
Richard perlahan-lahan bisa menerima jika bayinya perempuan. Ricka dan bukan Ricky. Ia mulai merenovasi ulang kamar Ricka. Menjadi kamar dengan nuansa pink.
Beberapa bulan kemudian. Saat kandungan Hana berusia delapan bulan. Ia ikut terbang ke Milan. Membawa Rin dan Ren. Penerbangannya kali ini penerbangannya yang terakhir karena ia akan melahirkan Ricka.
Kali ini ia mengunjungi butik Hermes. Selesai memilih tas, Hana merasakan sakit di perutnya.
"Kak, bentar. Perutku mules." Hana menuju ke toilet. Apa aku tadi salah makan?
Tetapi anehnya tidak keluar apa-apa. Hana merasakan sakit lagi. Seperti ada yang akan keluar tapi tersangkut. Saat itu ia menyentuh bagian intinya. Rambut? Kemarin baru aja aku cukur. Tidak mungkin tumbuh secepat ini.
Hana melihat melalui cermin mininya. Hana sadar kepala Ricka sudah terlihat. "Rin, panggil om Richard."
Rin yang memang berada di dekat Hana memanggil Richard. "Om, Mama." Rin menggoyangkan celana Richard. Richard buru-buru ke toilet.
"Hana, ada apa?" Richard berteriak dari luar karena ia tidak bisa masuk ke dalam toilet wanita.
"Kak, kepala Ricka sudah keluar. Panggilkan ambulan."
Hana tahu ia akan melahirkan sekarang. Petugas medis datang. Membantu kelahiran Ricka. Hana dan Ricka yang baru lahir langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.
Richard memberitahu orang tuanya juga Lucas. Richard melihat tubuh Ricka yang mungil. Saat tangan mungil Ricka menggenggam erat jari telunjuknya, ia seperti merasa terhubung dengan Ricka.
Di dalam kamar rumah sakit.
Hana bermimpi bertemu Ryu.
"Ma, Ricka cantik banget."
"Bayi kan keriput-keriput. Nanti kalau besar baru kelihatan cantiknya."
"Tapi Ricka betulan cantik, Ma."
Hana terbangun. "Kak, Ricka bagaimana?"
"Ia ada di inkubator." Richard menunjuk kotak di dekat mereka.
"Berat badannya?" Ricka lahir terlalu cepat dari hari perkiraan lahirnya yang sebulan lagi.
"Dua kilo setengah."
Hana menelpon Lucas. "Aku belum bisa pulang."
"Tidak apa-apa. Pulihkan dulu dirimu di sana. Ricka bagaimana?"
"Baik. Aku sudah khawatir karena ia lahir lebih cepat."
"Kayaknya Ricka itu nggak betah di dalam perut kelamaan."
"Sepertinya. Padahal kelahiran Ricka sudah disiapkan di Indonesia." Hana tersenyum. Bisa-bisanya Ricka lahir di Milan, di butik Hermes lagi.
"Ricka itu bayi sultan. Lahiran aja harus di butik branded."
"Tapi Lucas, kau harus lihat wajahnya. Ricka itu cantik. Aku tahu aku mamanya dan aku mungkin bereaksi berlebihan. Tapi ia itu cantik banget." Hana memuji Ricka.
Lucas hanya tersenyum. Nanti saat ia melihat Ricka secara langsung, ia akan bisa menilai.
"Mamanya kan cantik. Sudah pasti anaknya cantik." Lucas memuji Hana.
"Terima kasih. Eh. Ricka nangis. Sepertinya ia lapar. Nanti kita telponan lagi." Hana memutuskan panggilan telepon.
Hana menyusui Ricka. "Minum yang banyak, biar Ricka cepat besar."
Richard membuka pakaiannya. Memperlihatkan dadanya yang bidang. Hana melihatnya. Kak, kita bukan suami istri. Aku juga baru lahiran.
Ternyata Richard hendak melakukan skin to skin contact dengan Ricka. Ricka hanya memakai popok saja dan Richard bertelanjang dada. Richard membaringkan Ricka di dadanya. Hal ini katanya bisa meningkatkan bonding antara orang tua dan anak
Hana berada di Milan selama tiga bulan. Menunggu sampai Ricka siap dibawa ke Indonesia.
Selama itu pula Richard melakukan skin to skin contact dengan Ricka.
Akhirnya Ricka pulang ke Indonesia.
Rei dan Rio melihat Ricka. Rei menyentuh tangan Ricka. "Ricka, ini kakak Rei."
Ricka dengan mata tertutup bergerak pelan. Ujung bibirnya menuju ke atas seperti tersenyum.
"Mama, lihat. Ricka senyum sama Rei." Rei ikut tersenyum.