Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 137 Seribu Dua Ribu



Rin mengajak Ricka bermain di kamarnya. Ia mengambil uang kertas baru miliknya. Ia mengajari Ricka berapa nilai tiap kertas.


"Seribu. Angka satu terus nolnya ada tiga." Rin menunjukkan uang kertas seribu rupiah.


"Dua ribu. Lima ribu." Rin menunjukkan uang kertas lainnya.


Ia memasukkan beberapa lembar uang ke dompet dan menyerahkannya ke Ricka.


"Kakak sekarang jadi penjual buah. Ricka yang jadi pembeli." Rin mulai bersiap menjadi penjual. Ia menaruh buah mainan di depannya. Ada apel, pir, kiwi dan buah lainya.


"Buah ... buah ..." Rin berteriak.


"Buahnya manis."


Ricka yang berdandan ala sosialita datang. Ricka mengenakan kalung mutiara. Di rambutnya dipasang bandana. Lengkap dengan sun glasses dan pouch di tangan. Semuanya bermerk.


"Ibu Ricka mau beli apa?"


Ricka menunjuk buah strawberry.


"Strawberry nya mau berapa kilo?"


Ricka membuat angka satu dengan jari telunjuknya.


Rin mulai menimbang strawberry dan membungkusnya. "Semuanya lima puluh ribu ."


Ricka menyerahkan dompetnya. Ia masih belum tahu lima puluh ribu itu yang mana.


Rin mengambil uang dari dompet Ricka. Dompet seketika kosong.


Ricka menangis. Ia ingin punya banyak uang di dompetnya.


"Ini Kakak masukin lagi uangnya." Rin mengalah. Ia memasukkan kembali uang yang ia ambil ke dalam dompet Ricka.


Ricka tersenyum. Mereka lalu bertukar peran.


...***...


Hari ini Hana membawa ayahnya ke rumah sakit untuk fisioterapi. Supir dan suster pria membantu menaikan Budiman yang berkursi roda ke dalam mobil.


Di rumah sakit tubuh Budiman disinari dengan suatu alat.


Selesai fisioterapi mereka antri di dokter penyakit dalam dan mendapat resep dokter untuk obat tekanan dan diabetes.


Sambil menunggu, Ricka bermain dengan barang-barang yang ada di etalase apotik. Lucas yang sedang senggang menemani Hana.


Ricka menyentuh kemasan berwarna merah. Alat kontrasepsi pria merk D.


"Kalau Ricka beli ini nanti Ricka nggak bisa punya adik." Lucas hanya bercanda.


Hana mencubit Lucas. Lucas menahan sakit di tangannya.


"Anak saya sudah enam," ucap Hana.


"Anak saya ada lima," ujar Lucas.


Enam? Lima? Anak mereka sebelas? Ibu itu jadi bingung.


"Bapak Budiman." Petugas apotik memanggil.


Hana segera menuju ke konter pengambilan obat.


"Ini obat tekanan dan gulanya." Petugas itu memberikan obat.


"Terima kasih."


Hana lalu mengajak Ricka pulang. Tapi Ricka menolak. Ia masih ingin berada di rumah sakit.


"Ricka mau disuntik?" Biasanya ini akan berhasil walau tidak baik karena seolah-olah rumah sakit itu menyakitkan.


Ricka menganggukkan kepalanya. Hana bingung harus berkata apa lagi. Terbiasa melihat jarum suntik, tidak membuat Ricka takut.


"Tunggu aja di ruanganku." Lucas menyarankan.


Akhirnya ayah Hana pulang terlebih dahulu bersama suster pria dan supir. Sedangkan Hana dan Ricka menunggu di ruangan Lucas.


Ricka merasa bosan. Tidak ada mainan di ruangan ayahnya.


"Ricka mau pulang?"


Ricka menggelengkan kepalanya. Ia masih ingin berada di rumah sakit. Ia membuka-buka majalah dan berpura-pura membacanya.


Saat hari sudah siang.


"Sekarang waktunya jemput kakak Ren."


Ricka akhirnya mau ikut pergi bersama Hana. Hana dan Ricka menuju ke tempat parkir di mana supir mereka sudah menunggu.


Mereka lalu menuju ke sekolah Ren.


"Ricka ...." Ren berlari saat melihat adik kecilnya itu.


Ricka tersenyum.


"Ren lama nunggunya?"


"Nggak. Tadi Ren makan di kantin duyu."


Mereka lalu pulang ke rumah.