetap jatuh ke dasar sumur" Jelas Chen dengan ekspresi marah, begitu menjiwai ketika bercerita.
"Seperti itu lah manusia...! Tidak peduli kesulitan apa yang dia hadapi, dia akan tetap berusaha merasakan manis nya madu meski akhir nya akan sama saja. Hancur! " Lanjut Chen tanpa ekspresi, lalu menoleh ke arah Shuwan.
Seketika itu pula ekspresi nya kembali melembut membuat Shuwan berdecak kagum. Apa pemuda di hadapan nya memiliki kepribadian ganda?
"Kau benar! Manusia selalu lari dari masalah dan tanpa sadar justru menciptakan masalah baru. Pada akhir nya kehancuran akan tetap terjadi" Ucap Shuwan menghela nafas, mau bagaimana pun dia juga manusia bukan?
"Tapi... menikmati dan mensyukuri apa yang kita miliki saat ini juga tidak buruk" Ujar Chen seraya bangkit dari duduk nya dan menepuk-nepuk kepala Shuwan.
"Huh! Aku ingin ke sungai sebentar" Shuwan mendengus dan ikut berdiri, sedang kan Chen hanya membalas ucapan Shuwan dengan senyuman.
Sreettt
Degg
Shuwan berbalik, dan jantung nya hampir melompat keluar. Menyadari Shuwan yang mematung, Chen pun ikut berbalik.
Dahi Chen mengernyit menatap seorang pemuda yang berdiri tegak dengan hanfu putih bersinar. Mata pemuda itu coklat terang sedikit memiliki warna keemasan.
Pemuda itu mungkin berusia sekitar 23 Tahun atau lebih. Memakai Zhaoshan panjang berwarna serupa, dan rambut yang tergerai indah.
"Siapa kau? " Tanya Chen bingung karena tatapan pemuda itu terus menuju ke arah Shuwan.
Dan dapat Chen lihat Shuwan yang masih mematung dengan kaku seperti membeku. Wajah Shuwan begitu pucat dengan keringat mengalir di pelipis nya.
'Kenapa? Kenapa saat aku memutuskan untuk melupakan, kau kembali hadir meski aku tidak tahu ini nyata atau halusinasi!! 'Teriak Shuwan dalam hati karena semua kata-kata tertahan di tenggorokan.
"Kamu tidak merindukan ku, Lin Lin? "
Degg
Degg
Degup jantung Shuwan semakin berantakan, bukan bahagia yang dia rasa kan tetapi rasa aneh sekaligus bingung.
"Kak Lee.... " Lirih Shuwan membuat pemuda di hadapan nya tersenyum. Senyum yang selalu Shuwan rindu kan, tetapi kali ini senyum itu terlihat tidak selembut dulu.
...----------------...
Hai....!
Apa kabar?
Harus baik dong ya!!!
Jangan lupa LIKE!!
WA: +6282123981798(Dua grup yang mengirim Film setiap minggu nya)
IG: @lrnrrhmnia1412
Email: rahmanialiranur@gmail.com
Selalu dukung author!!!