Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 108 Paris



Richard akhirnya membeli rumah di sebelah rumah Lucas. Ia membeli dua rumah sekaligus yang nantinya akan ia gabung supaya menjadi lebih besar.


Mendapatkan rumah yang persis sebelah Lucas sangat mudah karena memang pemiliknya ingin menjual rumahnya. Tetapi rumah satunya lagi agak merepotkan karena pemiliknya ingin tetap tinggal di sana.


Setelah Richard memberikan harga dua kali lipat dari harga pasar, barulah pemilik itu mau melepas rumahnya.


Richard mulai merenovasi beberapa bagian rumah. Ia menyiapkan kamar khusus untuk Ricky.


Richard mendesain kamar Ricky dengan warna dominan biru. Menaruh perabot yang menunjukkan bahwa kamar itu akan dihuni bayi laki-laki.


Anak papa harus dapat yang terbaik.


...***...


Hana diperbolehkan dokter untuk ke luar negri. Ia juga sudah meminta ijin Lucas supaya bisa ikut bepergian bersama Richard. Karena itulah Rin tidak jadi didaftarkan ke playgroup.


Hari keberangkatan ke Paris.


Hana, Rin dan Ren menaiki jet pribadi Richard. Ada chef di dalam pesawat. Ren yang menyukai makanan langsung ingin makan.


Mereka tiba di Paris. Hana beristirahat bersama Rin dan Ren. Sedangkan Richard langsung bekerja. Ia harus mengawasi pembangunan hotel. Jangan sampai proyek hotel saat ini gagal dan mencoreng nama baiknya yang akan berimbas ke proyek hotel di negara lainnya.


Keselamatan pekerja proyek juga ia utamakan. Sewaktu-waktu tanpa diduga terkadang bisa terjadi kecelakaan kerja tanpa kita harapkan.


Malam harinya Richard mengajak Hana, Rin dan Ren ke menara Eiffel. Nggak afdol ke Paris kalau tidak ke menara Eiffel, salah satu destinasi wajib bagi turis yang berkunjung ke Paris.


Ponsel Hana berbunyi. Ada panggilan video dari Matthew. "Rin, Matthew telepon."


Rin mengambil cermin mini dari dalam tasnya. Merapikan rambutnya yang agak berantakan. Lalu menerima ponsel Hana. "Matthew, Yin di Payis."


"Paris? Matthew di Paris juga."


"Rin tinggal di mana? Matthew mau ketemu Rin."


"Hotey xxx. Nomoy xxx." Rin menyebutkan kamar hotel tempat ia tinggal.


'"Iya."


Setelah beberapa saat mereka selesai berbicara.


Richard mengajak mereka pulang.


Keesokkan harinya. Rin memilih baju terbaiknya untuk bertemu Matthew. Pilihan Rin jatuh pada dress berenda hadiah dari Matthew.


Sekali lagi Hana selalu heran jika Matthew mengirim hadiah untuk Rin. Sering ia bertanya ke Matthew apa mama nya tahu tentang hadiah-hadiah untuk Rin.


"Mama yang suruh. Kata mama biar Rin ingat Matthew terus."


Hana cuma bisa geleng-geleng kepala. Apa anak Amerika itu seperti Matthew semuanya?


Rin bertemu Matthew di lobi. Matthew mengajak Rin bersenang-senang di taman bermain.


Rin merasa senang bisa bermain dengan anak seusianya. Juga karena bertemu Matthew. Ren juga senang bisa bertemu Mark.


Sedangkan Hana hanya bisa memperhatikan kencan mereka.


Pulang dari taman bermain, Hana melihat ada cincin di jari kiri Rin. Cincin emas?


"Cincinnya dari Matthew?"


"Iya. Bagus ya, Ma." Rin memandangi cincin mungil di jarinya yang bercorak tengkorak.


"Iya. Bagus."


Hana geleng-geleng kepala lagi. Sudah tidak mungkin membatalkan pertunangan Rin dengan Matthew melihat keseriusan keluarga Matthew mengambil Rin menjadi mantu.


Padahal mama kepengen Rin ketemu banyak orang. Jadi, Rin bisa pilih-pilih lagi.


Tapi mungkin Matthew memang jodohnya Rin. Lihat aja nanti waktu mereka besar.