Mommy ... I Want Daddy

Mommy ... I Want Daddy
Bab 100 Permintaan Terakhir Luke



Lucas dan Rin keluar dari ruang audisi. Lucas menangis tersedu-sedu. "Hiks ... Hiks ... Hiks ..."


Rin yang melihat ayahnya menangis ikut-ikutan menangis. Malah sampai keluar air mata.


”Rin lolos?" Hana bertanya.


Lucas hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Berarti Rin nggak lolos. Kemarin ngatain aku cengeng. Sekarang malah kamu yang cengeng.


Hana berusaha menghibur Lucas. "Jangan bersedih. Rin masih kecil. Ia juga bisa ikut audisi lainnya. Anggap aja ini latihan."


Hana tidak pernah melihat sosok Lucas yang seperti ini. Karena hal sepele ia menangis sama seperti saat Lucas tidak mampu menyelamatkan pasiennya.


Hana memeluk Lucas untuk menenangkannya.


Lucas lalu tertawa terbahak-bahak seperti orang gila. "Ha ... Ha ... Ha ..."


Hana bingung. Lucas kesambet setan?


Lucas masih tertawa. "Mama ketipu Rin."


Rin ikut-ikutan tertawa. Hana bingung. Tapi akhirnya ia sadar ia telah dibohongi.


Kesal! Kesal! Eh!? Ini artinya Rin lolos?


"Rin lolos?" Hana bertanya kembali.


"Tentu saja. Anak siapa dulu," ucap Lucas.


"Anak Papa." Rin menjawab.


Mereka bertiga saling berpegangan tangan membentuk lingkaran dan berputar kegirangan.


Hana memberitahu Lucy. "Ma, Rin lolos audisi. Rin terpilih jadi Marie."


Lucy ikut senang. "Tapi Hana, jangan terlalu senang dulu. Sebelum Rin benar-benar syuting filmnya, masih ada kemungkinan casting pemain bisa berubah walaupun Rin sudah terpilih. Rin bisa diganti sewaktu-waktu. Jangan digembor-gemborkan dulu berita terpilihnya Rin." Lucy takut jika Hana kecewa jika Rin diganti pemeran lain.


"Baik, Ma." Hana mendengarkan nasehat Lucy. Lucy yang sudah berumur, banyak makan asam garam kehidupan tentu banyak hal yang bisa dipelajari dari Lucy.


Ekspresi Lucas terlihat sangat bahagia. Bagaimana tidak. Rin yang masih kecil bisa mengalahkan banyak pesaingnya.


"Aku juga."


"Ada satu hal lagi. Kemungkinan aku akan berhenti jadi dokter dan menjadi manajer Rin."


"Kau serius?" Hana terkejut.


"Kau lebih senang punya suami dokter?"


"Bukan seperti itu. Kau sudah belajar susah payah untuk menjadi dokter yang andal. Kau mau merelakannya demi Rin?"


"Awalnya ini permintaan Luke." Lucas mengingat kembali saat-saat Luke menunggu hari kematiannya.


Flashback.


Lucas sedang memasang selang infus ke tangan Luke. Luke yang terbaring lemah menatap Lucas. "Kak ..."


Lucas tahu jika ia dipanggil "kakak" itu berarti ada sesuatu. Lucas mendengarkan Luke.


"Kak, aku punya satu permintaan. Jika Rin ingin mengejar karir sebagai aktris, bantu dia."


"Kita bisa meminta manajer untuk menjaga Rin," ucap Lucas. Menurut Lucas lebih baik jika karir Rin ditangani oleh seorang profesional daripada dirinya yang tak tahu apa-apa tentang dunia hiburan.


Luke melanjutkan. "Tidak. Aku takut jika Rin akan dieksploitasi. Aku ingin Rin tetap bisa menikmati masa kecilnya, masa remajanya seperti anak-anak yang lain."


Lucas menjawab. "Untuk sekarang aku tidak bisa menjawab 'ya'. Tapi aku akan selalu berusaha untuk mendukung Rin apa yang ia ingin lakukan asalkan itu hal yang positif."


"Terima kasih, Kak. Aku senang bisa terlahir sebagai adik Kakak."


"Bukannya dulu kau selalu ingin terlahir lebih dulu." Lucas masih ingat saat mereka kecil saat Luke tidak mau memanggilnya dengan sebutan kakak hanya karena kelahirannya terlambat beberapa menit dari Lucas.


Luke tersenyum lemah. Lucas ikut tersenyum.


Flashback end.


"Awalnya memang permintaan Luke. Tetapi setelah aku melihat akting Rin tadi, entah kenapa aku terasa tersihir. Aku sempat menangis di ruang audisi saat Rin melakukan adegan sedih. Begitu juga juri," ujar Lucas.


Lucas menatap Hana. "Hana, Rin itu terlahir untuk menjadi seorang aktris."