Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 121 All You Can Eat



Ronald bersama Rin menjemput Hana dan Ren yang sedang berada di dekat lapangan badminton.


"Tin tin." Ronald menyembunyikan klakson.


Hana dan Ren masuk ke dalam mobil.


"Yen lapay." Ren ingin makan. Lagi.


"Nanti kita makan di rumah." Hana mengambil kotak bekal berisi anggur hijau untuk pengganjal lapar.


"Aku traktir makan," ucap Ronald.


"Apa nggak pa pa? Ren makannya banyak." Hana tak mau Ronald menyesal jika telah mengeluarkan uang banyak untuk mentraktir mereka. Apalagi Ren itu jago makan.


"Ren bisa makan lima piring." Rin ikut nimbrung.


"Sejak film Rin tayang, banyak kerjaan masuk. Anak-anak yang mau jadi aktris juga pada daftar di A+ entertainment karena mau jadi seperti Rin." Perusahaan Ronald sudah mulai untung.


"Dulu aku promo sana, promo sini sampai mulutku berbusa, nggak ada yang mau gabung ke A + entertainment karena nggak ada artis terkenalnya. Sekarang aku tidur aja, bangun-bangun sudah banyak pesan dm mau gabung."


Ronald melanjutkan. "Rin bawa hoki."


Mereka tiba di resto. Ronald memarkirkan mobilnya. Mereka masuk ke restoran. Ronald memperbolehkan mereka makan apa saja.


"Ini resto all you can eat. Bebas mau makan apa. Ren gratis karena tingginya kurang dari semeter." Ronald menjelaskan.


"Ronald, ternyata kau pintar juga," puji Hana.


"Ronald gitu loh."


Ren mengukur tingginya. Belum satu meter. Jadi, ia bebas makan apa aja dan gratis


Ren mengambil cake dan puding. Makanan manis itu nomor satu bagi Ren. Selesai memakan dessert, Ren mengambil mie pangsit ayam. Sepertinya resto all you can eat jadi surganya Ren saat ini. Ia bebas makan yang ia mau.


Rin mengambil ayam goreng. Lalu minuman untuk Hana, Ren dan Ronald. "Mama mau apa?"


"Jus jeruk aja," jawab Hana.


"Yen bisa ambil sendiyi." Ren mulai mengambil sprite yang ia campur cola. Bagaimana rasanya? Author juga tidak pernah mencobanya.


"Om Ronald?" Rin bertanya lagi.


Mereka mulai makan. Tentu saja Ren nambah aneka sushi berada piringnya. Dilanjutkan dengan roti isi selai nanas.


"Mama, Rin mau pesan sostel sama ketel." Rin memberitahu Hana.


"Nanti pulang dari sini Mama buatkan." Hana memang ingin membuat camilan sore yang praktis dan mudah dibuat.


"Bukan. Untuk nanti waktu syuting." Kali ini proyek film yang diambil Rin low budget. Untuk memangkas anggaran, mereka tidak menyediakan makanan untuk kru. Rin berinisiatif untuk membawa camilan.


"Rin mau berapa tusuk?" Hana harus menghitung berapa banyak bahan yang akan ia beli.


"Seratus tusuk." Ada banyak kru film serta aktor dan aktris.


Hana mulai berkalkulasi.


100 butir telur x 2.000 \= 200.000


Sosis 4 toples x 20.000 \= 80.000


Tusuk sate : gratis (masih ada sisa dari enterprenuer day)


Bumbu-bumbu : gratis (ambil dari dapur)


"Yen nanti bantu Mama." Ren mau membantu Hana.


"Bantu bikin atau bantu makan?" Hana menyindir Ren.


Ren tersenyum lebar. Tentu saja bantu makan. Ren sudah membayangkan banyaknya sostel yang akan ia makan.


"Syutingnya kapan?" Hana bertanya.


Ronald melihat agendanya. "Minggu depan."


"Kalau beli sekarang nanti telurnya bisa busuk." Hana menulis di ponselnya tanggal membeli bahan-bahan supaya tidak lupa.


Puas makan, mereka pulang ke rumah.


"Om Yonald seying-seying tyaktir Yen, ya. Yen sayang Om Yonald." Ren menunjukkan triple heartnya. Mulai dari finger heart, hati dengan kedua jarinya sampai hati besar dengan menaruh kedua tangannya di atas kepalanya.


"Iya." Ronald lalu pamit pulang.