
Mermaid-boy dengan ekor berwarna pink yang berada di lantai itu hendak menendang bola. Susah payah ia bergerak. Mengesot di lantai mengambil bola.
Hana merasa kasihan. Ia mengangkat Ren. Meletakkannya di depan gawang. Sedangkan Rin membantu mengambilkan bola. Ren menendang dengan kaki ikannya.
Tapi bolanya tidak bisa lurus. Bola bergerak ke sebelah kiri gawang. Rin membantu mengambilkan bola lagi. Kali ini Ren mencoba menendang dengan posisi agak miring. Barulah bolanya masuk.
"Goy ..." Ren mengerak-gerakkan kaki ikannya karena tidak bisa berlari untuk seremoni gol nya.
...***...
Lucas pulang setelah seharian mendengarkan seminar.
"Papa ..." Rin dan Ren menyambut gembira kedatangan Lucas. Seketika itu juga rasa capek di tubuh Lucas hilang.
Hana ikut menyambut Lucas. "Tadi seminarnya tentang apa?"
"Tentang syndrom langka pada anak."
Hana sedikit banyak tahu beberapa sindrom pada anak. Ada yang terjadi 1:1.000. Terkadang malah 1:1.000.000.
Hana bersyukur anak-anaknya sehat walaupun Ren tidak punya telapak kaki di kaki kirinya.
Rin lalu menunjukkan foto dan video yang ia ambil saat Ren menjadi putri duyung.
"Badannya Rin tambah besar di Amerika. Kostum mermaid-nya sesak." Hana menjelaskan.
"Memang kerasa waktu aku gendong mereka. Terutama Ren."
"Ren itu makannya banyak. Kalau orang biasa makan sehari tiga kali, Ren sekali makan bisa empat kali."
"Empat kali?"
"Tapi Ren banyak gerak. Jadinya kalori makanan yang ia makan langsung terbakar."
...***...
Keesokkan harinya.
Lucas membawa keluarganya ke taman. Melihat burung dara. Ren senang mengejar burung dara yang sedang berkumpul karena orang-orang yang memberi mereka makan.
Burung dara langsung berhamburan lalu terbang saat Ren mendekat.
Lucas dan Rin mendatangi gerobak burger. Mereka hendak membeli burger. Rin melihat harga burger. Dua dollar.
"Sepuyuh." Rin melihat penjual yang bingung. "Ten." Rin mengangkat kedua telapak tangannya.
Rin mengeluarkan dua lembar uang sepuluh dolar dari dompet mungil di dalam tas selempang mungilnya kemudian memberikan uang tersebut ke penjual. Uang saku dari Richard.
"Buygeynya buat kakek."
"Tapi kakek nggak ada di sini. Kakek di Indonesia."
"Kakek yang itu." Rin menunjuk pria di kejauhan dengan rambut dan janggut abu-abu. Seorang tuna wisma. Di dekat pria tua itu ada beberapa orang lagi.
Lucas mengajak Rin membeli minuman sambil menunggu burger matang. Hana dan Ren ikut ke mini market terdekat. Rin memilih sepuluh kaleng cola.
"Ren mau yang mana?" Lucas bertanya.
Ren menunjuk satu botol besar sprite. "Ren bisa habis?" Lucas sebenarnya juga hanya akan memperbolehkan Ren minum seteguk saja.
"Yen minum banyak di yumah om Ayex." Rin membocorkan rahasia. Rin langsung menutup mulutnya. Selama ini mereka (Rin dan Ren) biasa minum sprite di rumah Alex.
"Hana ..." Lucas mencari Hana. Hana sudah kabur sebelum dimarahi Lucas.
Lucas tidak bisa memarahi Hana di ruang publik. Nanti di rumah ia akan menasehati Hana. Ia masih mengijinkan putra dan putrinya minum soda dalam batas wajar.
Mereka lalu mengambil burger dan membagikannya ke pria tua dan teman-temannya.
"Thank you." Mereka mengucapkan terima kasih. Malam ini setidaknya mereka bisa tidur tidak dengan keadaan lapar.
Lucas lalu membawa keluarganya ke pantai. Lucas menaruh alas di pasir. Hana meletakkan makanan dan minuman. Mereka lalu menikmatinya.
Lucas menyuapi Rin dan Ren. Hana ikut membuka mulutnya. Ia minta disuapi.
"Mama anak kecil." Rin mengejek Hana sambil tersenyum. Hana ikut tersenyum.
Selesai makan Rin dan Ren bergandengan tangan menyusuri pantai. Ketika ombak mendekat, mereka menjauh. Tawa mereka terdengar.
Sesekali Ren berjongkok mengambil cangkang kerang. Lalu menaruhnya lagi di pasir.
"PAPA! KAKI REN." Rin berteriak. Kaki palsu Ren saat ini hanyut dibawa ombak. Rupa-rupanya kaki Ren copot lagi. Kaki palsu Ren terbuat dari bahan yang ringan tapi kokoh sehingga mudah dibawa ombak.
Rin hendak masuk ke dalam laut untuk mengambil kaki palsu Ren.
"JANGAN." Lucas langsung berlari secepat kilat. Mencegah Rin yang sudah melangkahkan kakinya menuju laut.
"Fiuh ..." Lucas merasa lega. Ia memegangi tubuh Rin. Mereka melihat kaki palsu Ren yang semakin menjauh dibawa ombak. Sudah tidak bisa dijangkau lagi.
"Bye ... Bye ..." Ren melambaikan tangannya. Mengucapkan perpisahan dengan kaki palsu yang sudah menemani hari-harinya.