
Selesai makan siang.
Lucy memutar sebuah video di TV. Ren melihat bocah-bocah di video yang begitu mirip dengannya.
"Oma, Ren ada dua." Ren melihat ada dua bocah seperti dirinya di TV sedang bermain bola di taman belakang rumah Lucy.
"Ini papa Lucas. Ini papa Luke." Lucy menerangkan.
"Bukan. Ini Lucas. Ini Luke." Lukman mengkoreksi.
"Aku mama mereka. Aku lebih tahu." Lucy mulai sewot.
"Sudah. Sudah. Opa sama Oma jangan beytengkay." Ren mencoba meredakan emosi oma nya.
Lucy lalu mengambil album foto Lucas dan Luke saat masih kecil.
"Ini semuanya Yen, Oma. Yen kembar. Tapi kembayan Yen di mana? Jangan jangan mama buang. Hi ... hi ... hi ..." Ren tertawa sambil melihat semua foto dirinya di album.
"Ini foto fotonya papa Lucas sama papa Luke waktu masih seumuran Ren." Lucy membolak balik lembar demi lembar album foto.
Sementara itu di rumah Hana.
Hana menerima panggilan telepon dari Ronald.
"Besok ada infotainment yang mau datang meliput Rin," ucap Ronald.
"Di sini?"
"Betul."
"Jam berapa?"
"Dari pagi. Mereka mau meliput kegiatan seharian."
"Eh? Kenapa baru bilang sekarang." Hana melihat sekitar rumahnya.
"Info dari infotainmentnya juga baru aku terima barusan."
Panggilan terputus. Hana buru-buru melihat seluruh isi rumah. Apa yang berantakan ia bereskan. Apa yang sekiranya kotor ia buang.
Saat sore hari Ren pulang. Ia melihat Hana begitu sibuk.
"Ma, besok ada infotainment yang mau datang meliput Rin. Hana bagusnya pakai baju apa?" Hana bingung memilih antara dua baju. Ia meminta pendapat Lucy.
Ia sering melihat jika artis cilik diliput oleh infotainment, maka orang tuanya juga akan diwawancarai.
"Dua duanya bagus."
"Mama besok temani Hana, ya." Hana menjadi gugup. Seumur-umur ia akan masuk TV.
"Besok mama ke sini." Lucy lalu ikut membantu membereskan dan merapikan rumah.
Ricka juga tidak mau kalah. Ia juga ikut memetik gitar sehingga suara yang dihasilkan gitar tidak beraturan.
Setelahnya mereka bermain masak-masakan. Ren menaruh topi chef di kepala Ricka. Lalu memasang celemek untuk Ricka.
"Chef Yicka, Kakak Yen lapay." Ren memegang perutnya.
Ricka lalu mengambil roti croissant mainan dan menaruhnya di piring plastik mini.
"Teyima kasih." Ren berpura-pura menghabiskan roti itu.
"Kakak Yen masih lapay." Ren memegang perutnya lagi.
Ricka sibuk menaruh berbagai sayur di piring untuk disuguhkan ke Ren.
"Kakak Yen nggak suka sayur." Ren berpura-pura tidak menyukai sayur padahal ia penyuka semua makanan.
"Kakak Yen mau daging ayam." Ren menunjuk potongan ayam goreng palsu.
Ricka mengambil satu potong ayam goreng mainan dan menaruh di piring untuk Ren.
Sekarang mereka berganti peran. Ren menjadi chef dan Ricka menjadi pelanggan.
"Yicka mau pesan apa?"
Ricka berbicara bahasa bayi. Ren berpura-pura mengerti apa yang dikatakan Ricka.
"Yang itu habis."
Ricka berbicara bahasa bayi lagi.
"Bentay, Kakak Yen buatin buat Yicka." Ren berpura-pura mengisi es krim soft cream di atas cone.
"Ini." Ren menyerahkan es krim yang baru saja ia buat.
Ricka menjilat es krim palsu itu.
"Jangan dijiyat sunguhan. Yicka puya-puya aja. Es kyim ini banyak kumannya." Ren menunjukkan cara berpura-pura memakan es krim mainan.
Hana dan Lucy selesai membereskan rumah. Rumah sudah terlihat lebih rapi.
"Mama dan Papa pulang dulu." Lucy berpamitan.
"Terima kasih, Ma. Besok jangan lupa temani Hana."
"Iya."
"Bye bye Oma. Bye bye Opa." Ren melambaikan tangannya.