
Hana berbicara dengan Richard. "Kak, sepertinya kita tidak bisa melakukan bayi tabung di Indonesia karena kita bukan suami istri yang sah secara hukum." Hana berbicara dengan berhati-hati. Ia takut Richard kecewa.
"Sepertinya aku harus membawamu ke luar negri. Negara yang melegalkan surogasi ada Amerika, India, Thailand, Ukraina, Rusia. Kau mau ke mana?"
"Aku lebih memilih Amerika. Aku pernah tinggal sebentar di sana saat hamil Ren. Aku nggak bisa meninggalkan Rin dan Ren terlalu lama. Kalau Rei dan Rio bisa aku titipkan ke mertuaku."
"Kita bawa Rin dan Ren. Nanti aku sewa dua baby sitter."
Sebenarnya Hana lebih takut saat berpisah dari Lucas karena trauma masa lalu. Tapi ia sudah bersedia melakukan surogasi. Ia harus mempercayai Lucas.
Saat sore hari Lucas menjemput Hana dan Rin di kamar atas lalu mereka pulang.
"Besok yumah sakit?" Rin bertanya.
"Hmmm .... Hmmm ..." Hana sengaja mengulur jawabannya.
"Yin ikut." Rin tahu jawaban mamanya sudah pasti iya.
"Besok Om Richard sudah boleh pulang ke rumah. Rin di rumah sakitnya mungkin pagi aja." Lucas tadi melihat kondisi fisik Richard yang sudah membaik.
Sampai di rumah Rin membagikan mainan yang ia dapat untuk kakak-kakaknya dan adiknya.
Hana kemudian mengumpulkan anggota keluarganya di ruang tamu. "Rei, Rio, mama akan menjalani program bayi tabung. Kemungkinan mama akan berada di Amerika selama beberapa minggu. Kalian akan punya adik lagi. Tetapi mama mau bilang ke kalian kalau papa dari adik kalian nantinya itu bukan papa Lucas tapi om Richard."
"Nanti adik Rei perempuan?" Rei ingin punya adik perempuan untuk membuat trio power puff girl.
"Adik Rei nantinya laki-laki." Hana bisa melihat sedikit raut kecewa di wajah Rei. Sedangkan Rio sebaliknya. Rio malah sengaja bicara, "Ren, kita nanti bisa bikin power puff boys."
Ren tertawa saat mendengar ucapan Rio. Seolah-olah ia sudah mengerti perkataan Rio.
Keesokkan harinya Richard pulang dari rumah sakit. Ia sudah menyewa pengacara untuk membuat perjanjian surogasi. Hana adalah kenalannya dan ia mempercayai Hana tapi harus tetap ada hitam di atas putih.
"Hana, ini perjanjian surogasi. Walaupun kita teman tapi lebih baik ada hitam di atas putih." Richard menyerahkan surat perjanjian yang sudah jadi.
"Aku akan membacanya bersama Lucas di rumah. Nanti aku kabari kakak lagi." Hana membantu Richard turun dari ranjang. Kursi roda yang dimiliki Richard adalah kursi roda otomatis yang dengan menekan tombol, kursi roda itu bsa berjalan sendiri.
Di depan rumah sakit ada mobil yang sudah standby. Mobil yang pintunya pintu geser. Kemudian keluar alat bantu untuk kursi roda.
Hana dan Rin diantar pulang Richard. "Bye bye." Rin melambaikan tangannya mengantar kepergian Richard.
Saat Lucas di rumah, Hana memperlihatkan surat perjanjian surogasi. "Ada yang kau tidak suka?" Lucas bertanya.
"Ada tertulis Ricky, begitu kak Richard menamai putra kami, hanya akan tinggal bersamaku sampai berumur sepuluh tahun. Sebenarnya aku ingin anakku selalu bersamaku selama ia belum menikah. Tapi aku juga tahu Ricky akan dipersiapkan sejak kecil untuk mewarisi jaringan perhotelan ayahnya." Hana tak ingin berpisah dengan Ricky.
Sepuluh tahun itu memang lama tapi akan terasa singkat jika dijalani.