Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 98 Life Is A Movie



Di mobil.


"Aku lupa minta tanda tangannya." Hana berseru. Ia tadi blank dan lupa meminta tanda tangan Marlon.


"Nanti kamu bisa minta lewat Martha," saran Richard.


"Atau langsung ketemu lagi," ucap Lucas


"Nggak mungkin."


"Itu mungkin." Lucas menunjukkan skenario film.


"Ini apa?"


"Tadi manajer Marlon kasih aku skenario film."


"Buat kamu? Kamu bakal debut jadi aktor?"


"Bukan. Buat Rin. Mereka lagi cari pemeran anak kecil. Pemeran anak kecil sebelumnya mengundurkan diri."


"Ceritanya seperti apa?"


"Bentar. Aku baca dulu." Lucas membaca cepat skenario.


"Sepertinya Rin bakal jadi cucu Marlon. Tapi hidup mereka menderita. Marlon jadi gelandangan. Mereka tinggal di bawah jembatan. Terus mereka terpisah karena Rin diambil dinas sosial. Marlon kemudian meninggal."


Hana menitikkan air matanya.


"Ini cuma fiksi. Cerita buatan manusia." Lucas mengingatkan.


"Tapi tetap saja ... Hiks ... Hiks ..." Hana malah menangis.


"Mama cengeng, ya Ren. Sudah besar masih suka nangis." Lucas melihat Ren yang tertidur lagi. Memimpikan memakan kue sepuluh tingkat.


"Itu artinya aku peka."


"Manajernya minta jawaban hari ini. Setuju?"


Hana menganggukkan kepalanya dua kali.


"Tapi aku cuma bisa ngantar besok aja. Sambil melihat keadaan. Tapi jangan berharap terlalu tinggi. Ada saingan lainnya. Rin juga diwajibkan ikut audisi."


Lucas melihat Rin. "Rin mau ikut audisi? Kalau lolos nanti syuting sama grandpa Marlon."


Rin setuju.


Hana ikut karena pengen tahu bagaimana para aktor melakukan audisi.


Di tempat audisi Rin mendapat skenario baru. Berbeda dari yang ia pelajari.


"Rin, skenarionya berubah. Papa bacain. Rin hafalin." Lucas mulai membaca. Rin mengikuti. Ada satu kalimat yang cukup panjang. Tapi Lucas yakin Rin bisa. Satu buku cerita aja berhasil Rin hafal dengan sekali baca. Apalagi naskah film.


"Tapi Rin nggak cuma ngomong aja. Rin juga harus bisa berekspresi. Di kalimat ini, Rin harus apa?"


"Sedih."


"Betul. Jadi, ada kalimat yang diucapkan saat marah, saat sedih, saat gembira."


Staff memberitahu jika saat ini giliran Rin. Lucas menemani Rin masuk ruang audisi. Hana menunggu di luar karena hanya satu orang wali yang diperbolehkan masuk.


Rin masuk dengan percaya diri. "My name Yin. I'm three yeays oyd."


"Silakan beradegan scene 50," ucap juri. Mereka sudah skeptis melihat Rin yang terlalu muda. Pasti akan susah mengucapkan dialog.


Scene 50 adalah perpisahan Marie dengan kakeknya. Kakeknya dianggap tidak layak untuk membesarkan Marie karena faktor ekonomi.


Seorang staff berperan sebagai Albert, kakek Marie. "Jangan pisahkan kami. Aku mohon." Albert ingin tetap bisa bersama Marie. Walaupun ia tahu ia hanya membuat Marie sengsara karena kemiskinannya.


Rin datang memeluk staff itu. Staff itu terkejut. Tidak ada peserta yang memeluknya. Adegan di skenario juga tidak ditulis Marie memeluk Albert.


"Gyandpa." Rin mengusap bawah mata staff itu. Seolah-olah ada air mata di sana.


"Mayie akan datang yagi. Mayie boyeh datang ke sini, kan?" Rin menoleh ke juri audisi. Juri audisi menganggukkan kepalanya secara tidak sadar.


Lucas juga terkejut. Rin bisa hafal dialog itu sudah bagus. Ini ditambah ekspresi lainnya.


"Sekarang scene 60." Scene saat Albert meninggal karena merindukan Marie. Marie saat itu minggat dari panti asuhan karena ingin bertemu kakeknya.


"Gyandpa, Mayie di sin." Marie masuk ke dalam rumah kardus dan terpal kakeknya. Rumah yang bocor saat hujan tiba.


"Gyandpa?" Marie melihat kakeknya yang sedang tidur.


"Gyandpa." Marie menyentuh tubuh kakeknya yang sudah dingin.


"Gyanpa. Let's pyay togethey (Kakek, ayo main sama-sama)." Marie berusaha membangunkan kakeknya.


"It's not good syeeping ayy day yong (Tidak bagus tidur terus)." Marie lalu tidur di samping sang kakek sambil memeluk tubuh kaku kakeknya.