
"Kak Richard itu masih kekasihku." Hana tersenyum. Ia tidak bersungguh-sungguh mengatakannya. Ia tahu ia sudah jadi istri Lucas.
"Istriku yang cantik ini kenapa punya kekasih lain?" Lucas berkata manis sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi Hana. Membuat bibir Hana terlihat seperti bibir ikan.
"Kurang puas denganku sehingga cari pria lain?" ucap Lucas masih dengan nada manis. Lucas mencium bibir Hana. Lucas merasa dirinya bergairah. Tapi ia harus tahu diri. Saat ini mereka sekeluarga berada dalam satu kamar. Selain dirinya dan Hana, ada empat anak-anak yang sedang tidur.
Lucas membaringkan tubuh Hana ke ranjang. Ia mencium bibir Hana. Tangannya mulai bermain di tubuh Hana.
"Yin mau cium papa." Rin tiba-tiba memunculkan wajahnya di dekat mereka. Lucas langsung melepas tautan bibir mereka. Tadi Lucas dan Hana terlalu fokus berdua. Mereka tidak menyadari jika Rin terbangun dan menghampiri mereka.
Hana merapikan bajunya. Lucas juga ikut merapikan bajunya. Untung tadi mereka belum ... Lucas lalu menggendong Rin. Tapi Rin tidak merasa mengantuk atau ingin tidur lagi.
"Yin lapay." Rin merasa perutnya lapar. Makanan yang ia makan tadi sepertinya sudah dicerna habis oleh perutnya.
"Apa Rin cacingan? Akhir-akhir ini ia sering minta makan lagi. Padahal sudah makan." Hana merasa ada sesuatu yang bermasalah di perut Rin.
"Bisa jadi. Karena Rin sukanya menggali tanah di belakang rumah. Nanti kita kasih Rin obat cacing. Bisa juga karena Rin masih kecil dan dalam masa pertumbuhan. Jadinya pengen makan terus.. Hana, kau mau makan juga?"
Hana menganggukkan kepalanya. "Aku mau burger." Lucas lalu melihat buku menu di kamar. Ia memesan beberapa makanan. Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan datang.
"Room service."
Pelayan membawa masuk troli makanan. "Teyima kasih, om." Rin sudah ingin cepat-cepat makan.
Rin mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya. "Rin, pelan-pelan makannya." Hana melihat pipi Rin yang menggelembung karena makanan. Terlihat imut tapi Hana takut Rin tersedak.
Keesokkan harinya mereka sarapan lalu checkout dari hotel pagi-pagi karena Rei dan Rio harus sekolah. Lucas lalu menuju ke rumah dan hendak mengantar Rei dan Rio ke sekolah.
"Papa, Yin mau ikut." Rin ingin ikut pergi.
"Rin mau ikut papa atau ikut kakak Rei?"
"Rin mau sekolah?"
Rin menganggukkan kepalanya. Ia tak tahu sekolah itu seperti apa tapi yang ia tahu kakak-kakaknya hampir setiap hari ke sekolah.
"Rin masih kecil. Sekolahnya beda sama kakak Rei. (Melihat jam tangannya) Papa sudah keburu. Rin baik-baik di rumah." Lucas mencium pipi Rin kemudian masuk ke dalam mobil lalu menuju ke sekolah Rei dan Rio.
Sementara itu di rumah Ronald memberi kabar kalau ada kelas akting untuk anak kecil
^^^Hana :^^^
^^^Yang bayar siapa?^^^
Ronald :
Hari pertama gratis
Kalau Rin suka, aku yg byr utk kelas selanjutnya
^^^Hana :^^^
^^^Gpp?^^^
Ronald :
Investasi buat Rin
Hana mempersiapkan Rin. Ronald datang menjemput. Mereka menuju ke kelas akting. Di kelas akting sudah ada beberapa anak yang datang. Usia mereka rata-rata di atas Rin. Ada yang baru datang dan tampak malu-malu.
Sedangkan Rin melihat sekeliling ruangan terlebih dahulu lalu ikut berkumpul bersama yang lain. Sebenarnya interior kelas akting ini tidak asing bagi Rin. Seperti ruangan latihan menari di Rei's studio