Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 131 Katakan Atau Tidak?



Dengan uraian air mata, Rin bertanya. "Rin bukan anak Papa?"


Lucas terdiam. Ia seperti berada di persimpangan jalan. Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya, sesuatu yang akan ia lakukan. Atau haruskah ia tetap menyimpannya saat ini dan mengatakannya ke Rin pada saat yang tepat.


"Yang Rin panggil papa siapa?"


"Papa." Rin masih menangis.


"Yang rawat Rin dari bayi siapa?"


"Papa."


"Rin itu anak Papa." Lucas memeluk Rin. Ia merasa sekarang belum saatnya untuk menguak kebenaran. Rin masih terlalu kecil.


Lucas menepuk-nepuk punggung Rin. Berusaha untuk menenangkannya. Teleponnya berbunyi lagi. Dari Hana yang belum menemukan Rin.


"Lucas, Rin nggak ada! Aku mau lapor polisi." Hana dan yang lainnya sudah mencari Rin ke seluruh rumah. Dan hasilnya nol.


"Rin ada sama aku."


"Kok bisa?"


"Nanti kita bicara di rumah."


"Rin ada jadwal syuting bentar lagi. Ronald sudah datang mau jemput Rin."


"Aku yang antar Rin ke lokasi syuting. Minta Ronald kirim alamatnya."


Di satu sisi Hana merasa lega. Tetapi di sisi lain ia penuh tanda tanya. Ia tadi mendengar suara sesenggukan Rin.


Lucas menggendong Rin sampai ke mobil. Ia menghapus air mata Rin. "Rin harus berhenti menamgis. Bentar lagi Rin syuting. Mata Rin nggak boleh kelihatan bengkak di kamera."


"Iya."


Lucas mengambil tisu lagi dan mengelap ingus yang keluar dari hidung Rin.


Lucas lalu membawa Rin ke lokasi syuting. "Rin sudah hafal skenarionya?"


"Sudah."


Rin langsung mengganti pakaiannya dan mulai syuting.


Sedangkan Lucas berbicara dengan Ronald. "Rin sepertinya sudah tahu kalau aku bukan papanya."


"Tenangkan dirimu. Mungkin sekarang sudah waktunya untuk berbicara jujur dengan Rin." Lucas berusaha meredakan emosi Ronald. Memusuhi infotainment jika bekerja di dunia hiburan tidak akan membawa manfaat.


Perusahaan entertainment membutuhkan infotainment untuk memperkenalkan artisnya.


Lucas memutuskan untuk membicarakannya terlebih dahulu dengan Hana dan kedua orang tuanya. Barulah ia akan mengatakannya ke Rin.


"Papa." Rin mendatangi Lucas di sela sela break syuting.


Lucas menggendong Rin. Ia tahu Rin lagi manja saat ini.


"Tadi Rin bagaimana?" Rin bertanya tentang aktingnya tadi.


"Waduh. Papa nggak lihat. Tadi Papa sibuk ngobrol sama om Ronald."


"Nanti Papa lihatin Rin, ya?"


"Iya. Nanti Papa lihatin. Nanti Papa beritahu Rin kurangnya di mana."


Rin mengantuk dan tertidur di pelukan Lucas.


Kru drama memberitahu Lucas jika Rin akan syuting. Lucas hendak membangunkan Rin walaupun ia tidak tega. Ia ingin Rin tidur lebih lama.


"Rin tidak perlu dibangunkan. Adegan Rin nanti itu adegan Rin tidur. Tolong baringkan Rin di kasur yang spreinya pink itu."


"Terima kasih." Lucas menuju ke kasur pink itu. Ia lalu meletakkan Rin. Ia melihat Rin masih tertidur pulas. Lucas merapikan penampilan Rin.


"Hari ini Rin syuting sampai jam berapa?" Lucas bertanya ke Ronald.


"Habis adegan ini, Rin boleh pulang," jawab Ronald.


"Nanti biar Rin pulang sama aku."


"Okay." Ronald lalu sibuk dengan ponselnya. Setiap hari tawaran main film, drama dan iklan untuk Rin selalu ada. Tapi tidak mungkin Rin melakukan semuanya.


Ia juga tidak tega membuat Rin kerja berlebihan. Walaupun itu artinya akan ada banyak uang yang melayang.


Syuting selesai.


Lucas mengambil Rin dari ranjang dan membawanya pulang. Ronald membantu membukakan pintu mobil.


"Thanks, Ron. Aku pulang duluan." Lucas membawa mobilnya menuju rumah.