
Hana berhasil menemukan dokter yang bisa mengaborsi bayinya dengan Luke. Ia sudah menandatangani surat perjanjian bahwa bila terjadi masalah, Hana tidak akan menggugat dokter itu.
Dalam hati Hana merasa takut, ia bisa saja mati saat mengaborsi bayinya tapi bila ia melahirkan bayinya itu juga sama dengan penderitaan seumur hidupnya. Ia takkan bisa jauh dari Luke.
Hana akan mengaborsi bayinya besok. Ia menenangkan hatinya di rumah. Tak ada perasaan bersalah atau perasaan untuk ingin melahirkan bayinya saat itu. Ia tahu aborsi itu sama dengan pembunuhan tapi ia tak punya pilihan lain.
Malam itu Hana tertidur ...
Ryu datang lagi dalam mimpinya. Tapi kali ini Ryu menangis.
“Hiks... Hiks ... Hiks ...”
“Ryu kenapa? Apa Ryu sakit?” Hana bertanya.
“Rin dari tadi nangis.”
“Rin itu siapa?” Hana mengira Rin adalah teman Ryu di surga.
“Rin itu adik Ryu.”
“Adik? Ryu sudah punya adik di surga?”
”Bukan ... Rin masih di perut mama.” Ryu menunjuk perut Hana.
“Rin menangis karena mama mau bunuh Rin. Rin bilang ke Ryu kalau Rin mau hidup. Ia minta dilahirkan.”
“Tapi mama nggak bisa, Ryu.”
“Jangan ... Jangan bunuh Rin, ya, Ma ...” Ryu memohon dengan sangat. Ia ingin Hana melahirkan Rin. Ryu lalu menghilang begitu saja. Hana langsung terbangun. Ia melihat jam dinding.
Jam 3 subuh.
Ia menyentuh perutnya.
Rin mau hidup?
Hana berpikir sejenak. Ia sudah membuat janji dengan dokter jam sepuluh pagi masih ada sisa waktu untuk berpikir lagi.
Ryu ...
Maafin Mama ...
Mama nggak bisa lahirin Rin.
Mama nggak sanggup.
Jam setengah sepuluh pagi Hana sudah tiba di tempat aborsi. Ia melihat pasangan, sepertinya pasangan itu juga akan mengaborsi bayi mereka. Wanita itu terpaksa mengaborsi bayinya karena permintaan sang pria yang masih memiliki istri.
Hana juga terkejut saat melihat pasangan yang masih muda. Mereka sepertinya baru SMA. Hana bisa melihat perempuan itu menangis, tapi pria yang di sampingnya berkata “Kita harus melakukannya. Kau tahu, kan kita masih sekolah. Setelah kita lulus kuliah aku akan menikah denganmu.”
Bullsh**.
Hana mengecam pria muda itu dalam hatinya.
Yang ada pasti pria itu akan berpindah ke lain hati. Dan perempuan itu akan ditinggal begitu saja.
Tapi Hana hanya bisa diam. Ia tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain. Urusannya sendiri bahkan belum beres.
“Ibu Hana ...” Hana dipanggil suster untuk memasuki ruangan. Hana bisa melihat ada dokter di sana. Ia sudah mengganti sarung tangannya dengan sarung tangan yang baru.
Sebelumnya Hana sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian pasien. Ia lalu dipersilahkan untuk berebah di kursi.
“Buka kaki Anda ...” ucap dokter. Ia akan menyuntikkan obat bius di servik Hana.
Hana lalu membuka kaki polosnya. Ia merasa malu. Ia hanya pernah mmperlihatkan bagian intinya ke Lucas dan Luke. Tapi ia harus melakukannya.
Dokter mulai memasang alat. Hana merasa sedikit takut. Tangannya menggenggam pegangan kursi.
Saat dokter bersiap memasukkan alat, Hana mendengar tangisan Ryu.
“MAMA ... JANGAN BUNUH RIN, MA. RYU MOHON.”
Hana mendengar tangisan Ryu lagi.
“Mama ... Rin mau hidup.”
Ryu?
“Dokter ... Stop.”
Hana menutup kembali kakinya. Ia tidak bisa melakukannya. Ia membatalkan niatnya.
“Maafkan saya ... Saya tidak jadi mengaborsi bayi saya.” Entah kenapa Hana mendapatkan keberaniannya.
Hana pulang ke rumah. Sudah ada Lucas di sana bersama anak-anak. Hana dan Lucas berbicara agak jauh dari anak-anak.
“Hana ...” Lucas menggenggam tangan Hana, “Aku ingin memulai hidup yang baru. Aku ingin kita menikah lagi. Maafkan aku saat itu. Aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi.”
Hana hanya tersenyum.
“Mari kita kembali ke kota A,” ajak Lucas.
“Aku ingin tetap tinggal di kota C sampai Rin lahir.”
“Rin?”
“Sepertinya anak yang ku kandung itu perempuan.”
“Kau tahu dari mana?”
“Kemarin Ryu datang dalam mimpiku. Ia menangis. Katanya Rin menangis karena aku mau membunuhnya. Rin mau hidup katanya.
Tadi juga di ruang praktek. Aku mendengar tangisan Ryu lagi. Memohon kepadaku dengan sangat supaya aku tidak membunuh Rin.”
Hana akhirnya tetap tinggal di kota C. Lucas selalu menyempatkan untuk datang jika ia ada waktu. Hana tahu ia harus selalu kontrol kandungannya dan itu artinya Luke akan tahu ia berada di mana.
Hana menuju klinik kandungan untuk memeriksakan kandungannya. Begitu data dirinya diinput bagian administrasi, Luke langsung tahu Hana berada di mana.
Luke segera menuju kota C. Ia langsung mendatangi rumah Hana.
“Papa Luke ...”Rei masih belum tahu kejadian Rin.
“Papa mau bicara sama mama.”
Hana menyambut Luke. Ia sudah mengira Luke akan datang.
Hana meminta Rei dan Rio masuk ke dalam kamar.
“Hana ... Ayo kita menikah.”
“Aku tidak bisa menikah denganmu. Aku memang akan melahirkan putri kita tapi aku tidak mau menikah denganmu.’
“Putri?”
“Ia perempuan.”
“Bagaimana kau tahu?” Luke bahkan belum melihat perut Hana menonjol dan itu artinya dokter belum bisa mengetahui jenis kelamin bayinya.
“Rahasia. Aku tidak bisa menikah denganmu karena aku akan menikah dengan Lucas.”
“Lucas tahu?”
“Ia sudah tahu semuanya.”
Lucas tanpa sengaja datang. Ia tidak tahu bersikap apa dengan Luke.
“Luke kenalkan. Ia calon suamiku.”
Luke lalu meninggalkan mereka berdua dengan geram.
Saat Luke sudah pulang ...
“Hana .. Apa sungguh kau akan menikah denganku?” Hati Lucas sudah berbunga-bunga.
“Maafkan aku. Aku tadi hanya berpura-pura di depan Luke.”
Lucas merasa kecewa. Ia ingin menikahi Hana lagi.
“Walau kita tidak menikah tapi aku ingin kita tinggal bersama di kota A. Aku akan bisa melihatmu.”
“Melihatku atau mendekatiku?”
“D-dua-duanya.” Lucas tersenyum malu-malu.
Hana lalu pindah ke kota A bersama anak-anaknya. Di kota A Lucas memberinya perhatian yang berlebihan. Dulu saat Hana hamil triplet, ia tidak di samping Hana. Makanya kali ini ia berusaha menebus kesalahannya. Ia membelikan Hana susu ibu hamil satu dus besar.
“Sampai Rin lahir, aku nggak bakalan habis minum susu ini. Kau juga harus ikut minum.”
Belum lagi Lucas yang selalu berada di sampingnya menemaninya kontrol ke dokter kandungan. Belum lagi perhatian Lucas saat ia ngidam ingin makan jambu di kebun mereka. Lucas yang takut ketinggian bahkan rela naik ke atas pohon demi memenuhi permintaan Hana.
Hana merasakan getaran lagi di hatinya tapi ia tahu itu tidak mungkin. Tapi Lucas tetap saja memberi Hana perhatian.
Walaupun aku hanya setetes air tapi aku pasti bisa membuat perubahan pada batu.
Lucas memeriksa keadaan Hana dengan stetoskop. Ia mendengar detak jantung Hana berdegup kencang.
“Hana ... Aku tahu kau juga suka denganku. Ayo kita menikah lagi. Kita tinggalkan masa lalu dan menjalani hidup yang baru.”
Luke yang mendengar kabar Hana dan Lucas tinggal bersama lagi, memiih untuk menjauh dan tinggal di luar negri.