Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 8 Married Life



Di rumah Lukman dan Lucy ...


Rei dan Rio tidak sabar menunggu papa dan mama mereka.


“Mama, kok nggak datang-datang, ya, Nek?” Rei melihat jam dinding. Papa dan mamanya datang agak terlambat dari yang seharusnya. Seharusnya mereka sudah datang sekarang.


“Mungkin jalanan lagi macet. Kita tunggu sebentar lagi.” Lucy beralasan.


Tak lama kemudian Hana dan Lucas datang sambil bergandengan tangan. Rei dan Rio berlari menyambut mereka.


“Mama ...” Rei menyambut Hana.


“Papa ...” Rio menyambut Lucas.


Mereka merasa lega karena papa dan mama mereka selamat. Padahal mereka sempat cemas, mereka akan kehilangan kedua orang tua dan menjadi anak yatim piatu.


“Rei ... Rio ... Mama kangen.”


Rei dan Rio terkejut. Sejak kematian Ryu, Hana sudah jarang atau bahkan tidak pernah menyebut mereka. Rei dan Rio saling berpandangan.


“Rei dan Rio juga kangen mama.” Mereka bertiga saling berpelukan. Mereka seperti menemukan mama mereka kembali.


“Nggak kangen Papa?” Lucas iri melihat mereka saling berpelukan.


“Rei dan Rio juga kangen Papa.” Rei dan Rio memeluk ayah mereka.


Lukman dan Lucy juga saling berpandangan. Sepertinya Lucas berhasil menyadarkan Hana. Lucas lalu memberitahu ayah dan ibunya kalau Hana sudah menerima lamarannya. Lucy dan Lukman ikut senang. Mereka memang berharap Lucas dan Hana bisa menikah.


“Ma ... Pa ... Lucas dan Hana akan menikah.” Lucas memberitahu papa dan mamanya. Tangannya menggenggam erat tangan Hana.


“Apa kalian akan mengadakan pesta?”


“Tidak ... Kami tidak mengadakan pesta.”


Baik Lukman dan Lucy tahu. Mereka baru saja berkabung. Walaupun mereka ingin mengadakan pesta yang meriah.


“Hana ... Papa dan mamamu?”


“Ibu saya sudah meninggal sejak saya remaja. Sedangkan ayah ...” Hana ragu untuk menceritakan hal yang sebenarnya.


“Ayah ...” Hana memandang Rei dan Rio. Mereka masih terlalu kecil untuk mendengar cerita yang sesungguhnya.


“Rei ... Rio ... Main sama papa.” Lucas mengajak Rei dan Rio untuk pindah ruangan. Lucas sudah tahu apa yang terjadi antara Hana dan ayahnya.


Hana lalu menceritakan kejadian yang sebenarnya.


“Hana ... Apa jangan-jangan kamu anak keluarga Budiman?” Lucy bertanya dengan ragu-ragu.


Hana menganggukkan kepalanya.


Lucy pernah mendengar rumor kalau anak perempuan Budiman diusir dari rumah. Dan ternyata anak Budiman itu ibu dari cucu-cucunya.


“Seandainya Mama tahu lebih awal. Mama akan bawa kamu tinggal di sini, Hana. Mama akan membicarakannya baik-baik dengan ayahmu. Mama akan membawa Lucas untuk meminta maaf.”


“Semua sudah masa lalu, Ma. Hana sudah move on dari hal itu. Sekarang Hana sudah tidak sendirian lagi. Hana punya mama. Hana punya papa.” Hana bersyukur mertuanya orang yang baik. Kelewat baik malah.


Lucas dan Hana mendaftarkan pernikahan mereka di catatan sipil. Lucas juga mengurus surat-surat Rei dan Rio. Sekarang ada nama Hana, Rei dan Rio di kartu keluarga Lucas. Lucas sudah resmi menjadi ayah bagi anak-anaknya.


Hana dan Lucas membuat acara sederhana. Lucas memesan satu ruangan private di restoran. Hanya ada dia, Hana, orang tuanya, anak-anaknya dan juga Luke. Hana sudah menyadari kesalahannya dan meminta maaf ke Luke.


“Maafkan aku ...”


Luke memaafkan Hana. Sebenarnya ia juga merasa bersalah. Seharusnya ia menolong Ryu lebih cepat.


“Kakak ipar ... Terima kasih sudah mau menikah dengan kakakku. Aku dulu sempat pikir ia itu gay. Tapi ternyata aku salah.”


“Mama ... Gay itu apa?” Rei berbisik ke telinga Hana.


“Gay itu ...” Hana bingung hendak menjelaskan seperti apa.


Rio mengetik kata gei di google.


“Gei itu artinya ini Rei ...” Rio menunjukkan ponselnya.


“Oh ... Itu ...” Rei menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Tapi sebenarnya ia masih bingung.


Makanan datang. Mereka mulai menyantapnya. Lucas memesan beberapa menu chinese food. Ada fuyunghai, ada mie, ada kakap asam manis dan sayuran lainnya. Lucas melihat putra-putrinya. Wajah mereka terlihat blasteran sama seperti dirinya yang turunan mamanya, tetapi nama mereka nama Jepang, makanan kesukaannya chinese food.


“Ma ... Rei mau adik bayi.”


“Rio juga ...”


“Mau perempuan atau laki-laki?” Lucas bertanya.


“Perempuan,” jawab Rei. Ia ingin mendandani adiknya dengan cantik. Biasanya ia akan mendandani Ryu. Tetapi Ryu sudah tiada dan Rio tidak mau ia dandani.


“Laki-laki.” Rio ingin punya teman bermain game.


“Baiklah ... Papa akan berusaha keras hari ini.” Lucas tersenyum ke Hana.


Hana mencubit keras perut Lucas.


Sakit ...


Di rumah Lucas ...


Hana sudah tidur satu kamar dengan Lucas. Rei dan Rio sengaja menginap di rumah nenek dan kakek mereka. Memberikan waktu untuk papa dan mamanya.


“Hana ... Aku ingin bertemu ayahmu.”


“Kenapa?”


“Aku hendak meminta maaf. Aku harus memberitahu ayahmu bahwa akulah papa dari anak-anakmu. Aku ingin hubunganmu dan ayahmu baik kembali.” Lucas tahu alasan Hana diusir adalah karena dirinya.


“Tapi ... Aku nggak ingin ketemu kak Frans.”


Frans adalah kakak tiri Hana yang ingin meniduri Hana dengan memberinya obat tidur.


“Lucas ... Saat kita di resort, aku bermimpi Ryu datang. Aku juga mendengar suaranya memuji dirimu ‘Papa hebat, ya, Ma.’”


Air mata Hana menetes lagi. Tapi kali ini air mata keiklasan bahwa Ryu telah tiada. Bahwa Ryu sudah kembali ke sang pencipta.


Lucas mendekati Hana. Tangannya menyentuh lembut wajah Hana. Bibirnya mendekati bibir Hana. Hana menutup matanya. Menikmati ciuman dari Lucas.


“Hana ... I love you ...”


“I love you too ...”


...🌼🌼🌼...


Luke datang berkunjung.


“Papa Luke.” Rei mendekati Luke.


“Rei.” Luke langsung menggendong Rei.


Lucas mendengar anak-anaknya masih menyebut Luke sebagi papa. Bisa dibilang itu salahnya sendiri. Ia yang menyuruh Luke untuk berpura-pura menjadi papa bagi anak-anaknya. Senjata makan tuan.


“Papa Luke ... Rio baru aja selesai buat game.” Rio pamer lagi.


Kali ini game yang Rio buat game racing. Mobil-mobil akan bertanding. Rio menambah item-item. Siapa yang tak ingin mobil dalam gamenya bisa bergerak lebih cepat atau punya tampilan luar yang menarik.


Luke mencoba game buatan Rio.


“Wow ... Rio. Gamenya menarik.” Luke memberi dua jempol untuk Rio.


Lucas tidak terlalu tertarik dengan dunia game. Ia lebih suka dengan hal-hal yang berhubungan dengan dunia kedokteran. Berbeda dengan Luke. Sejak remaja ia lebih sering menghabiskan waktunya bermain game. Sedangkan Lucas menghabiskan waktunya untuk belajar dan belajar.


Bila Lucy sangat kesulitan menyuruh Luke remaja untuk belajar, berbeda dengan Lucas, Lucy malah kawatir karena Lucas terlalu banyak belajar.


“Papa Luke ... Rei baru aja bikin ini.” Rei memberi Luke cookies buatannya. Luke mencobanya.


“Nggak enak.” Luke pura-pura muntah.


Rei menunjukkan ekspresi muram.


“Tapi sangat enak.” Luke memuji cookies buatan Rei.


Ekspresi senang terlihat di wajah Rei.