
"Apa kau yakin ingin berhenti jadi dokter?" Hana bertanya. "Kau akan lebih berguna bagi banyak orang jika tetap menjadi dokter. Pasien-pasien membutuhkanmu."
"Aku yakin," jawab Lucas. "Sebelum berguna bagi orang lain, aku harus berguna bagi keluargaku. Bagiku keluarga itu nomor dua."
"Nomor dua? Nomor satunya?" Bukannya seharusnya keluarga itu nomor satu. Apa nomor satunya Lucas itu uang?
"Tentu saja ..." Lucas mendongakkan kepalanya ke atas dan melihat ke langit-langit.
"Bagaimana dengan Ronald?" Hana bertanya karena mereka sudah menandatangani kontrak dengan A+ entertainment.
"Ronald akan mengurus kegiatan Rin di Indonesia. Kalau aku yang mengurus saat Rin di Amerika."
Lucas melanjutkan. "Aku tidak akan langsung berhenti begitu saja. Aku akan menunggu sampai rumah sakit mendapatkan dokter baru. Selain itu aku juga harus belajar banyak tentang industri hiburan."
"Tadi Rin ngapain aja di ruang audisi?" Hana sempat cemas karena Lucas dan Rin tak kunjung keluar dari ruang audisi.
"Lama, ya?"
"Iya."
"Ada juri yang memberi naskah baru ke Rin. Sepertinya mereka nggak percaya kalau Rin itu bisa menghafal dengan cepat. Tadi Rin juga di-interview. Saat juri tanya siapa aktris favorit Rin, kamu tahu apa jawabannya?"
"Blackpink?" Hana sering melihat Rin menirukan Rei yang meng-cover tarian Blackpink.
"Bukan. Tapi Audrey Hepburn."
"Audrey Hepburn yang aktris tahun 60-an itu?"
"Betul. Juri-juri pada kaget. Rin aja belum lahir."
"Aku juga belum lahir."
"Trus Rin ditanya 'Kenapa suka sama Audrey Hepburn?'. Rin jawab karena Audrey cantik."
"Audrey itu memang cantik. Mungkin karena Mama suka nonton ulang film-filmnya Audrey dan kebetulan Rin Ikut nonton."
"Trus Rin ditanya lagi selain Audrey, Rin suka siapa lagi. Tau jawabannya?"
"Hmm ... Hmm ..." Hana berpikir. "Aku rasa Elvis Presley."
"Betul. Kok tahu?"
"Juri-juri jadi kaget lagi. Ini anak masih kecil tapi tahu tentang Audrey dan Elvis."
"Rin ditanyain apa lagi?"
"Cita-citanya saat besar nanti. Rin jawab mau jadi ..."
"Dancer." Hana dan Lucas berkata bersamaan.
"Rin trus disuruh menari. Rin langsung meminta digendong. Aku dan Rin menari bersama."
Hana tersenyum. Ia bisa membayangkan bagaimana Lucas menari dengan kakunya "Pasti juri-juri pada senyum-senyum."
"Kok tahu?"
"Pasti tarianmu kaku, kan." Hana tertawa kecil. Jika saja ia bisa berada di ruang audisi, pasti akan ia rekam.
"Sesama penari buruk dilarang menghina." Lucas tahu tarian Hana tidak bisa disebut bagus juga.
Rin masuk ke dalam kamar. "Mama, chef Pieyye sudah bikin kue. Cepeten. Yen mau coyek-coyek kuenya."
Chef Pierre, chef yang bertanggung jawab di dapur membuat cake sebagai ucapan selamat karena Rin mendapatkan peran.
"Kata mama kita tak boleh terlalu senang. Selama masih belum syuting, para pemeran masih bisa diganti." Hana mengingatkan Lucas.
Ren sudah duduk manis di meja. Matanya menatap cake yang sudah dihias cantik dengan hiasan huruf "Congratulation".
Ren bertepuk tangan. Ia mengira ada yang berulang tahun hari ini. "Happy, happy ..."
"Hari ini nggak ada yang ulang tahun. Chef Pierre bikin cake untuk kakak Rin yang lolos audisi."
Hana memotong kue dan memberikan potongan pertama buat Rin. Kemudian Lucas, lalu Ren.
"Yen cemot." Rin melihat pipi Ren yang belepotan krim dari kue.
"Rin juga." Lucas mengambil tisu lalu mengelap pipi Rin.
.