
Lucas selesai mengikuti seminar. Ia hendak pulang ke Indonesia. Hana, Rin dan Ren mengantar Lucas sampai bandara.
"Yin ikut." Rin mau ikut pulang.
"Papa nanti ke sini lagi buat temanin Rin syuting. Rin bantu Papa jaga Mama, Ren sama Ricka."
"Iya."
"Papa pulang dulu." Lucas mecium Rin kemudian Hana dan Ren. Ia kemudian melambaikan tangannya. Mereka lalu berpisah.
Di Indonesia Lucas mengajukan cuti. Rencananya ia akan menemani Rin selama proses syuting.
Setelah ijin cuti disetujui, Lucas terbang ke Amerika.
Rin masih berada di preschool nya saat Lucas tiba. Saat ia pulang ia melihat papanya. "Papa ..." Rin berlari menuju pelukan ayahnya.
"Yin kangen Papa." Rin memeluk ayahnya lagi. Rin lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah gambar yang agak acak. Tapi kita bisa melihat ada sosok ayah (Lucas) dan anak perempuan (Rin).
"Ini buat Papa?"
"Iya."
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Lucas melihat gambar anak kecil yang sedang menggandeng tangan ayahnya. Anak kecil itu tersenyum lebar. Lucas menyimpan lukisan itu di dalam kamar.
"Mama nggak dapat gambar juga?" Hana merasa terasing jika sudah ada Lucas.
"Yin belum bikin."
...***...
Skenario yang sudah final akhirnya datang. Lucas mempelajarinya terlebih dahulu. Lalu membacakannya ke Rin.
Kemudian para pemain film bertemu di suatu tempat untuk reading (pembacaan naskah).
Rin melihat Marlon lalu berlari ke arahnya. "Gyandpa."
Marlon menggendong Rin. Sebagai pemeran kakek dan cucu, mereka harus bisa menunjukkan chemistry di layar. Karena itu selama syuting Marlon akan berusaha dekat dengan Rin. Juga karena Rin itu calon cucu menantunya juga.
Rin duduk diantara Lucas dan Marlon. Para pemain memperkenalkan dirinya satu persatu.
Tiba giliran Rin. "My name Yin. I'm thyee yeays oyd."
Mereka lalu mulai membaca dialog.
Saat ini mereka membaca dialong scene satu saat Marlon membuka pintu rumahnya dan mendapati ada seorang bayi mungil di dalam keranjang. Marlon membaca surat yang ditulis oleh ibu anak itu.
Marlon merasa iba dan merawat bayi mungil itu dan memberinya nama Marie. Sama seperti nama putrinya yang entah berada di mana. Marlon menyayangi Marie seperti ia menyayangi cucunya sendiri.
Kemudian scene saat Marie sudah agak besar.
"Gyandpa." Marie berlari menyambut kakeknya yang datang menjemputnya di preschool.
Putri Albert, Marie pulang ke rumah. Albert senang. Begitu juga Marie Kecil. Ia seperti punya kakak. Tapi kepulangan Marie Besar ke rumah bukan hal yang baik.
Kemudian adegan Albert dan Marie kecil diusir dari rumah karena rumah yang ia tinggali suratnya telah digadai Marie Besar yang sudah kabur lagi.
"Aku dan Marie akan tinggal di mana?"
"Itu urusan Anda."
Para pemain beristirahat sejenak lalu melanjutkan pembacaan naskah.
Hari H syuting perdana film Hold My Hand.
Saat ini mereka berada di set oudoor. Adegan Albert dan Marie yang mencari tempat tinggal yang baru.
Albert yang hanya punya sedikit uang hanya berpikir untuk tinggal di bawah jembatan. Setidaknya gratis begitu pikirnya.
Marlon dan Rin mulai latihan kamera. Marie menggandeng tangan Albert sambil memegang boneka Teddy miliknya.
"Kita akan tiduy di sini, Gyandpa?" Marie melihat tidak ada apapun.
"Sebentar. Marie duduk di sini. Grandpa akan bikin rumah buat Marie." Albert mengambil kardus. Membuat rumah kardus yang cukup untuk mereka berbaring. Marie membantu membawakan kardus untuk Albert.
"Yumahnya bagus, Gyanpa." Marie terlihat senang. Ia menempelkan stiker imut di rumah kardus yang baru saja dibangun.
Albert tidak tega melihat Marie harus tertidur di rumah kardus. Tapi apa daya. Ia tak mampu membayar motel atau menyewa rumah.