Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 61 Sayang Om Yicat



Keesokkan harinya Hana bangun pagi dan membuat bubur buat Richard. Ia hendak pergi bersama Lucas. Anak-anaknya sarapan bubur.


"Mama ... Ikut ..." Rin tadi memilih baju bagus karena melihat Hana yang memakai baju rapi dan sedikit berdandan. Dari situ Rin tahu mamanya akan pergi jalan.


"Mama mau ke rumah sakit. Di rumah sakit nggak ijinin anak kecil datang. Nanti bisa sakit."


Tapi tentu saja Rin tidak menyerah. Saat kakeknya sakit, ia boleh datang. Kenapa sekarang ia tidak boleh ikut.


Mama, Yin bingung. ~ Rin mau pura-pura sakit lagi. Tapi ia sudah janji tidak akan membuat mamanya kuatir dengan kebohongannya. Rin juga mendengar dongeng dari penggembala yang sering berbohong dan akhirnya tidak lagi dipercaya oleh teman-temannya saat ia berkata jujur.


"Rin ikut aja. Tapi jangan jalan-jalan. Tetap di kamar aja." Lucas sudah melihat Rin memegang perutnya dan sepertinya Rin akan akting sakit lagi.


Akhirnya Lucas mengantar Rei dan Rio ke sekolah lalu lanjut ke rumah sakit untuk bekerja sekaligus mengantar Hana dan Rin.


Tiba di rumah sakit mereka berpisah. Lucas ke ruangan kerjanya. Hana dan Rin menuju ke kamar Richard dirawat.


"Om Yicat." Rin menuju ke ranjang tempat Richard berbaring. Richard membantu Rin duduk di sebelahnya. Richard terlihat rapi dengan rambut yang sudah tersisir rapi. Ia juga sudah membersihkan tubuhnya karena tahu Hana akan datang.


Di kamar Richard, Hana membuka rantang berisi bubur hangat untuk Richard. Lalu menuangkannya ke mangkuk kertas sekali pakai.


"Kak, aku ..." Hana ingin berkata kalau ia yang membuat bubur. Tapi ia tahu Richard akan menolak mentah-mentah masakannya.


"Aku tadi beli bubur. Ayo makan." Hana menyuapi Richard.


"Om, anak kecil." Rin mengejek Richard.


"Rin yang masih kecil."


"Yin bisa makan sendiyi." Rin membela dirinya.


"Aku makan sendiri. Aku nggak mau dikatai Rin anak kecil." Richard mengambil mangkuk bubur.


"Buburnya enak. " Richard menghabiskan bubur tidak bersisa. "Beli di mana?"


"Mama bikin bubuy," ucap Rin.


"Eh? Hana, bubur tadi buatanmu?" Richard merasa perutnya bergejolak. Ia masih trauma saat dulu pernah makan masakan yang dibuat Hana.


"Iya." Hana mulai melihat gerak-gerik Richard yang aneh.


"Buburnya aman, kok, Kak. Semua orang di rumah makan dan aman-aman aja."


"Yin makan bubuy."


Richard melihat Rin yang tampak baik-baik saja.


"Mertuaku pintar masak. Aku sering belajar masak sama mereka. Sampai saat ini belum ada korban. Anak-anakku baik-baik saja."


Perut Richard mulai tenang. Masih membekas di ingatan Richard saat memakan makanan Hana. Ia jadi diare dan harus bolak-balik ke toilet. Ia jadi trauma dengan masakan Hana.


"Om, Yin mau nyanyi." Rin mulai bernyanyi.


"Satu satu Yin sayang Om."


"Dua dua juga sayang Om."


"Tiga tiga sayang Om Yicat."


"Satu dua tiga sayang Om Yicat."


Rin mengubah lagu "satu satu aku sayang ibu" jadi "satu satu sayang Om Yicat".


"Nyanyi lagi, Rin. Om mau rekam." Richard mengambil ponselnya dan mulai merekam. Rin meminta diturunkan dari ranjang. Rin lalu mulai naik ke atas meja kecil di depan ranjang. Sekarang ia bernyanyi sambil bergaya. Saat angka satu, jarinya membuat angka satu. Begitu juga saat angka dua dan tiga disebutkan. Menambah gemas.