
Setibanya di bandara, mereka melihat ada seorang pria yang membawa kertas besar bertuliskan "Richard".
Supir itu membawa mereka ke hotel.
"Anyonghaseyo." Rei mencoba mengucapkan salam. Supir itu melihat dari kaca spion dalam. Ia tersenyum. "Welcome to Korea."
Ren tak mau kalah. Ia ikut-ikutan. "Annyeonghaseyo."
Sampai di depan hotel, Ren memandang takjub hotel megah di depannya.
"Apa hotel ini punya Papa Richard?" Ren bertanya. Richard berbisnis di bidang perhotelan. Ren mengira Richard memiliki setiap hotel karena mereka sering menginap di hotel milik Richard.
"Bukan. Bukan punya Papa Richard. Tapi hotel ini mau dijual ke Papa. Ren bantu Papa lihat lihat hotelnya. Kalau ada yang Ren nggak suka, Ren lapor ke Papa." Richard menjawab. Ia memilih menginap di hotel yang rencananya akan ia beli.
"Iya."
Mereka menuju ke kamar. Richard sengaja memilih kamar biasa. "Papa ingin kita coba tidur di kamar biasa dulu. Papa ingin tahu bagaimana mereka melayani tamu." Richard melihat wajah kecewa kakak-kakak Ricka karena biasanya mereka menginap di kamar yang mewah. Kamar di lantai paling atas.
Richard ingin melihat bagaimana pekerja hotel melayani tamu kamar biasa mereka. Secara kamar biasa adalah kamar yang sering di-booking oleh pelanggan.
Ia juga merahasiakan maksud kedatangannya menginap di hotel. Ia tak ingin diperlakukan khusus karena menjadi calon pembeli hotel.
Richard juga berupaya tetap mempertahankan sebagian besar pekerja jika ia jadi membeli hotel. Memang kemungkinan besar akan ada yang di-PHK untuk efisiensi perusahaan.
Asisten Richard memberikan data-data tentang keuangan hotel. Dari laporan laba rugi sepuluh tahun terakhir beserta neraca perusahaan.
Richard melihat sepuluh tahun yang lalu hotel masih untung. Kerugian dimulai lima tahun yang lalu. Apa penyebabnya? Apakah terlalu banyak karyawan? Atau tarif hotel yang terlalu mahal?
Richard menganalisa semuanya.
Sementara itu di kamar tempat Hana dan anak-anaknya berada.
"MAMA ... LIHAT ..." Ren meloncat kegirangan melihat menara camilan. Ia melihat ada camilan-camilan favoritnya yang dibentuk seperti menara. Ada tulisan REN di menara itu.
"Ini buat Ren?"
"Yen boleh makan?" Ren tidak sabar mencoba yakgwa, camilan dari Korea.
"Habis makan malam, Ren boleh makan camilannya. Sekarang tidak boleh."
"Iya." Ren mendekati Rei. "Kakak, kita makan jam berapa?"
"Ren sudah lapar?"
"Ren mau makan itu. Tapi Mama bilang tunggu makan malam dulu."
"Mungkin bentar lagi kita makan. Ren lihat kan mama lagi lihat-lihat menu." Rei menunjuk Hana yang sedang membaca menu.
Hana menanyai pendapat anak-anaknya. "Mau makan di kamar atau di restoran?"
"Di kamar aja." Semuanya setuju untuk makan di kamar.
Hana mulai memesan makanan via telepon. "I want chicken burger, fried chicken, ..."
Tak lama kemudian makanan datang. Petugas hotel mengetuk kamar mereka. Ia membawakan makanan yang dipesan.
"Gamsahamnida." Rei mengucapkan terima kasih.
"Gamsahamnida." Ren meniru Rei lagi.
Tak butuh waktu lama. Makanan langsung habis dan masuk ke dalam perut mereka.
Ren memberikan nilai 5 dari 5 untuk ketepatan pengantaran makanan dan rasa makanan yang lezat.
Ren ingin berkeliling untuk melihat-lihat hotel. Ia ingin mengecek kebersihan hotel dan keramahan petugas hotel. "Mama, Yen mau jalan-jalan."
"Besok pagi, ya. Mama masih capek. Habis sarapan di bawah, kita jalan-jalan."
"Iya."