Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 83 Mogok



"Mama ... bangun ..." Rin menggerakkan tangannya di perut Hana. Melihat ibunya yang masih tidur, ia menggelitik ibunya. Hana pun terbangun.


"Geli, Rin." Hana hendak menggelitik perut Rin juga. Tapi ia sudah terkejut duluan saat dirinya hanya mengenakan pakaian dalam. Dan di sebelahnya seorang pria tertelungkup tanpa atasan.


EH? INI MIMPI ATAU KENYATAAN?


Pria itu membalikkan rubuhnya. Pria itu Robert.


"AAAAAKH." Hana mengambil selimut dan menutupi tubuhnya.


"Pagi-pagi sudah ribut." Robert masih ingin tidur lebih lama lagi. Ia menutup matanya lagi.


"YAH! KENAPA KITA BISA TIDUR SATU KAMAR? SATU RANJANG?"


"Kan kamu yang bilang nggak pa pa." Robert berkata dengan nada datar.


"Trus kenapa aku nggak pake baju?"


"Aku yang lepas bajumu."


Hana langsung memukuli tubuh Robert dengan bantal berkali-kali. "Dasar mesum. Otak ngeres."


"Stop." Robert mengambil bantal dari tangan Hana. Ia tak mau dipukuli lagi.


Flashback.


Kemarin Robert datang mengunjungi Hana. "Om Yobek." Rin berlari ke arah Robert.


"Rin tambah tinggi sekarang."


"Iya. Yin minum susu banyak-banyak."


"Ren juga tambah tinggi." Perhatian Robert beralih ke Ren. Robert ingat dulu Ren itu masih kecil sekali. Tetapi sekarang sudah bertumbuh tinggi.


Kedatangan Robert ini juga ingin mengajak Hana jalan-jalan. "Aku bawa Hana jalan." Robert meminta ijin ke Richard.


"Sebelum matahari terbenam bawa Hana pulang," ucap Richard.


"Baik, Bos."


"Ikut." Rin ingin ikut.


"Om nggak punya helm buat anak kecil." Robert rencananya mengajak Hana jalan-jalan dengan motor.


"Beyi."


Rin mengambil dompet mungil di tasnya. Ia mengambil uang 100 dolar, pemberian Alex.


"Rin lebih kaya dari Om."


Akhirnya Rin ikut jalan-jalan. Mereka membeli helm mini buat Rin. Hana sudah memakaikan jaket untuk Rin supaya tidak masuk angin.


Robert membawa Hana dan Rin jauh dari kota. Saatnya hendak pulang tiba-tiba motor Robert mogok. Tidak ada orang atau bengkel di dekat mereka berada. Hanya ada motel.


Matahari hampir terbenam. Hana merasa harus mengabari Richard tapi sinyal hpnya tidak ada.


"Malam ini kita menginap di motel. Hana, kau bawa uang?"


"Aku nggak bawa dompet. Tadi aku pikir kita cuma jalan-jalan sebentar. Kau bawa uang berapa?"


"Nggak bawa uang juga."


"Yin punya uang." Rin menunjukkan dompetnya yang berisi uang kembalian saat membeli helm tadi.


Robert mendorong motornya. Hana menggendong Rin. Mereka bertiga tiba di motel. Hana memesan kamar. Ia hanya bisa menyewa satu kamar karena mereka harus membeli makan malam.


"Nggak pa pa tidur sekamar sama aku?" Robert bertanya karena sekarang Hana sudah jadi istri orang.


"Nggak pa pa. Dulu juga kita sering tidur bersama." Kalau ada uang lebih tentu saja Hana akan menyewa dua kamar.


Mereka masuk ke dalam kamar dan memesan makanan. Hana mencoba mengabari Richard. Tetapi ponselnya masih belum ada sinyal. Hana mencoba memakai telepon di kamarnya. Tetapi sama saja. Tidak bisa tersambung.


Akhirnya mereka tidur. Saat tengah malam tanpa sengaja kulit Robert bersentuhan dengan kulit Hana. Ia bisa merasa tubuh Hana lebih hangat dari biasanya. Robert menyentuh dahinya dan dahi Hana.


Hana demam.


Robert meminta obat penurun panas ke resepsionis. Ia lalu membawanya untuk Hana minum.


Hana melihat sekilas obat itu. "Aku nggak bisa minum obat sembarangan. Aku lagi hamil." Hana tak mau ambil risiko. Ia harus menjaga betul semua yang masuk ke dalam mulutnya. Hana mencoba tidur dengan demamnya. Robert mengecek Hana lagi.


Masih panas.


Robert lalu membuka pakaian luar Hana.


Maafkan aku. Tapi ini satu-satunya cara yang terpikirkan olehku.


Dini hari demam Hana mulai turun. Robert akhirnya bisa tidur tanpa rasa cemas.